jika politik adalah sesuatu yang abu-abu
yang menjadi senjata para penguasa
yang menjadi sindikat pengejar harta dunia
maka aku bukanlah itu
Namun jika politik adalah pembelaan & perjuangan
yang membangunkan keberanian retorika
dan lantang meneriakkan keadilan
maka aku adalah politikus itu

Jika demokrasi adalah belenggu penjajahan
diramaikan oleh tangan-tangan gila jabatan
disetir untuk mengubur kepribadian anak bangsa
maka itu bukan tempatnya
Namun jika demokrasi adalah sebuah peluru pembebas
yang pengusungnya adalah teladan sejati
dan ideologinya menembus keangkuhan parlemen
maka itu adalah kendaraannya..

Kamis, 23 Juni 2011

Baru 11 Parpol di Jateng mendaftar verifikasi

Sebanyak 11 partai politik (Parpol) di Jateng telah melakukan verifikasi ke Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbang Polinmas) Jawa Tengah. Kepala Badan Kesbang Polinmas Jateng, Agus Tusono menyatakan sejak dibuka pendaftaran verfikasi pada 24 Januari 2011 belum semua Parpol mendaftar.
“Sampai sekarang tercatat sebanyak 11 Parpol yang telah melakukan verifikasi,” katanya kepada wartawan di Semarang, Kamis (23/6/2011). Padahal sesuai dengan jumlah Parpol peserta Pemilu 2009 di Jateng sebanyak 38 partai.

Sedangkan 11 Parpol yang telah melakukan verifikasi-masing Partai Golkar, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Demokrat (PD), Partai Demokrasi Indonesia Perjuangaan (PDIP), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Gerindra, Partai Hanura, PKPB, PKPI dan Partai Nasdem. “Parpol yang telah mendaftar ini telah dinyatakan lolos verfikasi Kesbang Polinmas Jateng,” ujar Agus.

Cahyadi Takariawan : Berdakwahlah Dengan Halus, Lembut, dan Kasih Sayang

Maraknya berbagai gerakan/organisasi dakwah di bumi pertiwi sejatinya adalah sebuah berkah. Bangsa ini memiliki bermacam organisasi dakwah bahkan sebelum Indonesia merdeka. Di zaman reformasi, setelah sebelumnya dibungkam oleh orde baru, dakwah Islam menemukan kebebasannya beraktifitas dan berbicara.

Tapi sayang, tumbuhnya organisasi-organisasi dakwah ini malah membuat beberapa umat Islam menjadi phobia sendiri. Di satu sisi, ada musuh-musuh Islam yang tak henti menyebar hasutan dan mendemarketisasi gerakan-gerakan dakwah. Di sisi lain, aksi kekerasan yang diperlihatkan beberapa elemen umat Islam membuat umat Islam yang awam menjadi takut, marah, dan malah memusuhi kelompok tersebut.

"Menebarkan kebencian", itu adalah stempel dari musuh Islam kepada dakwah. Tapi sesungguhnya umat ini memang menemukan adanya du'at yang aktifitasnya membuat resah umat yang awam. Mereka memberlakukan hajr (boikot) kepada saudara semuslim, bahkan sampai melakukan kekerasan fisik dan keonaran. Mungkin kah karena tuntutan Nahi Mungkar yang harus tegas, sehingga sikap du'at seperti itu tak bisa disalahkan?

Sebenarnya adakah ruang berlaku lemah lembut dalam dakwah? Mengingat firman Allah dalam Ali Imran 159: "Maka disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu ...."

Isra Mikraj dan pembangunan karakter

Peristiwa yang penuh muatan keajaiban yang dialami Nabi Muhammad SAW, yaitu Isra Mikraj, akan diperingati umat Islam di seluruh dunia. Peristiwa ini mengandung pesan istimewa, besar dan penting. Isra Mikraj mengandung makna sangat fundamental terkait upaya pembentukan karakter manusia.
Pada peristiwa inilah perintah untuk mendirikan ibadah salat disampaikan oleh Tuhan secara langsung kepada utusan-Nya. Tidak berlebihan bila peristiwa ini selalu diidentikkan dengan ibadah salat. Momen Isra Mikaj adalah momen sejarah kelahiran perintah shalat.

Ibadah salat adalah bentuk peribadahan utama yang sangat fundamental dalam sistem ajaran Islam. Kedudukannya sebagai rukun kedua dari lima rukun Islam menegaskan hal ini. Kedudukan ini semakin terasa makna pentingnya karena ibadah salat sejak awal dirancang sebagai media ibadah dengan tujuan memperbaiki kualitas akhlak atau karakter manusia.

Pembangunan karakter atau akhlak inilah motivasi diutusnya semua nabi oleh Tuhan kepada umat manusia. Terkait dengan isu pembangunan karakter manusia Indonesia yang saat ini secara intensif sedang dikampanyekan oleh pemerintah, sejatinya dari momentum Isra Mikraj ini umat Islam bisa memetik banyak pelajaran dan hikmah.

PKS: Dubes dari PKS Selamatkan Banyak TKI dari Hukuman Mati

Hukuman mati yang diterima Ruyati binti Satubi (18/6) menjadi tamparan bagi pemerintah RI. Kasus besar ini segera menjadi perhatian publik, termasuk fraksi DPR RI PKS.

Fraksi PKS merasa perlu mencontohkan prestasi dubes PKS yang berjasa menyelamatkan banyak TKI di Saudi pada dua periode sebelum kasus Ruyati, agar kasus serupa tidak terulang. "Waktu kader PKS ust @salimsegaf aljufri jadi Dubes di Saudi 2 periode, banyak nyawa diselamatkan dari hukuman mati," demikian melalui twitter seperti di-retweet sekretaris DPD PKS kota Makassar Muzakkir Ali Djamil.

Djamil juga menyayangkan tidak ampuhnya proses diplomasi Pemerintah Indonesia di Arab Saudi, hingga menyebabkan tingginya tenaga kerja Indonesia yang dihukum pancung oleh otoritas kerajaan Arab Saudi.

Lukisan Kehidupan

Oleh: Abdullah Haidir

Kita tentu pernah melihat sebuah lukisan yang indah, katakanlah tentang lukisan sebuah pemandangan. Sering kita terkesima dan terpana dengan lukisan seperti itu, komentar-komentar takjub dan apresiasi positif reflek terlontar dari mulut-mulut kita.

Tapi yang patut kita sadari adalah bahwa sesungguhnya yang membuat menarik bukan sekedar pemandangannya, tetapi kemampuan orang yang melukiskannya. Dengan objek pemandangan yang sama, jika dilukis oleh orang yang bukan ahlinya, tentu akan berbeda pula sikap dan apresiasi kita terhadap lukisan tersebut.

Kehidupan kita ini, pada dasarnya merupakan ‘pemandangan’ yang akan terekam bak sebuah lukisan. Bolehlah hal tersebut kita katakan sebagai ‘Lukisan Kehidupan’. Dan kitalah yang telah Allah tetapkan untuk menjadi pelukis bagi kehidupan kita sendiri. Maka, langkah kaki, lenggang tangan, lidah yang terucap, sejurus pandangan mata, pendengaran telinga dan gerak semua organ tubuh kita, tak ubahnya bagaikan kuas yang sedang menari-nari di atas kanvas kehidupan. Itulah arti dari hari-hari yang kita lalui dalam kehidupan ini.