jika politik adalah sesuatu yang abu-abu
yang menjadi senjata para penguasa
yang menjadi sindikat pengejar harta dunia
maka aku bukanlah itu
Namun jika politik adalah pembelaan & perjuangan
yang membangunkan keberanian retorika
dan lantang meneriakkan keadilan
maka aku adalah politikus itu

Jika demokrasi adalah belenggu penjajahan
diramaikan oleh tangan-tangan gila jabatan
disetir untuk mengubur kepribadian anak bangsa
maka itu bukan tempatnya
Namun jika demokrasi adalah sebuah peluru pembebas
yang pengusungnya adalah teladan sejati
dan ideologinya menembus keangkuhan parlemen
maka itu adalah kendaraannya..

Selasa, 07 Juni 2011

Kegiatan Pembinaan PKS Pakistan Untuk WNI Perempuan

Islamabad – Tampak beberapa perempuan dengan gaya berpakaian ala Indonesia memasuki Shifang Restaurant di kawasan Blue Area Islamabad, Pakistan. Mereka adalah WNI perempuan Indonesia di Islamabad dan sekitarnya, yang pada Jum’at 20 Mei 2011 itu menghadiri undangan acara Perempuan Berbagi Cerita yang diselenggarakan oleh PIP PKS Pakistan dalam rangka Milad PKS ke 13.

Antusiasme peserta tampak dengan tepatnya kehadiran mereka. Pukul 16.00 waktu Pakistan sebagian peserta sudah hadir di tempat. Bahkan peserta dari kalangan mahasiswi berkirim sms kepada panitia memberikan kabar keterlambatannya.

”Maaf agak terlambat ya, masih ada kuliah.” Begitu pesan sms yang terkirim dari salah satu mahasiswi IIUI yang turut diundang dalam acara itu.
Panitia yang telah menyiapkan tempat untuk shalat pun akhirnya mempersilakan kepada peserta yang telah hadir untuk menunaikan ibadah shalat Ashar terlebih dahulu. Tampaknya panitia telah memprediksi bahwa acara akan berbenturan dengan waktu shalat, sehingga disiapkan tempat shalat di pojok ruang restauran itu, agar peserta tetap dapat menunaikan kewajiban shalat. Sembari menunggu beberapa peserta yang masih dalam perjalanan, panitia juga memutarkan rekaman ulang liputan PKS TV pada pagelaran Milad di Gelora Bung Karno, Jakarta, 17 April 2011.

Tasmi’ Al Qur’an oleh Gadis Cilik

Pukul 16.50 acara dimulai. Setelah dibacakan susunan acara oleh MC, acara dibuka dengan tasmi’ al Qur’an surat al Fatihah dan at Tiin yang dibawakan oleh ananda Syaiqotul Husna, gadis cilik berusia 6 tahun yang saat ini bersekolah di Madrasah Sudaniyah, Islamabad. Syaiqoh adalah putri seorang mahasiswa Indonesia asal Makasar yang sedang menyelesaikan program magister di International Islamic University Islamabad.

Seusai tasmi’ al Qur’an, MC mempersilakan seluruh hadirin untuk berdiri guna bersama menyenandungkan lagu Indonesia Raya dan dilanjutkan dengan lagu Bekerja untuk Indonesia. Ruangan tampak hening dan syahdu, serasa merebak kerinduan yang mendalam di lubuk-lubuk hati peserta terhadap negeri pertiwi tercinta yang sudah ditinggal dalam kurun beberapa tahun. Terlebih bagi mereka para perempuan Indonesia yang menikah dengan warga negara asing, kerinduan terhadap bumi pertiwi itu tentu begitu terasa.

Dialog Online bersama Anggota DPR RI

Acara yang bertemakan “Mengokohkan Peran Ibu sebagai Pilar Ketahanan Keluarga” itu diisi dengan dialog online bersama ustadzah Herlini Amran, M.A., anggota DPR RI Komisi VIII dan anggota Dewan Syari’ah Pusat PKS. Ibu Herlini yang juga alumni IIUI Pakistan tampak bersemangat menyampaikan makalah tentang ketahanan keluarga.

Dalam makalahnya yang berjudul ‘Keluarga Harmonis Sebagai Pilar Ketahanan Keluarga’ itu ibu Herlini memaparkan 7 aspek ketahanan keluarga, yaitu: Memiliki visi misi dalam berkeluarga, Memiliki konsep musyawarah dan saling terbuka dalam hal apapun, Memiliki konsep syukur dan sabar, Memiliki konsep saling toleransi, Memiliki konsep sikap santun dan bijak, Memiliki konsep pendidikan anak yang sama dengan suami, serta Kuatnya hubungan dengan Allah swt.

Beberapa pertanyaan terlontar dari para peserta, baik mereka yang telah menjadi ibu ataupun para mahasiswi yang merupakan calon ibu. Sehingga meski online, dialog yang dimoderatori oleh Ahyani Billah itu terasa hangat. Terlebih ketika ibu Herlini mendapatkan beberapa pesertanya adalah rekan dan adik kelasnya dahulu semasa kuliah di Pakistan. Seakan acara itu menjadi ajang reunian.


Apresiasi untuk Perempuan Indonesia

Acara itu memang diperuntukkan khusus perempuan Indonesia di Pakistan. Sehingga memiliki kesan tersendiri bagi para perempuan yang hadir untuk kumpul sesama perempuan Indonesia. “Sering-sering adakan acara seperti ini ya, bagus untuk perempuan saja,” demikian ungkap salah satu peserta sebelum meninggalkan tempat acara.

PIP PKS Pakistan memang ingin memberikan apresiasi khusus bagi para perempuan Indonesia. “Berbicara di hadapan para perempuan Indonesia, kami terbayang akan negara dan bangsa besar Indonesia, yang lahir dan tumbuh dari rahim-rahim para perempuan Indonesia. Sebab perempuan adalah madrasah pertama dan utama bagi generasi bangsa. Selain itu, perempuan juga merupakan tiang negara. Di mana pola dan karakter pembangunan bangsa tumbuh dan ditopang,” demikian Ketua PIP PKS Pakistan, Hifni Muzamminil Hasba, mengutarakan apresiasi mendalam terhadap perempuan Indonesia dalam sambutannya.


Setelah dialog online, acara ditutup dengan do’a bersama. Selanjutnya peserta dipersilakan untuk menikmati hidangan Chicken Chowmein. Tepat beberapa saat menjelang adzan Maghrib, para peserta yang merupakan istri diplomat, istri lokal staff, mahasiswi, dan mereka yang menikah dengan warga negara asing itupun pamit satu persatu. Menapakkan langkah di jalanan Islamabad penuh cinta. Cinta membina generasi, cinta membangun negeri.

Semoga acara semacam ini dapat terselenggara kembali. Untuk perempuan Indonesia yang shalih, cerdas, dan berdaya guna. Semua itu sebagai wujud berjuta cinta untuk Indonesia. [AA]

Liputan kiriman email dari: PIP PKS Pakistan ke pkspiyungan@yahoo.co.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar