jika politik adalah sesuatu yang abu-abu
yang menjadi senjata para penguasa
yang menjadi sindikat pengejar harta dunia
maka aku bukanlah itu
Namun jika politik adalah pembelaan & perjuangan
yang membangunkan keberanian retorika
dan lantang meneriakkan keadilan
maka aku adalah politikus itu

Jika demokrasi adalah belenggu penjajahan
diramaikan oleh tangan-tangan gila jabatan
disetir untuk mengubur kepribadian anak bangsa
maka itu bukan tempatnya
Namun jika demokrasi adalah sebuah peluru pembebas
yang pengusungnya adalah teladan sejati
dan ideologinya menembus keangkuhan parlemen
maka itu adalah kendaraannya..

Rabu, 03 Maret 2010

Pembunuh Tokoh Hamas Diduga Lari ke AS

DUBAI. dua orang yang diduga terlibat dalam pembunuhan tokoh Hamas, Mahmud Al Mabhuh, sudah memasuki wilayah Amerika Serikat (AS), segera setelah mereka meninggalkan Dubai. Berdasarkan pemantauan CNN Arab, Senin (1/3), tersangka bernama Rawi Alan Canon yang sebelumnya menjabat sebagai dokumentator di Kedubes Inggris memasuki wilayah Dubai pada 6 November 2009, bersama kalompok lainya untuk melakukan persiapan eksekusi.

Kemudian, ia meninggalkan Dubai pada 9 November menuju Milan, Italia, lalu berangkat ke Amerika pada 14 Februari. Canon adalah salah seorang yang terlibat dalam operasi pembunuhan terhadap Mabhuh yang juga membawa kartu kredit yang sama, Zurich, Swiss dari Amerika.

Adapun tersangka kedua, Evan yang berangkat dengan Paspor Irlandia, masuk Dubai pada 18 Januari dan keluar dari pada 20 Januari menuju kota Ziwarkh, Swiss, kemudian menuju Amerika pada 21 Februari. Untuk memasuki Amerika tak perlu susah-susah, walaupun mereka tak mengajukan permohonan untuk memperoleh visa. Mereka cukup menempelkan sidik jari dan foto bagi setiap pendatang.

Di pihak lain, Kepala Polisi Dubai, Fraiq Dhahi Khalfan dalam pernyataannya di sela konferensi keamanan dan keselamatan 2010 yang dibuka Abu Dabi menyebutkan, agen rahasia Israel, Mosad belum pernah melakukan kejahatan sebodoh ini di Uni Emirat Arab. Dia mengatakan, operasi pembunuhan Mabhuh melibatkan 27 orang. Angka itu dinilainya terlalu banyak untuk membunuh satu orang.


Sumber: Republika Newsroom

Tidak ada komentar:

Posting Komentar