jika politik adalah sesuatu yang abu-abu
yang menjadi senjata para penguasa
yang menjadi sindikat pengejar harta dunia
maka aku bukanlah itu
Namun jika politik adalah pembelaan & perjuangan
yang membangunkan keberanian retorika
dan lantang meneriakkan keadilan
maka aku adalah politikus itu

Jika demokrasi adalah belenggu penjajahan
diramaikan oleh tangan-tangan gila jabatan
disetir untuk mengubur kepribadian anak bangsa
maka itu bukan tempatnya
Namun jika demokrasi adalah sebuah peluru pembebas
yang pengusungnya adalah teladan sejati
dan ideologinya menembus keangkuhan parlemen
maka itu adalah kendaraannya..

Minggu, 13 Desember 2009

Untuk Pertemuan Pekanan Kita: Datanglah lebih Awal


Apa yang Anda harapkan sepulang dari menghadiri halaqoh (pertemuan pekanan) Anda? Memuaskan tuntutan otak dengan mendapatkan tambahan wawasan dari materi yang didapat? Memperoleh siraman mata air hikmah untuk nurani yang terasa kering? Atau melepas rindu bertemu muka dengan saudara sekelompok Anda, saling bercerita dan bertausiyah? Coba bandingkan harapan tersebut dengan kenyataan yang Anda dapatkan!
Segala puji bagi Allah, sungguh beruntung jika Anda bisa mendapatkan semua yang Anda harapkan dalam pertemuan rutin tersebut. Namun, jika Anda termasuk orang yang baru ’sekedar’ mendapatkan salah satunya atau mungkin tidak sama sekali (na’udzubillahi min dzalik), mari bersama kita renungkan hal berikut ini.

Mana yang Anda inginkan pertemuan pekanan yang terasa ’biasa-biasa saja’ dalam perjalanannya-bahkan kadang membosankan-atau pertemuan pekanan dinamis dan produktif (halaqoh al-muntijah) yang melahirkan pribadi muslim dan muslimah yang handal lagi utuh. Penulis yakin seratus persen bahwa anda akan memilih pilihan yang kedua. Seyakin itu pula kita telah tahu bahwa untuk mencapai hal tersebut tidaklah mudah.

Suatu pertemuan pekanan baru dapat tergolong produktif setidaknya jika poin-poin seperti lahirnya pribadi yang memiliki potensi keistimewaan diniyah, terjalinnya Ukhuwah Islamiyah dan amal jama’i bisa terpenuihi. Berbekal semangat tinggi untuk mencapai hal tersebut, maka dirancanglah oleh kita berbagai program yang menarik serta target-target individu yang harus dicapai, hingga akhirnya dilaksanakan pada forum yang hanya berlangsung singkat. Setelah itu, kita akan kembali pada pertanyaan di awal tulisan. Apa yang kita dapatkan?

Banyak faktor yang mempengaruhi tercapai atau tidaknya target pertemuan. Evaluasi yang kita lakukan bersama dalam kelompok, kadang melupakan satu hal yang akan menjadi fokus tulisan kali ini yaitu pendahuluan dalam sistematika acara pertemuan pekanan.

Kegiatan Pendahuluan


Setiap kegiatan pasti memiliki sistematika, urutan-urutan ataupun sesi-sesi dalam pelaksanaannya. Biasanya suatu kegiatan terdiri dari pendahuluan atau pembukaan, isi (inti) dan penutup. Begitu pula yang umum dalam liqo-at (forum) kita. Dalam pelaksanaanya, antara urutan satu dengan yang lainnya saling terkait dan mempengaruhi. Kualitas inti acara tentunya dipengaruhi oleh kualitas pendahuluaannya.

Keiatan Pendahuluan (KP) dalam pcrtemuan pertemuan pekanan bukannya tidak memiliki arti penting bagi keseluruhan acara yang kita jalankan pada hari itu. Contoh sederhananya: sebagaimana membuka majelis syuro dengan basmalah dan tilawah dapat meningkatkan kualitas ruh dan menjernihkan pikiran para peserta sehingga dapat mengoptimalkan capaian hasil. KP akan menanamkan kesan ’rasa’ yang berbeda-beda bagi tiap peserta pertemuan pekanan, tergantung sedalam apa hikmah yang dapat diambil.

’Rasa’ inilah yang akan memberi suntikan motivasi bagi dirinya untuk mcngikuti sesi selanjutnya, yaitu sesi yang menjadi inti acara. Tentu, berbeda kualitas kesiapan seorang peserta pertemuan pekanan yang mengikuti KP secara baik dan sempurna dengan peserta yang datang terlambat dan hadir begitu acara sudah masuk pada sesi inti. Perbedaan kualitas ini akan melahirkan perbedaan hasil yang dicapai oleh masing-masing peserta.

Seringkali kekurangpahaman akan urgensi dan manfaat KP melahirkan sikap peremehan terhadapnya. Ujungnya, kegiatan membayar infaq sebagi iqob (hukuman), menyetor hafalan dan muhasabah (refleksi), mengisi absensi dan sebagainya, terposisikan menjadi kegiatan administrasi atau regristrasi semata yang menjelma menjadi rutinitas yang kurang sentuhan ruh. Atau mungkin menjadi sekedar pengisi waktu, sambil menunggu peserta yang berdatangan satu persatu.

Seorang muslim yang berfikir adalah muslim yang dapat merenungi dan menggali secara dalam hikmah berbagai aktivitas yang dilakukannya, terlepas dari besar atau kecilnya-tanpa sadar dianggap remeh-aktivitas tersebut. Pada akhirnya, ia menjadi tahu bagaimana cara mengoptimalkan suatu kegiatan untuk menyegarkan dan meremehkan kebutuhan ruhiyah (terkait dengan ruh), jasadiyah (fisik) dan fikriyah (pemikiran)-nya.


Allah dan Rasul-Nya tidak pernah menganggap remeh suatu kebaikan, sekecil apapun itu. Sehingga Allah menegaskan dalam surat al-Zalzalah bahwa serta kebaikan yang kita lakukan, walaupun sebesar dzarrah (atom) akan mendapat ganjarahnya dan Rasulullah saw menyatakan bahwa membuang duri di jalan adalah cermin keimanan. Dalam salah satu hadist Arba’in dinyatakan bahwa Allah mnghendaki sikap ihsan (profesional) pada segala sesuatu. Jika demikian halnya, maka alasan apa yang membuat kita meremehkan KP yang mungkin hanya berdurasi setengah hingga satu jam tersebut?

Pemahaman akan urgensi dan manfaat suatu hal, mendorong kita untuk mencintai dan melaksanakan hal tersebut dengan penuh semangat. KP sebenarnya mcmiliki banyak rahasia (’ibroh) yang tersingkap jika kita menyediakan sedikit saja waktu untuk memikirkannya.

Beberapa di antaranya adalah:

Melatih Sikap Amanah

Masing-masing PJ (penanggungjawab) kelompok dan unsur-unsurnya baik itu sekretaris, bendahara, hafalan dan sebagainya dapat bcrlatih menunaikan amanah dengan baik, sekecil apapun itu. Walau terkesan sepele, pembiasaan tersebut akan memberikan dampak besar untuk kegiatan kita sehari-harinya, karena pembiasaan akan membentuk karakter. Jika seorang sekretaris pertemuan pekanan malas-malasan mengisi absensi atau sang bendahara malas menagih uang kas, bagaimana ia dapat diharapkan unuk mengemban amanah sejenis pada ruang lingkup yang lebih besar?

Menumbuhkan Budaya Fastabiqul Khoirot (Berlomba dalam Kebaikan) dan Jiddiyah (Kesunguhan)

Jika masing-masing anggota berlomba-lomba menyetorkan hafalannya, membayar kas dan berinfak tanpa menunggu ditagih, niscaya pertemuan pekanan tersebut akan lebih hidup menumbuhkan budaya pro aktif dan melahirkan nuansa kebaikan. Sikap bersungguh-sungguh dalam menjalankan kesepakatan bersama juga terasah.

Belajar Mencapai Target, Menjalankannya dan Evaluasi Program

Invetarisir data dapat kita jadikan bekal untuk mengevaluasi diri dan kelompok. Kita dapat melihat apakah kualitas diri atau kelompok kita meningkat dibanding pekan kemarin. Misalnya, apakah saya sudah lebih tepat waktu dan meningkatkan kualitas ibadahnya atau justru kena iqob lebih. Apakah jumlah dan frekuensi anggota kelompok yang datang telat selama sebulan masih wajar dan bisa ditolerir sehingga kira tahu apakah realistis kalau ditetapkan berkumpul jam O8.0O pagi? Apakah target hafalan Al Qur’an minimal 1 ayat per hari masih dapat diteruskan bahkan ditingkatkan?

Berlatih Manajemen Profesional

Dakwah membutuhkan pribadi-pribadi muslim yang pandai memgatur diri dan kelompoknya. Manajemen erat kaitannya dengan kreativitas. Sebagai upaya menumbuhkankan manajemen yang baik dan profsional, masing-masing PJ dituntut untut kreatir dalam menjalankan tugasnya karena ia harus memotivasi orang lain yang memiliki karakter bcrbeda sekaligus dirinya sendiri.

Kreatifitas itu juga dapat diasah dalam penyediaan sarana yang mendukung tugasnya. Misalnya bendahara, bagaimana anggota lain dapat termotivasi untuk berinfak, membayar kas dan ’iqob jika amplop-nya saja harus dicari-cari dulu karena memang belum disiapkan atau catatan keuangannya berantakan! Bendahara yang baik akan mencari cara menumbuhkan semangat teman-temannya dalam berinfak. Misalnya, dengan menyiapkan buku keuangan yang rapi atau amplop yang berhiaskan al-Qur’an atau hadist yang memacu untuk berinfak.

Jika kita mulai berlatih manajemen dari hal-hal yang kecil, niscaya imbasnya akan dapat dirasakan dalam skala lingkungan yang lebih besar. Sebagai catatan yang penulis ketahui dari beberapa organisasi. Iuran wajib anggotanya berjalan tersendat-sendat karena penggelolaan yang kurang baik. Padahal, dana merupakan salah satu unsur penting bagi keberlangsungan dakwah.

Mencairkan Rasa Kaku

Rasa kaku setelah sepekan tidak berkumpul dapat dilumerkan dengan mengetahui kondisi/kabar satu dengan yang lainnya. Misalnya, apakah saat ini teman-teman kita sedang kekurangan uang, karena ia ’pass’ membayar uang kas atau apakah ia sedang punya masalah berat, karena tidak menyetor hafalan ayat satu pun dan sebagainya. Setelah luumer rasa kaku, akan muncul keterbukaan. Keterbukaan menumbuhkan tafahum (saling memahami), mahabbah (mencintai) antara satu dengan yang lainnya. Sensitivitas seorang muslim akan menerjemahkan tafahum ini ke dalam sikap ta’awun (saling menolong).

Melahirkan Rasa Nyaman


Menjadi ’rumah’ yang menaungi para anggotanya adalah nilai yang ideal sebuah pertemuan pekanan. Rasa nyaman yang tumhuh dari budaya tausiyah, saling mengingatkan dan diingatkan, saling menguatkan dan dikuatkan, membuat kita seakan berada di ’rumah sendiri.

Kesan tersebut harus dibangun bersama. Salah-satu caranya adalah dengan merefleksikan kegiatan hidup kita dalam sepekan sebelumnya, bermuhasabah, membawa dan melaporkannya secara tertulis ke dalam pertemuan pekanan. Pertemuan pekanan ibarat terminal ruhiyah. Kita dapat melihat apakah pcningkatan atau penurunan yang sedang terjadi pada diri kita atau saudara yang lain. Dengan begitu, akan muncul kebutuhan untuk saling menjaga. Itulah pertemuan pekanan sebagai wadah peningkatan kualitas diri dan kelompok.

Melatih Kedisiplinan

Apabila kita bersemangat untuk mengikuti kegiatan pendahuluan ini secara sempurna, mau tak mau kita akan mengupayakan datang tepat waktu ke forum.

Di samping mantaat-manfaat yang membawa dampak positif bagi perjalanan panjang kehidupan kita, KP juga akan membawa efek langsung bagi kita pada hari itu. Karena ruh, jasad dan pikiran kita lebih siap, tenang dan terbuka untuk memasuki acara inti. KP juga membantu mewujudkan sebuah pertemuan pekanan yang produktif.

Berdasarkan poin-poin di atas, ia turut andil dalam menumbuhkan benih-benih pribadi muslim yang matang, amal jama’i dan Ukhuwah Islamiyah. Sebagai tambahan, KP merupakan cermin kualitas kerja mutarobbi (pembelajar) secara kolektif, karena ia berjalan secara mandiri di antara mutarobbi tanpa campur tangan murobbi (guru).

Sebuah aktivitas yang tidak dikelola dengan baik akan jarang mencapai tujuannya. Maka jika kita ingin mencapai hasil yang optimal pada tiap pertemuan pekanan kita, mulai dari membenahi hal-hal yang kecil dan bersungguh-sungguh di dalamnya, seperti kegiatan pendahuluan ini, dengan berbekal hati yang ikhlas. Apalagi, jika pertemuan kemudian diitutup dengan evaluasi sebagai finishing touch-nya! Niscaya pertemuan pekanan akan terasa lebih nikmat dan berbobot. Singkat kata, kita akan mendapatkan lebih dari yang kita bayangkan

Wallahu ’alam bish showab.


Oleh: Nani Zara
Sumber: Al-Izzah No. 24/Th.3. 31 Januaii 2002 M

Tidak ada komentar:

Posting Komentar