jika politik adalah sesuatu yang abu-abu
yang menjadi senjata para penguasa
yang menjadi sindikat pengejar harta dunia
maka aku bukanlah itu
Namun jika politik adalah pembelaan & perjuangan
yang membangunkan keberanian retorika
dan lantang meneriakkan keadilan
maka aku adalah politikus itu

Jika demokrasi adalah belenggu penjajahan
diramaikan oleh tangan-tangan gila jabatan
disetir untuk mengubur kepribadian anak bangsa
maka itu bukan tempatnya
Namun jika demokrasi adalah sebuah peluru pembebas
yang pengusungnya adalah teladan sejati
dan ideologinya menembus keangkuhan parlemen
maka itu adalah kendaraannya..

Jumat, 26 Maret 2010

Menristek Luncurkan Kapal Survei “Tanjung Perak” BAKOSURTANAL

Negara Indonesia adalah negara maritim terbesar di dunia. Seperti diketahui bahwa luas laut Indonesia meliputi ±6,279 juta km2 terdiri dari laut Nusantara seluas ±3,9 juta km2 dan luas laut ZEE seluas ±2.9 juta km2 dengan panjang garis pantainya lebih dari 100.000 km. Selain potensi luasnya, NKRI juga didukung dengan kekayaan alam dan laut yang begitu melimpah.

Menurut data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, prakiraan nilai ekonomi potensi dan kekayaan laut Indonesia adalah sebesar 149,94 miliar dollar AS atau sekitar Rp 14.994 triliun. Kekayaan tersebut di antaranya adalah potensi dan kekayaan perikanan sebesar 31,94 miliar dollar AS, wilayah pesisir lestari (56 miliar dollar AS), bioteknologi laut (40 miliar dollar AS), wisata bahari (2 miliar dollar AS), minyak bumi (6,64 miliar dollar AS), dan transportasi laut (20 miliar dollar AS).

Semua ini menunjukkan perlunya perencanaan pembangunan dan pengelolaan kelautan terpadu, ujar Menteri Riset dan Teknologi, Suharna Surapranata dalam sambutannya saat peluncuran Kapal Survei Tanjung Perak BAKOSURTANAL di pantai Marina Ancol pada tanggal 25 Maret 2010. Selanjutnya Suharna mengatakan agar kita bisa mengelola sumber daya alam kita dengan baik, maka perencanaan terpadu ini haruslah dibuat berdasarkan analisis data sumber daya alam yang kita miliki, sehingga keberadaan data dan proses pengumpulannya, atau yang kita kenal dengan istilah survei dan ini merupakan hal yang sangat esensial.

Di sinilah peran strategis yang dimainkan oleh BAKOSURTANAL. Sebagai badan penyedia informasi geospasial dasar secara nasional, tentunya BAKOSURTANAL juga berkewajiban menyediakan informasi dasar wilayah pantai dan laut. Informasi dasar ini akan menjadi rujukan dalam proses pembangunan informasi tematik tentang sumber daya alam wilayah pantai yang dilakukan oleh sektor-sektor pemerintah lainnya dan juga pemerintah daerah.

Jenis informasi dasar tentang pantai yang utama yang dikumpulkan BAKOSURTANAL dan yang sangat penting nilainya, adalah data batimetri (data kedalaman laut). Kapal survei ini dirancang utamanya untuk melakukan survei batimetri, sehingga peresmian kapal survei ini dapat kita lihat sebagai upaya BAKOSURTANAL untuk meningkatkan kapasitasnya untuk pemenuhan kewajiban penyediaan informasi geospasial dasar, khususnya di wilayah pantai.

Kebutuhan dari pemetaan apabila seluruh pantai di Indonesia dipetakan pada skala 1:50.000, maka akan diperlukan hampir 1200 nomor lembar peta. BAKOSURTANAL sendiri sampai saat ini baru bisa menyediakan kurang dari 400 nomor lembar peta. Jadi tentu masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Dalam pengadaan pemetaan peta-peta navigsi laut tersebut harus sesuai dengan standar yang ditetapkan Internastional Hydrographic Organitation (IHO) bertujuan untuk keamanan pelayaran.

Keberadaan kapal survei Tanjung Perak BAKOSURTANAL menjadi sangat vital dalam upaya pemenuhan kebutuhan informasi dasar wilayah pantai ini di Indonesia. Upaya pengadaan kapal survai yang disesuaikan untuk wilayah pesisir/pantai dengan kedalaman 30 m, guna mempercepat dan meningkatkan kualitas data hidrografi (terutama data batimetri)


“Karena itulah, saya menyambut gembira diresmikannya kapal survei BAKOSURTANAL ini, karena tentunya juga akan memberikan beberapa keuntungan dari sisi teknologi. Biasanya survei batimetri untuk wilayah pantai (sampai kedalaman 200 m) dilakukan menggunakan kapal nelayan, sehingga dengan adanya kapal survei ini, diharapkan semakin meningkatnya kualitas hasil survei karena terjaminnya spesifikasi dan standardisasi teknologi yang digunakan; semakin cepatnya proses pemetaan pantai, misalnya karena dimungkinkan terjadinya pengolahan data langsung di atas kapal dan karena faktor-faktor kelebihan lain yang dimiliki kapal survei ini” ujar Menristek.

Hadir pada acara ini Kepala BAKOSURTANAL Rudolf R Matindas beserta jajarannya dan undangan lainnya yang berkaitan dengan pemetaan.

Kapal Survei “Tanjung Perak” BAKOSURTANAL

Kapal jenis katamaran dengan bahan fiberglass ini cocok untuk wilayah laut yang dekat pantai karena draf nya hanya 1-1.5 meter saja dan ukurannya tidak besar (panjang 22,2 meter, lebar 7r5 meter). Kapal survey ini dipasangi/ditenagai dengan mesin 300 pk sebanyak dua buah di kiri dan kanan kaki katamarannya serta perlengkapan navigasi berupa peralatan GPS, radio komunikasi, radar dan peta ENC (Electronic Navigational Chart) Rancang bangun dan Konstruksi kapal ini dikerjakan atas kerjasama BAKOSURTANAL dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya serta perusahaan nasional Maruline Maju Utama di Pantai Kenjeran Surabaya.

Di samping itu kapal ini dilengkapi dengan peralatan survey hidrografi /batimetri multibeam echosounder dengan kapasitas pengukuran hingga kedalaman 60 meter dan peralatan pengolah data komputer berikut system jejaring lokal dan internet. Pada tahun 2010 ini direncanakan untuk meningkatkan kemampuan peralatan survei hidrografnya menjadi berkemampuan sampai kedalaman 300 meter. Idealnya, untuk meliput seluruh wilayah pantai Indonesia yang panjangnya lebih dari 100 kilometer tersebut di atas diperlukan setidaknya 6 (enam) kapal jenis ini.

Perihal penempatannya, disesuaikan dengan rencana Kementerian Riset dan Teknologi dalam membangun pelabuhan-pelabuhan kapal riset kelautan di Indonesia, seperti yang direncanakan di Bungus wilayah Indonesia bagian barat dan di Ambon untuk wilayah Indonesia bagian Timur. Dengan dioperasikanrrya kapal beserta peralatannya dalam survei kelautan pada bulan April mendatang merupakan langkah awaf percepatan pengumpulan. (humasristek/wb)


Sumber: Ristek Online

Tidak ada komentar:

Posting Komentar