jika politik adalah sesuatu yang abu-abu
yang menjadi senjata para penguasa
yang menjadi sindikat pengejar harta dunia
maka aku bukanlah itu
Namun jika politik adalah pembelaan & perjuangan
yang membangunkan keberanian retorika
dan lantang meneriakkan keadilan
maka aku adalah politikus itu

Jika demokrasi adalah belenggu penjajahan
diramaikan oleh tangan-tangan gila jabatan
disetir untuk mengubur kepribadian anak bangsa
maka itu bukan tempatnya
Namun jika demokrasi adalah sebuah peluru pembebas
yang pengusungnya adalah teladan sejati
dan ideologinya menembus keangkuhan parlemen
maka itu adalah kendaraannya..

Rabu, 28 Oktober 2009

Dayat: Berubah Sejak Kenal PKS


Setiap orang pasti punya ‘mimpi’ dalam hidupnya. Mimpi mempunyai kekuatan inspiratif yang mampu menghantarkan seseorang pada kesejatian hidupnya. Mimpi acap kali memberikan aura positif guna melakukan improvisasi hidup. Karena dengan mimpi seseorang mampu melabuhkan harapan menjadi kenyataan.
Berawal dari sebuah mimpi untuk merubah nasib hidup, seorang pemuda desa berani melangkahkan kakinya di ranah rantau. Sejak lulus dari sekolah menengah pertama, pemuda itu ‘nekat’ mencari nafkah meninggalkan keluarganya yang hidup dalam kesederhanaan. Ialah Rahmat Hidayat yang akrab dipanggil Dayat.

Sejak 1989, pemuda kelahiran Cianjur ini mulai menapakkan kakinya di Cilegon, salah satu kota kecil di Provinsi Banten. Di Cilegon ia berharap ada secercah harapan yang bisa mengubah jalan hidupnya menjadi lebih baik. Sejak pertama kali menginjakkan kakinya di tanah jawara itu, Dayat tak tau entah apa yang harus diperbuat. Ia datang tanpa tujuan, berjalan tanpa arah, hanya semangat yang tersisa dalam jiwanya.

Kurang lebih satu minggu hilir mudik tanpa tujuan pasti, tidur berpindah-pindah dari satu trotoar ke trotoar lain, akhirnya ia bertemu dengan seorang Madura baik hati yang mengajaknya bekerja sebagai pengrajin kayu. Dari pekerjaan itulah, setapak demi setapak, Dayat mulai menata kisah hidupnya.

Profesi sebagai tukang kayu dilakoninya dengan tekun. Namun, kebiasaan buruknya sebagai pemuda kampung berandalan belum-lah berubah. Penghasilannya yang pas-pasan hanya dijajakan demi seonggok botol minuman keras dan dihamburkan di atas meja judi. Bahkan sesekali ia pernah kecanduan obat terlarang.

Pekerjaan sebagai tukang kayu ia lakoni selama enam tahun. Setelah itu, ia pindah ke Serang bekerja secara serabutan, apa saja ia kerjakan - mulai dari sopir angkot hingga jualan tas - demi sesuap nasi dan memenuhi kebutuhan liarnya. Di serang, Dayat juga tak kunjung mampu merubah kebiasaan buruknya menenggak minuman haram dan menggilai obat terlarang.

“Kebiasaan buruk itu terus menerus saya lakukan tanpa kontrol dari siapapun. Saat itu saya jauh dari agama, jiwa saya kosong. Saya pasrah saja dengan irama hidup yang saya jalani,” katanya seraya mengenang perilaku buruknya itu.

Meski bekerja serabutan, pundi-pundi keuangannya mulai bertambah. Perilakunya yang berandalan, tak mampu menyurutkan niatnya untuk melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi. Tahun 1995 ia masuk Madrasah Aliyah (MA), sekolah menengah atas sederajat SMU. Meski dengan nilai empot-empotan, akhirnya ia lulus juga.

Ternyata tingkat pendidikan tidak membuat perilaku dan kedewasaannya berubah. Bahkan setelah lulus MA, kebiasaan buruknya makin menggila. Dari segi penampilan ia layaknya anak Punk dengan gaya rambut jabrik, bibir dan hidung ditindik anting, dan segala assesoris lengket di sekujur tubuhnya. Tak hanya itu, kebiasaan minum alkohol pun kian menjadi.

Di penghujung tahung 2000, ia berkenalan dengan seorang primadona kampung Suka Menah kecamatan Baros, Dede Winingsih. Lewat perkenalan singkatnya, dengan modal uang 150 ribu Dayat memberanikan diri melamar kembang desa idaman hatinya itu. Dari perkawinan itu dia dianugerahi dua anak; Inayah dan Sandi.

Setelah menikah Dayat tak kunjung menemukan hidayah, hidupnya kian luntang lantung, pekerjaannya semakin tidak jelas. Sampai suatu ketika, ia bertemu dengan seorang tokoh kharismatik Mustofa Idris, aktivis partai dakwah, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang rela membimbingnya untuk kembali ke jalan yang benar.

Pak Mus, demikian sapaan akrabnya, dengan sabar membimbing Dayat untuk terus kembali ke jalan Allah. Tiada kenal lelah, ketua Cabang Dakwah (KCD) dapil 3 Kabupaten Serang itu terus membimbingnya untuk kembali menjalankan ajaran agama.

“Sejak saat itulah, saya mulai shalat, ngaji, puasa dan meninggalkan kebiasaan buruk lainnya. Saya banyak berhutang kepada Pak Mustofa, ia begitu sabar membimbing saya,” tuturnya haru.

Sejak perkenalannya dengan Pak Mus, Dayat mulai rajin datang ke Masjid, rutin mengikuti pengajian di PKS (liqa’). Perjumpaannya dengan Pak Mus serta sejumlah aktifitasnya di PKS kian merubah jalan hidupnya. Seolah Allah sudah memberikan keajaiban pada bapak dua anak ini.

Dayat mengaku, sejak sering ikut pengajian hidupnya mulai terarah dan Allah selalu memudahkan segala urusannya. Sejak saat itulah, dengan biaya pas-pasan Dayat membuka usaha sablon kecil-kecilan dengan merekrut 6 anak yatim sebagai partner kerjanya. Baginya, keterbatasan ekonomi tak menyusutkan niatnya untuk berbuat maslahat kepada orang lain.

“Di lingkungan saya tinggal, banyak anak yatim dan fakir miskin yang terlantar. Saya terenyuh melihat mereka. Dengan segala keterbatasan yang ada, saya ajak mereka untuk usaha kecil-kecilan, meski terkadang dalam sehari kita hanya dapat uang 40 ribu dibagi enam,” terang pria berkulit putih ini.

Meski hidup dalam kondisi sederhana, Dayat masih mempu menafkahi semua kebutuhan keluarganya. Ia tak pernah mengeluh dengan kondisinya itu. “Saya bersyukur karena Allah telah memberikan nikmat iman kepada saya. Ini lebih dari segalanya,” tegasnya.

Ternyata nilai agama sudah menancap dalam kalbu pria berumur 34 tahun itu. Dia sudah mantap dengan keimanannya. Lewat perkenalannya dengan Bang Zul dalam pemilu legislatif lalu, ia diamanahi satu angkot sebagai modal untuk mencari nafkah. Saat ini, angkot menjadi amunisi utama Dayat dan keluarganya dalam menghasilkan nafkah.

Empat bulan keseharian Dayat dilalui bersama angkot. Dari pekerjaan ini ia bisa menata ekonomi keluarganya lebih baik, mengembangkan sablon bahkan menyisihkan sebagian penghasilannya ke Partai PKS di kecamatan Baros untuk kepentingan dakwah. Begitulah kisah singkat kehidupan Dayat. Dari pengangguran berandal, tukang kayu hingga ke sopir angkot. Terakhir ia berkeinginan menjadi juragan angkot di daerah Serang seraya terus mengumandangkan semangat dakwah. (adi)


Sumber: http://www.zulkieflimansyah.com/in/dayat-berubah-sejak-kenal-pks.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar