jika politik adalah sesuatu yang abu-abu
yang menjadi senjata para penguasa
yang menjadi sindikat pengejar harta dunia
maka aku bukanlah itu
Namun jika politik adalah pembelaan & perjuangan
yang membangunkan keberanian retorika
dan lantang meneriakkan keadilan
maka aku adalah politikus itu

Jika demokrasi adalah belenggu penjajahan
diramaikan oleh tangan-tangan gila jabatan
disetir untuk mengubur kepribadian anak bangsa
maka itu bukan tempatnya
Namun jika demokrasi adalah sebuah peluru pembebas
yang pengusungnya adalah teladan sejati
dan ideologinya menembus keangkuhan parlemen
maka itu adalah kendaraannya..

Rabu, 03 April 2013

Mungkinkah Giliran PKS?

Oleh : Lutfi Rachman
Aktif di LENGKAP (Lembaga Pengembangan dan Kajian Politik)

***

Menarik jika menilik sejarah pemilu Indonesia di era reformasi, diantaranya adalah fakta bahwa dari tiga kali penyelenggaraan pemilu ketiganya selalu melahirkan juara baru, pemenang pemilu 1999 PDIP (33,74%), pemilu 2004 Partai Golkar (21,58%), pemilu 2009 Partai Demokrat (20,85%).

Maka pemilu 2014 sangat menarik untuk ditunggu apakah ia akan melahirkan lagi juara baru, atau untuk pertama kalinya dalam sejarah pemilu di era reformasi akan ada partai yang memenangkannya untuk kedua kali atau bahkan Demokrat bisa mengulang kesuksesan menjadi juara bertahan?

Dengan analisa yang sederhana sebenarnya kita bisa melihat kemungkinan mana yang akan terjadi di pemilu 2014. Diantara yang mudah untuk dilihat adalah kemungkinan yang terakhir sepertinya sulit untuk terjadi, dengan seabreg kasus korupsi yang melilit kader-kadernya hingga penetapan Anas Urbaningrum sang ketua umum saat itu sebagai tersangka oleh KPK berlanjut dengan prahara rumah tangga yang seolah mengobrak abrik bangunan Demokrat sebagai partai pemenang, rasanya sulit dibayangkan dengan cara apa demokrat harus mengatrol suara.

Dari ketiga partai yang pernah memenangkan pemilu legislatif di era reformasi, presentase kemenangan partai Demokrat paling sedikit yakni hanya 20,85% dibanding PG 21,58% dan PDIP 33,74%. Kemenangan di 2004 itu pun disinyalir lebih karena pesona Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang pada tahun 2014 nanti akan berakhir masa jabatannya sebagai presiden RI dan tak mungkin mencalonkan lagi, tragisnya popularitas pemerintahannya memperlihatkan trend menurun akibat beberapa kebijakan yang dianggap kontroversial serta teka-teki Century yang suka tidak suka telah menyerempet penghuni istana, dengan kondisi seperti itu rasanya Demokrat butuh banyak keajaiban untuk kembali menang.

Apakah mungkin diantara PDIP dan PG bisa menjadi pemenang untuk yang kedua kalinya?

Hal itu mungkin terjadi jika dua syarat ini terpenuhi, pertama, jika PDIP dan PG begitu mempesona rakyat Indonesia sehingg berhasil melonjakan suara sedikitnya 7% saja. Dari 14,45% suara di pemilu 2004 PG bisa jadi 21,45% suara di pemilu 2014, dan PDIP dari 14,03% suara pemilu 2009 menjadi 21,03% di pemilu 2014 yang itu berarti sedikit melampaui suara pemenang pemilu 2009 PD (20,85%). Tetapi untuk memenuhi syarat pertama ini saja bukanlah pekerjaan yang mudah mengingat di tiga pemilu era reformasi kedua partai ini malah memperlihatkan trend menurun.

Lihatlah PDIP dari posisi juara pertama di pemilu 1999, periode pemilu berikutnya langsung menurun tajam tinggal 18,53% saja dan di pemilu 2009 hanya tersisa 14,03%. Demikian pula dengan PG di pemilu 1999 dia memperoleh 22,44%, pada pemilu berikutnya tahun 2004 meskipun saat itu dinobatkan sebagai pemenang tetapi sesungguhnya PG mengalami penurunan suara, tinggal 21,58% yang masih memilihnya, dan di pemilu 2009 turun lagi menjadi tinggal 14,45% saja. Sekali lagi jangankan menaikkan 7%, sekedar mempertahankan suara saja, sulitnya luar biasa.

Kedua, PDIP dan PG mungkin saja memenangkan pemilu 2014 jika PD benar-benar dihukum rakyat Indonesia dan suaranya merosot hingga 8% dan begitu buruknya partai-partai lain di luar the big three sehingga tak jua mampu memanfaatkan kekecewaan yang telah nampak di tiga pemilu terhadap tiga partai besar ini sehingga suaranya tak jua melonjak, dan PDIP serta PG cukup mempertahankan suaranya saja.

Lalu bagaimana terhadap kemungkinan munculnya juara baru di 2014?

Dari sederet partai peserta pemilu yang menguntit dibawah the big three, seharusnya pemilu 2014 adalah milik peringkat ke empat yakni PKS, tapi bisakah PKS meraihnya? Mari kita lihat kemungkinannya.

Pertama, dari sisi kemampuan melonjakan suara. Dari semua partai peserta pemilu di era reformasi, hanya ada tiga partai besar yang mampu melonjakkan suara secara luar biasa, yang pertama PDIP dari posisi nothing di pemilu terakhir era orde baru, langsung melejit menjadi pemenang dengan 33,74%, tapi siapapun tahu bahwa kemanangan PDIP ini lebih diakibatkan, “maaf” keajaiban cinderella dengan Megawati Soekarno Putri sebagai Cinderella nya, terbukti di pemilu berikutnya suara PDIP langsung rontok kembali. Partai kedua adalah Partai Demokrat, hanya butuh dua kali pemilu bagi mereka untuk menjadi pemenang, pada awal kesertaannya di pemilu 2004 PD langsung menyedot 10,36% suara pencapaian yang luar biasa untuk partai yang baru pertama kali muncul, dan pada pemilu berikutnya dia berhasil melipatgandakannya menjadi 20, 85% suara.

Partai ketiga yang mampu melakukannya ya PKS, tidak lolos ET di pemilu pertama yang mereka ikuti tahun 1999 saat mereka hanya memperoleh 1,36% suara, PK yang kemudian berubah menjadi PKS langsung mendobrak dengan kenaikan suara 600% menjadi 7,34% Pada pemilu berikutnya di 2004, sayangnya pada pemilu 2009 suara PKS stagnan di 7,88%.

Maka jika melihat histori perolehan suara seperti ini, PKS masihlah menyimpan beberapa misteri yang membuat partai-partai lain tak kan nyenyak tidur bersaing dengan PKS. Benar bahwa pada pemilu ke tiga suara PKS stagnan di 7,88% tetapi siapapun mengetahui bahwa PKS masih menyimpan kekuatan besar yang sulit ditandingi partai manapun, yakni kekuatan pengkaderan yang nyaris tak mampu dilakukan partai manapun. Jika seiring waktu PKS terus menerus mengokohkan pengkaderannya maka infrastruktur partai ini akan semakin lengkap merata, dan jika sudah demikian bisa dipastikan tak ada amunisi politik yang mampu mengalahkan jaringan kader yang tertata dengan baik. Sebagian partai bertumpu pada citra media untuk melonjakan suara, tapi hal tersebut bisa lemah saja jika menemui jaringan kader yang mengakar di masyarakat, demikian pula dengan amunisi money politics atau negatif campaign dan memainkan kecurangan pemilu, diyakini akan terkulai lemah menghadapi jaringan sadar kader PKS.

Faktor kedua, biasanya kemenangan pemilu legislatif selalu berhubungan dengan isu besar tingkat nasional yang mencuri perhatian publik, baik itu berhubungan dengan figur besar atau peristiwa besar, persis seperti yang terjadi pada kemenangan PDIP lewat figur Megawati di pemilu 1999, kemunculan Golkar Barunya Akbar Tanjung dan konvensi capres PG yang mencuri perhatian publik di 2004 dan SBY sang Presiden flamboyan dengan program BLT nya yang semakin dicintai rakyat hingga mengerek Demokrat sebagai pemenang di 2009.

Adakah sesuatu yang menyedot perhatian publik pada PKS menjelang 2014 ini? Saya yakin anda tersenyum seperti saya, drama penangkapan mantan presiden PKS LHI yang super cepat, kemunculan Presiden baru bernama Anis Matta bak Soekarno katanya, dan gencarnya KPK menggali begitu dalam borok PKS dari suap impor sapi-pencucian uang-sampai urusan AD-ART PKS sepertinya menjadi tema yang paling hot untuk seluruh media di Indonesia, dan saya kira semakin seru dramanya, akan semakin menaikan rating PKS di 2014.

Jadi apakah PKS akan memenangkan pemilu legislatif 2014?

#salam 3 BESAR ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar