jika politik adalah sesuatu yang abu-abu
yang menjadi senjata para penguasa
yang menjadi sindikat pengejar harta dunia
maka aku bukanlah itu
Namun jika politik adalah pembelaan & perjuangan
yang membangunkan keberanian retorika
dan lantang meneriakkan keadilan
maka aku adalah politikus itu

Jika demokrasi adalah belenggu penjajahan
diramaikan oleh tangan-tangan gila jabatan
disetir untuk mengubur kepribadian anak bangsa
maka itu bukan tempatnya
Namun jika demokrasi adalah sebuah peluru pembebas
yang pengusungnya adalah teladan sejati
dan ideologinya menembus keangkuhan parlemen
maka itu adalah kendaraannya..

Senin, 18 Februari 2013

Bang Halim Hasibuan, Aleg PKS Batak yang berhasil 'membuka' pedalaman

Mengukur "keanehan" segenap insan di tubuh Partai Keadilan Sejahtera ini seolah tak ada habisnya. Ada saja tindakan, ataupun keputusan-keputusan dalam hidup yang acap dianggap tak lazim bagi sebagian orang. Tak terkecuali dengan Anggota Dewan dari Fraksi PKS di DPRD Kabupaten Bengkalis yang satu ini.
Bang Halim, demikian lelaki bernama lengkap Abdul Halim Hasibuan ini akrab disapa, memilih untuk tetap tinggal di KM. 33 Desa Tasik Serai, Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis. Sebuah daerah pedalaman yang hingga hari ini belum teraliri listrik PLN. Pun dengan akses jalannya apabila musim penghujan tiba, genangan air penuh lumpur sudah menjadi tantangan sehari-hari. Berpuluh kilometer. Membentang. Menyajikan kesulitan bagi siapa saja yang akan pergi keluar dari daerah tersebut menuju kota. Entah untuk berbelanja, berobat, atau apapun keperluannya demi terpenuhinya hajat hidup warga disana.
Kesulitan dan keterbatasan yang dialami masyarakat itulah yang membuat Bang Halim semakin meneguhkan pendiriannya untuk tetap tinggal di daerah tersebut. Seolah kacang yang tak ingin lupa akan kulitnya, segala bentuk keterbatasan dan kesulitan tinggal di daerah pedalaman yang sama ia dapatkan sebelum menjadi Anggota Dewan, tak sedikit pun ingin ia hindari. Justru hal itulah yang semakin menguatkan azzamnya untuk kukuh berjuang. Meningkatkan pengabdian lebih besar lagi kepada masyarakat tempatan. "Saya masih warga pedalaman ini. Apa yang warga rasakan, seperti itu pula dengan saya. Dan memperjuangkannya adalah bagian hidup saya!" demikian katanya.
Berbilang tahun Bang Halim menyusuri jalanan itu. Berkendara sepeda motor mengarungi tanah berlumpur, jatuh bangun, mogok, bahkan acap harus menerobos kelamnya malam di sela rerimbunan. Lagi-lagi hal, itu tak membuatnya mengubah keputusan untuk pindah ke kota meski tawaran akan kemudahan terus berdatangan untuknya.
Jauhnya akses ke Pulau Bengkalis tempat ia bertugas pun menyisakan cerita tersendiri untuknya. Semisal, apabila ada agenda rapat esok pagi pukul 09.00 maka Bang Halim harus berangkat dari rumahnya malam sebelumnya tak boleh kurang dari jam 22.00! Luar biasa.
"Ketidaklaziman" yang diketengahkan Bang Halim bukan tak berdasar. Pria berdarah Batak ini merasa, bahwa amanah dari masyarakat dan PKS yang diembankan kepadanya untuk menjadi Anggota Dewan tak ubahnya harapan akan perubahan bagi para pemukim di pedalaman yang harus ia perjuangkan. Itulah yang membuatnya merasa tak layak apabila harus pergi setelah mendapatkan amanah jabatan sebagai Anggota Dewan.
Hingga pada akhirnya; keteguhan hati, perjuangan, serta mimpi Bang Halim tentang mudahnya akses jalan ke KM. 33 tempat dimana ia tinggal membuahkan hasil. Minggu Pertama bulan Februari 2013 ini, Badan Anggaran DPRD Bengkalis memutuskan alokasi dana sebesar 50 miliar untuk perbaikan Jalan Gajah Mada, jalan poros yang menghubungkan Kota Duri ke pemukimannya. Dan tentu saja, Bang Halim menjadi satu-satunya Anggota Banggar dari Kecamatan Pinggir yang turut andil dalam memperjuangkan keputusan tersebut.

Selamat, Bang!


*Ditulis oleh: @ewahyudie

Tidak ada komentar:

Posting Komentar