jika politik adalah sesuatu yang abu-abu
yang menjadi senjata para penguasa
yang menjadi sindikat pengejar harta dunia
maka aku bukanlah itu
Namun jika politik adalah pembelaan & perjuangan
yang membangunkan keberanian retorika
dan lantang meneriakkan keadilan
maka aku adalah politikus itu

Jika demokrasi adalah belenggu penjajahan
diramaikan oleh tangan-tangan gila jabatan
disetir untuk mengubur kepribadian anak bangsa
maka itu bukan tempatnya
Namun jika demokrasi adalah sebuah peluru pembebas
yang pengusungnya adalah teladan sejati
dan ideologinya menembus keangkuhan parlemen
maka itu adalah kendaraannya..

Senin, 13 Juni 2011

Perjuangan Muslimah Palestina

Siang ini pengajian muslimah diisi oleh Ibu Nurjannah, sebagaimana judul di atas.

Saya coba share, walaupun saya sedikit terlambat (hiks, harus diperbaiki nih :-) )

Menyebarkan informasi tentang Palestina adalah seperti sebuah aktivitas penjualan, “Sales Ilahiyah”, begitu Ibu Nurjannah menyebutnya.


Syarat terkabulnya doa adalah hati yang bersih, harta yang bersih, mata, telinga, tangan, dan kaki yang seluruhnya bersih. Baru jika seluruh syarat itu terpenuhi, doa dapat dikabulkan. Adapun pengabulan doa dapat dipercepat, ditunda, sesuai permintaan, atau pun Allah ganti dengan yang lain.

Sebelum kita memberikan untuk Palestina, harus kita pastikan dulu bahwa kita telah memberikan yang terbaik untuk yang terdekat dengan kita.

Muslim Palestina benar-benar menjadi teladan untuk ibadah kita. Dalam kondisi yang sangat tidak aman, sangat terdesak, dengan ancaman kematian yang begitu dekat, mereka tetap bersemangat, berkomitmen untuk menjalankan seluruh ibadah rutin.

Mereka tidak pernah tertinggal satu pun shalat berjamaah. Di mana setiap kali keberangkatan itu mereka harus siap untuk mati syahid. Dan ketika mereka kembali ke rumah setelah shalat itu mereka sangat bersyukur karena masih dapat hidup.

Mereka tetap berkomitmen menyetorkan hafalan, membaca Al Qur’an 2 juz per hari, membaca doa pagi dan petang.

Seharusnyalah kita yang memiliki banyak sekali waktu yang sangat-sangat luang, bisa berkomitmen sama, bahkan lebih banyak lagi dibandingkan dengan muslim Palestina itu.

Namun, di sisi lain, banyak hal yang patut kita syukuri. Jika kita telah berada di jalan yang baik, telah Allah mudahkan untuk bisa hadir di pengajian, tidak “terbelenggu” oleh “kemegahan” dunia.

Karena banyak sekali orang yang masih “terbelit” dalam lingkungan yang tidak baik, dengan kebiasaan-kebiasaan hidup yang jauh dari ridha Allah, dan memang sangat sulit sekali untuk melepaskan diri. Banyak juga mereka yang harus berhutang sedemikian besar, karena tidak dapat mengendalikan keinginannya untuk terus mempercantik diri dan memperbaiki penampilan. Jika kita dapat mengendalikan keinginan itu, sesungguhnya itu adalah hal yang patut disyukuri.

Ada sebuah buku yang sedang diterjemahkan, yang di dalamnya ada sebuah nasehat yang sangat penting.

Bahwa kita jangan sekali-kali mengorbankan waktu untuk ibadah dengan alasan kesibukan. Misalnya tidak bisa mengaji karena ada rapat, atau tidak bisa shalat sunnah karena kelelahan.

Karena pada dasarnya keberkahan waktu dan keberhasilan dalam suatu aktivitas akan diperoleh jika kita tidak mengurangi waktu standar yang biasa kita berikan kepada Allah.

Tentunya ini sesuai dengan standar kebiasaan masing-masing.

Misalnya kita terbiasa untuk shalat sunnah 2 rakaat sesudah dan sebelum zhuhur. Ketika ada rapat jam 13, maka kita harus tetap lakukan shalat sunnah tersebut, sebagaiman kita biasa lakukan. Jangan dipercepat, apa lagi ditinggalkan.

Kalaupun waktu menjadi mepet, maka seharusnya kita berintrospeksi agar dapat mengatur waktu di luar ibadah kepada Allah, misalnya waktu makan siang, atau waktu-waktu lainnya.

Jangan sampai kita benturkan kepentingan duniawi kita dengan ibadah. Jika kita benturkan, akan mengurangi keberkahan waktu, dan justru akan semakin mengurangi keberhasilan aktivitas dunia kita itu.

Kita bisa tidur dengan tenteram, bukan karena kita pulang lebih cepat. Tetapi bisa jadi, walaupun kita pulang lebih lambat, tetapi kepergian kita adalah untuk urusan ibadah, Allah berikan ketenteraman dalam tidur kita.

Jika kita ingat teladan Ustadzah Yoyoh Yusroh, yang dalam kesibukan beliau yang sangat luar biasa, dalam sehari membaca Al Qur’an sebanyak 3 juz. Dalam 1 bulan 3 kali khatam. Dan Ustadzah Yoyoh justru menyampaikan bahwa dengan aktivitas yang sedemikian banyak, justru dibutuhkan lebih banyak lagi membaca Al Qur’an untuk dapat memberikan kekuatan.

Ustadz Adiwarman Karim, pakar ekonomi syariah pernah juga menyampaikan keberkahan dari zakat. Dan cara berzakat tidak hanya dengan memberikan kepada yang membutuhkan. Ketika ketika melihat penjual yang tidak laku, lalu kita beli walaupun tidak banyak, sesungguhnya itu juga akan memberikan keberkahan pada rezeki kita.

Sumber: Carik Catatan Blog

Tidak ada komentar:

Posting Komentar