jika politik adalah sesuatu yang abu-abu
yang menjadi senjata para penguasa
yang menjadi sindikat pengejar harta dunia
maka aku bukanlah itu
Namun jika politik adalah pembelaan & perjuangan
yang membangunkan keberanian retorika
dan lantang meneriakkan keadilan
maka aku adalah politikus itu

Jika demokrasi adalah belenggu penjajahan
diramaikan oleh tangan-tangan gila jabatan
disetir untuk mengubur kepribadian anak bangsa
maka itu bukan tempatnya
Namun jika demokrasi adalah sebuah peluru pembebas
yang pengusungnya adalah teladan sejati
dan ideologinya menembus keangkuhan parlemen
maka itu adalah kendaraannya..

Minggu, 03 Februari 2013

Simpati Non Muslim untuk PKS yang Terdzolimi

 
Kasus PKS : Bukti Kita Suka Menari Di Atas Duka Orang


Oleh: Stella | Kompasiana *

Pertama saya mau sampaikan, bahwa saya bukan konstituen apalagi kader PKS. Saya juga bukan orang Islam. Saya buat tulisan ini karena saya melihat komentar-komentar yang diarahkan ke PKS sudah mulai tidak proporsional.

Terbongkarnya kasus suap kuota daging impor, yang menyeret Presiden PKS, Lutfi Hassan menjadi tersangka, seperti menyulut sorak sorai cemooh orang-orang di berbagai penjuru negeri. Sejauh  mata saya menyimak, di twitter, facebook, kolom-kolom komentar media online, semua memojokkan PKS, bahkan banyak yang menyrempet agama Islam. Kalimat seperti “dasar tukang kawin, ternyata korupsi juga”, atau “Kader PKS menebar air mata buaya”, dll.  Bahkan nama PKS juga diplesetkan jadi Partai Karapan Sapi, Partai Korupsi Sapi, dll. Berita di media juga berkembang makin memojokkan. Rumah Lutfi Hassan pun dikutik-kutik , seolah-olah rumah ini pasti hasil korupsi : http://news.detik.com/read/2013/02/01/201317/2159186/10/luthfi-hasan-juga-punya-rumah-di-batu-ampar-jaktim?991104topnews

Yang lebih menggelikan lagi, beredarnya bakso celeng juga disalahkan ke Lutfi. Padahal menurut saya sih, orang licik tetap saja licik, inipun sudah berlangsung lama kok. Reportase investigasi bertahun silam pernah bahas bakso daging tikus.

Mengerikan bangsa ini dalam memperlakukan orang. Kita seperti kembali ke jaman kehidupan Isa Al Masih, dimana janda yang dituduh berselingkuh dihukum rajam. Bagaimanapun, PKS sebagai partai berbasis Islam yang tergolong solid dan “relatif” bersih, tetap merupakan aset nasional. Tanpa PKS apa iya umat Islam punya daya tawar dan posisi yang sangat baik di ranah politik negeri ini? Apa iya berbagai kebijakan pro Islam itu bisa terjadi jika PKS tidak ada? Saya saja merasa iri dengan umat Islam yang punya PKS.

Jadi kembalilah berkepala dingin. Jika ingin mengetahui persoalan sesungguhnya, berhentilah menghujat, mulailah dengan duduk tenang dan merunut fakta-fakta, dengan mengikuti aliran uang sebagai berikut :

1. Bagaimana mekanisme impor? Betulkan Lutfi berperan besar ke situ? Setahu saya sih kuota impor ini dibahas dan ditentukan bersama oleh kemen Pertanian, Perdagangan dan Perindustrian.

2. Kenapa daging sapi mahal? Betulkah karena ulah Lutfi? Setahu saya sih, harga melonjak tinggi karena faktor penyediaan dalam negeri yang masih belum mencukupi, sementara kuota impor dikurangi. Apalagi impor lebih diperuntukkan industri, hotel, resto. Jd

3. Siapa-siapa saja importir daging sapi itu? Di mana peran Lutfi? Siapa importir yang merasa sakit hati dengan adanya kuota impor dari IndoGuna?

4. Siapa AF? Apa hubungan dia dengan Lutfi? Siapa yang tertangkap tangan, Lutfi atau AF?

5. Siapa Lutfi? Bagaimana hubungan dia dengan pemerintah?

Nah silakan menelusurinya agar bisa berpendapat secara seimbang. Kalau malas, ya berkomentar saja sesuai yang kita tahu dan sudah baca, jadi proporsional. Jangan suka menari di atas duka orang. Saya menyitir Ahmad Muzani, Gerindra yang dengan tegas mengatakan : Nggak sudi kami menghujat partai lain. Iyalah, toh kita sendiri belum tentu bersih.

Buat kader PKS dan simpatisan, sebagai sesama warga negara Indonesia, saya ikut berduka. Tapi orang selalu bilang, habis gelap terbitlah terang.

Sumber: Kompasiana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar