jika politik adalah sesuatu yang abu-abu
yang menjadi senjata para penguasa
yang menjadi sindikat pengejar harta dunia
maka aku bukanlah itu
Namun jika politik adalah pembelaan & perjuangan
yang membangunkan keberanian retorika
dan lantang meneriakkan keadilan
maka aku adalah politikus itu

Jika demokrasi adalah belenggu penjajahan
diramaikan oleh tangan-tangan gila jabatan
disetir untuk mengubur kepribadian anak bangsa
maka itu bukan tempatnya
Namun jika demokrasi adalah sebuah peluru pembebas
yang pengusungnya adalah teladan sejati
dan ideologinya menembus keangkuhan parlemen
maka itu adalah kendaraannya..

Selasa, 16 Desember 2008

CERITA HEBOH IKLAN SOEHARTO: (updated 05 Desember 2008)


Dalam literatur gerakan dakwah, ada yang disebut mabadi' (bersifat prinsip) dan ada pula kaifiyat (bersifat operasional). Iklan PKS yang di antaranya menampilkan gambar Soeharto, sebenarnya tidak bermaksud menjadikan Soeharto sebagai pahlawan . DPP PKS belum pernah memutuskan atau mengusulkan Soeharto sebagai pahlawan. Secara prinsip, tidak ada yang berubah dari PKS sebagai partai dakwah. Namun secara operasional mungkin saja ada yang keliru. Demikian penjelasan terkini dari Presiden PKS, Tifatul Sembiring, yang tertuang dalam sebuah artikel yang dimuat dalam sebuah koran nasional, dua hari yang lalu. Silahkan membaca PKS dan Iklan Soeharto untuk menelaah penjelasan tersebut secara utuh. Berikut ini adalah pantauan terkini dari HEBOH IKLAN SOEHARTO (update 20 November 2008) yang disajikan secara ringkas. Rincian selengkapnya dapat diperiksa dalam lampiran. Pandangan pribadi saya telah dituangkan dalam SPHINX: Sepuluh Tahun Reformasi yang ditulis saat Soeharto sakratul maut , dan SEMBELIT yang bertutur mengenai masalah-masalah komunikasi politik seputar kita. Iklan Secara Keseluruhan Terimakasih Guru Bangsa!
Terimakasih Pahlawan!
Kami akan melanjutkan langkah bersama PKS untuk Indonesia sejahtera!"

Itulah potongan iklan terbaru Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menyambut Hari Pahlawan 10 November. Untuk menggambarkan guru bangsa dan pahlawan yang dimaksud, iklan itu menampilkan foto tokoh-tokoh nasional. Di urutan pertama, muncul foto Soekarno. Lalu Soeharto, Ahmad Dahlan, Hasyim Asy'ari, M Natsir, M Hatta, Jenderal Sudirman dan Bung Tomo.

Secara umum, iklan PKS tersebut dinilai mengejutkan dan kreatif oleh para pengamat. Iklan tersebut juga dinilai sebagai langkah PKS melakukan perluasan segmen pemilihnya. Misalnya pengamat politik, Fachry Ali dan Direktur Pasca Sarjana Komunikasi UI, Dedi Nur Hidayat mengatakan PKS telah ”berjudi” sebab, bisa saja, akibat pemasangan gambar tersebut, para pemilih fanatiknya ”lari”. Mereka juga berpendapat iklan tersebut diharapkan dapat menarik dukungan dari masa mengambang yang tidak tertampung dalam parpol. Itu untuk memperluas spektrum massa pendukung PKS. Dosen komunikasi FISIP Universitas Indonesia, Ibnu Hamad menambahkan mengatakan sebagai sebuah desain kreatif, target iklan tersebut, diharapkan dapat mencuri perhatian dari para pendukung tokoh-tokoh yang ada dalam iklan. Mencuri perhatian syukur-syukur menciptakan dukungan. Fachry Ali menambahkan PKS tampaknya merasa yakin basis pendukungnya yang sudah ada tak akan lari hanya gara-gara iklan politik ini. Keyakinan PKS itu diperkuat oleh kenyataan bahwa tidak ada satu isu korupsi pun yang menerpa PKS. Menurut Dedi Nur Hidayat, Kecil kemungkinan suara PKS dinilai dapat turun, karena PKS merupakan partai yang solid.

Menurut Fachry Ali, iklan kampanye PKS itu mengejutkan dan agresif. PKS membuat terobosan dan langkah berani dengan iklan tersebut. Namun ia belum bisa memastikan dampak iklan politik ini terhadap perolehan suara PKS pada Pemilu 2009. Ketidakpastian ini juga diungkap oleh Ibnu Hamad. Ia mengatakan masyarakat tidak mudah percaya begitu saja terhadap kampanye atau iklan politik parpol. Sebab masyarakat kini semakin cedras. Melalui iklan ini, menurut Fachry Ali, PKS ingin memunculkan citra bahwa dirinya bukan sekadar sebagai partai Islam. PKS menjadi lebih terbuka dan nasionalis.

Mengenai iklan PKS itu sengaja dibuat karena merupakan yang kedua kali menuai polemik, Dedi Nur Hidayat menyatakan tidak dapat mebuktikan. Pengamat komunikasi politik dari UGM, Hermin Indah Wahyuni menilai iklan yang kontroversial itu merupakan strategi yang bagus. Itu strategi mengambil posisi minor untuk dijual. Ia dan Ibnu Hamad yakin setiap peluncuran iklan pasti telah melalui survei dan pembahasan. Hermin Indah Wahyuni menilai mungkin PKS sengaja men-setting iklan itu untuk mengundang polemik. Tuntutan untuk menarik iklan-iklan PKS terlalu berlebihan. Sikap itu, sungguh tidak demokratis. Itu sah-sah saja dalam komunikasi politik. Itu juga bukti keberanian PKS. Ibnu Hamad menambahkan kalau dilihat dari murni marketing politik, iklan itu sebetulnya berhasil dan juga kreatif. Iklan politik PKS berhasil karena mendapat perhatian dari masyarakat luas.

Adien Jauharudin, dari Gerakan Muda Nahdlatul Ulama (GMNU) mengatakan strategi politik dengan mengambil sosok pahlawan dan tokoh nasional bias jadi untuk menarik simpati masyarakat luas agar mendapat dukungan suara lebih besar. Tentunya bagi mereka yang tidak mengenal tokoh-tokoh tersebut akan simpati dengan PKS, tapi bagi pihak yang sudah tahu dan ada kaitan dengan tokoh yang ditampilkan tentunya akan terusik bahkan merasa dirugikan.


Meski demikian, ia mengakui jika PKS cerdik dalam mengemas isu untuk mengundang perhatian publik dengan memanfaatkan kekuatan media yang dijadikan sarana iklan politiknya. Hal ini menjadi manuver politik yang cerdas. PKS lebih berani dalam membuat manuver politik yang tidak dilakukan oleh partai lainnya. Calon anggota legislatif Partai Golkar Indra J Piliang menilai iklan PKS yang menampilkan sejumlah tokoh bangsa tidak ada persoalan. Plus minusnya tergantung pandangan masyarakat. Sudah saatnya, kita berfikir ikon Soekarno bukan milik PDIP saja. Hasyim Asy'ari bukan milik NU saja. Itu pemikiran sempit yang harus diubah. Mereka tokoh bangsa. Iklan PKS justru sukses. Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X mengatakan iklan PKS bukan sebuah pelanggaran. Tidak ada aturan yang melarang pemanfaatkan pahlawan nasional untuk kampanye parpol di media massa. Termasuk dalam undang-undang pemilu. Pengamat komunikasi politik dari Universitas Indonesia, Effendi Ghazali, memuji kesadaran sejarah para elit PKS yang dinilainya luar biasa. PKS yang semula sangat relegius dan terkesan ekskluisif, ternyata sadar betul harus mencoba menampilkan tokoh-tokoh yang nasionalis, jika ingin menaikkan porsi suaranya. Iklan politik PKS adalah cara yang cukup efektif bagi PKS untuk mencoba mengambil alih suara dari swing voter menjelang Pemilu 2009.


Dari kacamata blogger yang tidak melihat isi iklan dikatakan konten kontroversial dan up to date pasti akan menarik traffic dengan cepat dan besar layaknya Tsunami. Dan kali ini PKS dalam iklannya menuai berbagai kecaman dan pujian tetapi inti semua itu PKS dibicarakan setiap orang dalam setiap perbincangan mulai dari warung kopi sampai cafe-cafe di mall-mall, mulai dari penarik becak sampai para penaik duit di bank-bank. Terlepas dari hasil politik yang diintrepretasikan dengan ballot dan vote, PKS telah mendapatkan backlink, trackback juga traffik yang besar. Bagi yang belum tahu dan setengah tahu, pasti akan mencoba untuk mencari tahu seperti apakah iklan PKS tersebut dan bisa jadi ingin mengetahui lebih dalam seperti apakah PKS juga platformnya. Ini merupakan trik yang sangat lihai untuk mendapatkan pemilih potensial.


Mengenai tokoh Soekarno yang ditampilkan di iklan PKS, Ketua Dewan Penasihat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Taufik Kiemas mengaku tak keberatan. Semua pihak termasuk PKS, berhak menghargai semua pendahulu mereka dengan cara mereka masing-masing. Sebagai pemimpin terkadang kita melupakan jasa-jasa para founding father. Caleg PDIP Budiman Sujatmiko mengatakan PDIP tidak mempermasalahkan sosok Soekarno yang juga muncul dalam iklan PKS. Ketua DPP PDIP Firman Jaya Daeli menambahkan sebenarnya sah-sah saja Soekarno sebagai tokoh bangsa ditampilkan oleh PKS. Namun ia mempertanyakan konsistensi PKS selanjutnya.

Pernyataan Firman Jaya Daeli dijawab Sekjen PKS Anis Matta, dengan balik mempertanyakan posisi Megawati terhadap Soekarno. Dia itu anak biologis atau anak ideologis? Pada masa pemerintahan Megawati dia menjual aset-aset negara.


Berbeda dengan pendapat-pendapat diatas, peneliti The Wahid Institute, Rumadi mengatakan pemasangan beragam foto tokoh itu jelas bertujuan mencari pemilih yang sebanyak-banyaknya pada Pemilu 2009. Hal ini dibenarkan pula oleh peneliti dari Charta Politika, Burhanuddin Muhtadi. Namun Direktur Eksekutif Reform Instutute, Yudi Latif menilai upaya PKS untuk memperbesar basis pemilihnya akan menemui jalan terjal karena para tokoh tersebut sudah memilik partai politik yang bergantung pada jaringan seputar mereka. Simpatisan Soeharto misalnya, sudah ada di PKPB, Golkar, Gerindra, atau Hanura.

Rumadi menambahkan jadi tak ada kaitannya dengan ideologi. Penayangan iklan dengan beragam tokoh juga menunjukkan pergumulan di internal PKS cukup hebat. Pergumulan itu sudah dimulai sejak awal tahun ini dengan mendeklarasikan PKS sebagai partai terbuka.

Namun Upaya PKS mengubah citra partai menjadi partai terbuka melalui iklan politik itu tampaknya akan sia-sia. Itu sulit terwujud, karena PKS hanya memainkan simbol saja. Dari sudut pandang keberagamaan PKS, tampak belum ada bukti bahwa PKS menghargai keberagamaan yang berbasis perdesaan.

Ketua Presidium Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Palar Batubara mengatakan iklan partai politik yang menampilkan tokoh-tokoh nasional seperti yang dilakukan oleh PKS dapat mengurangi kredibilitas partai itu. Pasalnya, masyarakat saat ini sudah pintar untuk menilai partai tanpa dibayang-bayangi oleh tokoh tertentu. Golkar saja tidak pernah menampilkan tokoh Soeharto. Direktur Lingkar Madani untuk Indonesia, Ray Rangkuti menambahkan apa yang telah dilakukan oleh PKS demi memenangkan Pemilu 2009 dinilai akan sia-sia. Iklan itu diprediksi tidak akan meningkatkan jumlah perolehan suara dalam pemilu legislatif. Pengamat politik Bachtiar Effendy menilai iklan PKS itu terlalu sulit untuk dicerna oleh masyarakat yang ada di desa-desa. Iklan PKS ini hanya dipahami oleh masyarakat yang ada di kota-kota saja. Pengamat politik dari Universitas Indonesia, Arbi Sanit, menilai PKS tengah berupaya mendulang tambahan suara pada Pemilihan Umum 2009. Upaya PKS memanfaatkan nama besar Soeharto tak akan efektif mendongkrak suara. Alasannya, pengikut Soeharto masih mencatat siapa saja yang ikut menjatuhkan rezim Orde Baru.


Sementara Mantan Ketua MPR Amien Rais menilai pengusungan 8 tokoh dalam iklan PKS tidak perlu dilakukan, mengingat mereka semua sudah berada di alam lain. Biarlah partai-partai itu mengusung tokoh masa sekarang. Seharusnya dikedepankan kemampuan dalam melakukan perubahan ke depan. Bukan menjago-jagokan para sesepuh negeri yang sudah wafat


Foto Soeharto

Tampilnya foto Soeharto dalam deretan tokoh pahlawan dan guru bangsa di iklan PKS menuai kritik dari kalangan LSM dan pengamat politik, yaitu dari mantan aktivis PRD, Budiman Soejatmiko, aktivis Forum Kota (Forkot) Mixil Mina, Koordinator Gerakan Kaum Muda 1998, Ahmad Fauzi Ray Rangkuti, Koordinator Divisi Korupsi Politik ICW Fahmi Badoh, Ketua Lembaga Perjuangan Rehabilitasi Korban Rezim Orde Baru, Semaun Utomo, aktivis mahasiswa 98, Syafic Alielha, pengamat sosiologi politik dari UGM, Arie Sudjito, sejarahwan LIPI Asvi Warman Adam, Adien Jauharudin, dari Gerakan Muda Nahdlatul Ulama (GMNU), pengamat politik dari LIPI Lili Romli, dan Koordinator Kontras, Usman Hamid. Mereka umumnya mengatakan Soeharto tidak pantas menjadikan masuk dalam deretan tokoh pahlawan maupun guru bangsa. Mereka menilai Soeharto sampai akhir hidupnya terindikasi korupsi dan melanggar HAM.

Budiman Soejatmiko menganggap iklan PKS itu menyesatkan dan hanya akan menimbulkan blunder, malah bisa melakukan penyesatan kepada pemuda. Semaun Utomo mengaku heran dengan sikap PKS tersebut. Ia dan Mixil Mina mengancam akan menggalang kekuatan untuk mengampanyekan untuk tidak pilih PKS dalam Pemilu 2009 mendatang. Menurut Mixil Mina, langkah PKS tersebut adalah bentuk politik oportunis. Iklan ini seakan-akan ingin mengakomodasi semua elemen negeri ini. Mulai dari orde lama, orde baru hingga orde reformasi. Termasuk seolah-olah mengakomodasi kalangan nasionalis dan tentunya Islam.

Ahmad Fauzi Ray Rangkuti menyesalkan penayangan iklan tersebut. Selama berkuasa Soeharto hanya menyumbangkan bangsa ini pada titik nadir peradaban dimana penuh darah, KKN, moral busuk.

Fahmi Badoh berpendapat dalam konteks anti korupsi, PKS tidak mendukung upaya pemberantasan korupsi. Sikap PKS juga menyakitkan aktivis Islam yang ditekan selama masa orde baru. Ia mengimbau agar Presiden PKS segera mencabut iklan tersebut dan melakukan klarifikasi pada publik. Kalau tidak akan mengancam basis konstituen mereka.

Syafic Alielha menilai PKS ahistoris dan tidak menghargai proses reformasi. Ini sangat ironis dan tidak masuk akal. Orang yang menjadi penyebab kehancuran bangsa malah diangkat menjadi pahlawan. Adien Jauharudin mengutuk keras langkah PKS. PKS juga tidak mau menyelesaikan masalah iklan sebelumnya yang juga menuai protes dari NU dan Muhammadiyah.

Arie Sudjito dan Lili Romli mengatakan langkah PKS ini kontraproduktif dan PKS kelihatan pragmatis. Namun Arie Sudjito mengakui dengan memunculkan simbol tokoh Orde Baru seperti Soeharto merupakan strategi meraup suara pemilih yang bosan dengan reformasi. Konsekuensinya PKS mungkin akan ditinggal oleh para pemilih yang pro reformasi karena Soeharto masih menjadi polemik bagi publik. Secara komunikasi politik, iklan itu juga dinilai sebagai salah satu upaya untuk memodifikasi tokoh nasional untuk kepentingan kampanye. Lili Romli menyayangkan iklan PKS tersebut. Di saat orang lagi semangat meminta semua tindakan-tindakan yang dianggap korupsi oleh Soeharto untuk diusut, malah PKS mengiklankan. Seperti halnya Mixil Mina, ia menilai PKS sebagai partai yang oportunis. Dengan pasang iklan itu, tidak menunjukkan PKS pluralis, justru oportunis dan pragmatis. Asvi Warman Adam menambahkan Soeharto bukan seorang pahlawan. Hingga saat ini, pemerintah belum mengangkatnya sebagai seorang yang berjasa untuk Indonesia. Kalau guru bangsa, guru apa? Staf khusus kampanye Ikatan Keluarga Orang Hilang (Ikohi) Syaiful Haq mengatakan itu melukai perasaan korban Orde Baru yang sampai kini keadaannya belum jelas. Namun ia memaklumi apa yang dilakukan oleh PKS dalam iklan itu. PKS dianggap ingin meningkatkan perolehan suara legislatif dibandingkan pemilu sebelumnya.


Sekjen PKB, Lukman Edi mengklaim PKS telah mengalami kemunduran dalam kampanye melaui iklan karena Soeharto belum ditetapkan sebagai pahlawan. Sementara Ketua PP Muhamadiyah Din Syamsuddin mengaku tidak tahu, silahkan tanya pada keluarganya saja. Calon presiden dari independen Fadjroel Rahman mengaku kecewa iklan Soeharto tidak ditarik. Bagi saya sikap PKS ini adalah pengkhianatan bagi reformasi.

Sedikit berbeda dengan pendapat-pendapat diatas, pengamat politik, Fachry Ali menilai menilai figur Soeharto mempunyai nama yang jelek di mata kalangan intelektual dalam negeri. Namun, Soeharto itu masih mempunyai pendukung yang banyak di masyarakat.


Pengamat politik, Mohammad Qodari menambahkan risiko yang harus dihadapi PKS adalah 'dimusuhi'. Meski demikian, apa pun langkah yang dilakukan PKS tentunya didasari pada pertimbangan-pertimbangan yang rasional. Apalagi dalam iklan politik PKS tersebut tersirat harapan dapat menarik suara dari pendukung Soeharto. PKS ingin memperluas segmen.

Berbeda dengan Arie Sudjito dan Mixil Mina, ia tidak melihat PKS bersikap oportunis dalam hal ini. Sebab membicarakan oportunis agak rancu dalam politik. Apalagi yang terpenting dalam politik adalah komunikasi. Jadi tidak ada masalah hak, siapa yang boleh menampilkan Soeharto. Yang jadi masalah, time framing penayangan iklan PKS tersebut kurang tepat.


Dari pihak Partai Golkar, secara umum menyambut baik iklan PKS tersebut. Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Agung Laksono mengatakan sampai saat ini Partai Golkar tetap berharap bahwa Soeharto diberi gelar kepahlawanan oleh pemerintah. Ketua DPP Partai Golkar, Theo Sambuaga menyatakan Partai Golkar tidak ada persoalan dengan pemuatan tokoh-tokoh pahlawan dalam iklan kampanye PKS, khususnya tokoh Soeharto Almarhum Soekarno dan Soeharto adalah tokoh nasional. Soeharto bukan hanya milik Golkar. Namun ia mengaku tidak takut jika suara Golkar akan berpindah ke PKS. Tokoh Partai Golkar Indra Bambang Utoyo berpendapat iklan itu bisa saja mengurangi perolehan suara Golkar. Ia, mantan Menko Kesra Haryono Suyono, dan Ketua Ikatan Masyarakat Pecinta Soeharto (Imaha) Iwan Panggu mengatakan hingga saat ini masih banyak warga yang merindukan masa-masa kepemimpinan Soeharto. Haryono Suyono mengatakan jangan hanya menyoroti sisi negatifnya saja, karena banyak juga yang positif. Semua harus dihargai secara wajar.

Indra Bambang Utoyo menilai ini bukti PKS tidak punya tokoh kharismatik dari internalnya sendiri. Siti Hediati alias Titik Soeharto mengatakan keluarga Soeharto merasa tidak keberatan dengan iklan PKS yang menampilkan figur Soeharto di iklan kampanyenya. Pak Harto memang sudah tidak ada, tapi ada di hati masyarakat Indonesia. Pak Harto bukan hanya milik keluarga saja, tapi milik bangsa Indonesia.

Sementara Ketua DPP Partai Golkar, Firman Subagyo mengaku tidak menggunakan Soeharto dalam iklan karena Golkar dalam posisi yang serba salah. Jika Golkar memasang gambar Soeharto, masyarakat bisa berpendapat, Golkar kembali ke Orde Baru.

Menanggapi kritik-kritik tersebut, Wasekjen PKS, Fahri Hamzah mengatakan tujuan PKS membuat iklan ini karena ingin memecahkan pengkotak-kotakan terhadap anak bangsa yang selama ini dikelompokkan sebagai kelompok santri, kelompok priyayi, kaum abangan, dan sebagainya. Setiap tokoh yang muncul dalam iklan PKS tersebut bukan berarti lepas dari berbagai kesalahan. Namun, hanya kebaikannyalah yang diambil. Soeharto tidak kita sebut sebagai pahlawan. Di situ kan ada guru bangsa dan pahlawan, yang sudah jelas pahlawan ya disebut pahlawan. Yang disebut guru bangsa ya disebut guru bangsa. Jika tidak ada Orde Baru Indonesia tidak akan bisa makan. Di era Soeharto PKI dapat ditumpas PKI. Presiden Indonesia kedua itu banyak melakukan pembangunan yakni stabilitas pembangunan dan pemerataan, meski pemerataan itu kurang. Kesalahan Soeharto itu dia memberikan previlege kepada keluarganya.

Hal yang senada diungkap Konsultan komunikasi politik Fastcomm, Ipang Wahid. Ia mengatakan kami tidak men-setting publik untuk bernostalgia. Pesan iklan PKS adalah melepaskan bangsa ini dari sekat-sekat pemikiran yang sempit. Indonesia adalah bangsa besar. Founding father melahirkan bangsa ini bukan untuk terkotak-kotak, melainkan persatuan dalam kesatuan. Pesannya jelas, mengapresiasi para guru bangsa dan pahlawan bangsa. Karena PKS merupakan domain anak muda, tentu ini menjadi momen bagi kita semua untuk tidak lupa akan sejarah. Soeharto, meski dianggap punya dosa, tetap punya jasa yang besar bagi bangsa. Beliau adalah guru bangsa kita.

Presiden PKS Tifatul Sembiring juga membantah tampilnya sosok Soeharto dalam iklan PKS sebagai pahlawan. Sementara anggota Fraksi PKS DPR RI, Muttammimul’ula mengatakan maksud pembuatan iklan itu adalah memberikan sentimen positif kepada masyarakat dan diharapkan akan memperluas basis dukungan. Kalau ada yang berpendapat bahwa iklan itu memberikan sentimen positif atau negatif, dikembalikan kepada publik untuk menilainya. Soal adanya tokoh Soeharto yang dijadikan sebagai salah satu tokoh pahlawan, hal itu sah-sah saja.

Ketua FPKS DPR RI, Mahfudz Sidiq menegaskan tanpa harus ditarik iklan itu punya jadwal akhir penayangannya. Konteksnya Hari Pahlawan. Saatnya merajut integrasi bangsa dengan melihat sisi positif. Manusia tidak ada yang sempurna. Ketidaksukaan kita terhadap seseorang jangan menjadikan kita berlaku tidak adil. Kalau gelar kepahlawanan wewenang presiden. Anggota Fraksi PKS DPR RI, Agus Purnomo mengatakan penayangan Soeharto sebagai guru bangsa untuk melupakan masa lalu dan berorientasi ke masa depan.

Seorang petinggi PKS menyebutkan pencantuman Soeharto dalam iklan itu sejak awal diniatkan sebagai bagian dari proyek ”berdamai” dengan militer. Secara politik, PKS menilai militer masih menganggap mereka sebagai ancaman keamanan nasional. Soeharto ini kan orang yang paling berpengaruh di tentara. Dengan memunculkan Soeharto, diharapkan kita bisa merangkul militer.

Sekjen DPP PKS, Anis Matta mengakui sudah mengantisipasi adanya kemungkinan pro dan kontra atas penayangan iklan itu. Namun dia menilai hal tersebut sebagai sebuah hal yang wajar untuk proses pembelajaran. Iklan pahlawan adalah tawaran rekonsiliasi dari PKS. Fahri Hamzah menambahkan dari dulu PKS berbicara politik rekonsiliasi. Sebab, PKS memandang positif masa lalu dan masa depan. PKS juga ingin mengakhiri konflik ideologi. Yang muda perlu belajar dan tidak serta merta kita benar. Karena itu, PKS lebih mengajak untuk rendah hati dan berdamai dengan masa lalu. Sehingga bisa menata kehidupan masa depan.

Ia menegaskan iklan tersebut tidak ada kaitannya dengan upaya PKS mencari simpati dari keluarga Cendana. Dan bukan berarti PKS tidak punya tokoh. Dalam berpolitik, PKS tidak pernah terlalu mengadalkan tokoh karena PKS itu partai kader. Ia juga menanggapi Mixil dengan mengatakan dalam kapasitas apa Mixil mempertentangkan iklan PKS. Mungkin Forkot membawa misi dari kelompok tertentu. Ia mengaku tidak khawatir dengan seruan itu. Ia malah menantang balik Mixil jika ingin berdemonstrasi atau berdebat.


Foto KH Ahmad Dahlan


Menanggapi penggunaan foto KH Ahmad Dahlan di iklan PKS tersebut, Ketua PP Muhamadiyah Din Syamsuddin meminta iklan itu ditarik karena penggunaan gambarnya tidak memberitahukan dan juga tidak izin kepada Muhammadiyah. Ini bisa disebut menyalahi etika. Jika tidak ditarik, banyak warga Muhammadiyah yang akan antipati kepada PKS. Ia menyayangkan gambar Ahmad Dahlan digunakan sebagai iklan politik.

Menurutnya, dipandang dari sudut agama Islam, memakai nama atau gambar seseorang tanpa pemberitahuan, apalagi persetujuan adalah hal yang tidak dibenarkan. Ia menyayangkan PKS yang sering mengembar-ngemborkan membawa akhlak Islam, tapi dalam hal ini tidak sesuai dengan akhlak islam.


Wasekjen DPP PKS, Fahri Hamzah menanggapi pernyataan Din Syamsuddin tersebut dengan mengatakan bahwa KH Ahmad Dahlan itu guru bangsa, milik publik, dan tidak bisa dimonopoli oleh kelompok tertentu. PKS tidak melakukan klaim kelompok. PKS hanya mengajak semua orang untuk belajar baik dan buruknya dari mereka. Presiden PKS, Tifatul Sembiring mengatakan mungkin Din Syamsuddin merasa tersaingi. Di PKS ada orang Muhammadiyah, NU, dan yang lain. PKS tidak perlu meminta izin kepada pihak-pihak yang merasa memiliki tokoh-tokoh yang muncul dalam iklan itu. Sebab 8 tokoh yang ditayangkan dalam iklan tersebut merupakan milik seluruh rakyat Indonesia. Iia membantah bahwa apa yang dilakukan oleh PKS ini tidak sesuai dengan akhlak Islam. Iklan itu sama sekali tidak menjelekkan tokoh-tokoh itu. Ketua Bapilu PMB Yusuf Warsyim menilai tokoh KH Ahmad Dahlan perlu dipatenkan agar 'sengketa tokoh' sejenis tidak terjadi lagi. Agar bisa digugat secara hukum kalau terjadi lagi nantinya.

Pakar komunikasi politik Effendi Gazali menanggapi wacana Yusuf Warsyim dengan mengatakan boleh saja dan malah bagus itu untuk menghindari pragmatisme politik dari partai lain. Namun demikian, proses pematenan tokoh nasional oleh kelompok ormas tertentu tidaklah semudah yang dibayangkan. Karena ada proses uji publik yang harus dilalui. Misalnya tidak boleh karena Ahmad Dahlan sudah menjadi tokoh nasional.


Foto Hasyim Ashari


Terkait dengan adanya foto Hasyim Ashari di iklan Hari Pahlawan PKS, Sekjen PKB, Lukman Edi mengatakan PKB tidak ingin terjadi perpecahan antara PKB dengan NU. DPP PKB tidak mempermasalahkan iklan PKS tersebut. Tapi NU keberatan. Sebab selama ini PKS sering menghujat-hujat NU. Ia sendiri mengaku keberatan dengan pemuatan gambar Hasyim Ashari. NU sudah melayangkan surat keberatan tapi ternyata tidak digubris. PKB menyatakan 'menutup pintu' untuk berkoalisi dengan PKS karena PKB tidak ingin bermasalah dengan warga NU yang merupakan konstituen terbesarnya. PKB sendiri justru berupaya menghindari kampanye yang mengedepankan simbol-simbol ketokohan dan lebih menonjolkan visi, misi, dan program partai. Marwan Ja'far, Politisi muda PKB menilai PKS telah berdosa dengan mengambil sosok pendiri NU KH Hasyim Asy'ari tanpa izin. Ini namanya perbuatan mengambil milik orang lain tanpa izin walau tidak disengaja, dan itu dosa. Iklan PKS yang mengambil sosok KH Hasyim Asy'ari adalah sebuah kemunafikan. Sebab, dalam prakteknya di lapangan sikap PKS sangatlah berbeda dengan ideologi NU. Ia mengkritik PKS sebagai partai yang cenderung ekslusif dan mempunyai ideologi yang tidak jelas. Jualannya Islam secara simbolik, bukan substantif.


Berbeda dengan rekan-rekannya, Salahuddin Wahid atau Gus Solah mengatakan pemasangan Hasyim Asyari dalam iklan PKS tidak melangar hukum dan etika dan sah-sah saja dilakukan.


Rekonsiliasi


Menanggapi komentar-komentar atas iklan Hari Pahlawan PKS, Sekjen PKS, Anis Matta dan Ketua Fraksi PKS DPR RI, Mahfudz Siddiq menyatakan iklan itu merupakan ajakan rekonsiliasi.

Anis Matta mengatakan Sebagai generasi baru Indonesia, PKS menyadari posisinya sebagai bagian dari mata rantai sejarah bangsa, dan bahwa suatu kesinambungan sejarah merupakan syarat bagi kebangkitan Indonesia. Kita harus bisa mensikapi masa lalu kita secara adil, arif dan proporsional. Berhenti mengadili masa lalu tapi tetap menjadikannya sebagai inspirasi bagi masa depan kita. Kita harus bisa melampaui "luka-luka masa lalu kita" tanpa dendam, belajar berdamai sebagai sesama anak bangsa dan bersatu kembali merebut masa depan bersama.

Para pahlawan adalah manusia biasa. Tapi mereka telah melakukan kerja-kerja luar biasa bagi bangsa yang mempengaruhi hidup kita semua hari ini. Mereka disebut guru atau pahlawan bangsa bukan karena mereka jadi malaikat, tapi karena kontribusi mereka lebih besar dari kelemahan-kelemahan mereka. Tak hanya sosok pahlawan nasional yang ditampilkan dalam iklan tersebut, mantan Presiden Soeharto pun ada.

Mahfudz Siddiq menambahkan bahwa Desember nanti akan ada dialog kebangsaan dengan tema merajut sejarah kepemimpinan bangsa. PKS ingin membuat sebuah forum dialog ahli waris pemimpin bangsa. Keluarga Bung Karno, Bung Hatta, Pak Harto, Pak Habibie dan Gus Dur akan diundang.

Selain itu, akan ada diskusi pada tanggal 19 November nanti dengan tema membangkitkan kembali semangat kepahlawanan. Mutia Hatta, ahli waris Bung Tomo, ahli waris Natsir, Salahuddin Wahid, dan ahli waris Hasyim As'yari akan diundang. Di diskusi ini keluarga Pak Harto tidak undang.


Menanggapi ajakan rekonsiliasi dari PKS, Direktur Eksekutif CIDES, Syahganda Nainggolan dan pengamat politik dari UI, Maswadi Rauf mengatakan ajakan PKS ini kurang kerjaan. Syahganda Nainggolan mengatakan saat ini orang tidak mempersoalkan Soeharto. Ajakan rekonsiliasi ini di luar konteks dan membingunkan.

Maswadi Rauf menambahkan itu menimbulkan kontroversi baru. Nggak perlu itu rekonsiliasi.

Adien Jauharudin, dari GMNU mengatakan bagaimana bisa terwujud rekonsiliasi manakala kasus-kasus yang membelik penguasa Orde Baru itu tidak jelas juntrungnya. Apakah semuanya sudah bisa diterima dan dianggap beres?

Dan Koordinator Kontras, Usman Hamid menilai ini hanya untuk meraih simpati dan mendulang suara dengan segmen yang seluas-luasnya karena momennya sangat tidak tepat. Ini jauh dari upaya menggelar rekonsiliasi yang jujur.

Generasi baru dan generasi lama telah membangun moralitas politik reformasi dengan penegakan hukum. Hukum itu dibuat untuk menyelesaikan masalah dengan cara yang beradab agar tidak ada dendam.

Lalu setiap partai punya klaim atas tradisi dan pendasaran etiknya sendiri. Tradisi ini bagian dari kekhasan dan identitas perjuangan tiap partai. Pengambilan identitas partai, tradisi yang lain selalu diartikan sebagai taktik untuk 'mengurangi' yang lain. Dari sudut ini, iklan PKS itu bersifat ofensif. Jadi kita paham mengapa NU dan Muhammadiyah protes.

Caleg PDIP Budiman Sujatmiko berpendapat untuk mewujudkan rekonsiliasi, tidak perlu sampai mengangkat Soeharto yang tadinya bercitra negatif lalu diangkat menjadi guru bangsa. Kalau mau mewujudkan rekonsiliasi, cukup mengangkat Soeharto setara sebagai manusia biasa yang tidak perlu dideskreditkan.


Berbeda dengan pendapat-pendapat diatas, politisi PDIP, Ribka Tjiptaning yang menulis buku 'Aku Bangga Jadi Anak PKI' mengaku setuju ajakan PKS untuk rekonsiliasi. Tetapi harus adil. Kalau PKS mau angkat pahlawan dan guru bangsa, rekonsiliasi jangan untuk Soeharto saja. Mana rekonsiliasi untuk anak dan keluarga PKI. Demikian halnya putra Sutomo alias Bung Tomo, Bambang Sulistomo yang menyambut baik gagasan rekonsiliasi yang diusung PKS. Ia mengaku akan memenuhi undangan PKS untuk menghadiri dialog Kebangsaan. Baginya, pertemuan ahli waris pemimpin dan pahlawan bangsa bukan rekonsiliasi sebab para tokoh bangsa itu tidak pernah berseberangan. Ini adalah pemupukan kembali cita-cita perjuangan, harapan dan impian bangsa. Bangsa ini rindu dengan nilai-nilai perjuangan 45, nonmaterialistik seperti pejuang masa lalu. Ini untuk kembalikan spirit itu. Ia mengaku bersyukur karena sudah ada pengakuan formal terkait iklan PKS yang menampilkan wajah Bung Tomo.


Sesuai yang disinyalkan, PKS menggelar acara Silahturahim dan Dialog Antar Keluarga Pahlawan Nasional di JCC Senayan Jakarta dengan tema Membangkitkan Kembali Spirit Kepahlawanan pada Kaum Muda.

Acara ini dihadiri oleh Bambang Sulistomo (putra Bung Tomo), KH Sholahuddin Wahid (cucu KH Hasyim Asy'ari), Agustanzil Sjahoezah (cucu KH Agus Salim), Cahyo (putra Jenderal Gatot Subroto), Halida Hatta (putri Bung Hatta), Titik Soeharto, Anis Baswedan, Aisyah Gani Prawiranegara (putri Sjafruddin Prawiranegara), dan Hilmi Aminudin (Ketua Majelis Syura PKS). Dari keluarga KH Ahmad Dahlan dan Soekarno tidak datang.

Acara dibuka oleh Presiden PKS Tifatul Sembiring dengan selingan lagu-lagu perjuangan yang dibawakan grup band Cokelat. Penyair Taufik Ismail juga akan membacakan puisinya.


Siti Hediati alias Titik Soeharto mengappreciate acara tersebut. PKS berjiwa besar. Meskipun negara belum mengakui Pak Harto menjadi pahlawan bangsa, namun sebagian rakyat Indonesia menganggap Pak Harto adalah pahlawan. Dalam kedaaan negara amburadul kayak gini kenapa sih masih lihat kesalahan saja. Kita lihat teladan yang bagus dari pahlawan kita. Di sisi lain, cucu The Grand Old Man KH Agus Salim, Agustansil mengaku ada pihak yang selalu terjebak dalam simbol-simbol kepahlawanan dan simbol status. Bukannya melihat esensi dari kepahlawanan para tokoh itu. [baru] Bambang Sulistomo, putra Bung Tomo mengatakan nggak merasa dipolitisasi, kita kan punya sikap. Kalau menguntungkan bagi kehidupan bernegara kenapa kita nggak dukung. Itu haknya partai politik untuk mengambil setiap momen politik.


Sementara Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsudin mengaku sudah menghubungi keluarga KH Ahmad Dahlan, tapi tidak ada yang mau datang. Ketidakhadiran keluarga Ahmad Dahlan, karena keberatan dengan iklan PKS yang memasang KH Ahmad Dahlan tanpa ijin. Meski begitu, ia juga mengapresiasi langkah PKS yang melakukann rekonsiliasi dengan keluarga tokoh pahlawan Nasional.

Pengamat politik Anies Baswedan menilai apa yang dilakukan PKS tidak lepas dari motif menuju Pemilu 2009. Masalahnya, apakah PKS konsisten usai rekonsiliasi itu, atau PKS hanya menggelar acara sesaat. Kalau tidak bisa kontraproduktif.


Presiden PKS Tifatul Sembiring dalam sambutannya menegaskan pertemuan antar keluarga pahlawan yang digagas PKS adalah untuk silaturahmi, bukan untuk mencari dana kampanye atau memperkeruh suasana politik. PKS bukan kroni kelompok tertentu dan bukan kolutif. Inti acara ini adalah silaturahim.

PKS tidak ingin mengadili sejarah. PKS hanya ingin mengambil teladan dari sejarah yang baik dan meninggalkan yang buruk. PKS ingin meng-cut off segala dendam sejarah agar tidak ada lagi dendam antar generasi dan pelaku sejarah. Ia tidak khawatir kedatangan Titik Soeharto akan membuat citra buruk pada PKS. Ia menyerahkan sepenuhnya pada penilaian masyarakat. Kami kedepankan adalah rekonsiliasi nasional. Ketua Dewan Syuro PKS, Hilmi Aminuddin, mengatakan terlepas dari muatan politik acara PKS, pihaknya hanya ingin pertemuan itu jadi sarana komunikasi dan menjaga hubungan sesama umat.


Iklan Kok Beda?


Presiden PKS, Tifatul Sembiring di awal penanyangan iklan sempat mengatakan tidak pernah menyepakati iklan yang memberikan gelar pahlawan dan predikat guru bangsa kepada mantan Presiden Soeharto. PKS tidak pernah mengakui Soeharto sebagai pahlawan maupun guru bangsa.

Ia mengaku ada perbedaan antara iklan yang ditunjukkan kepadanya saat masih dalam perencanaan dengan iklan yang akhirnya ditayangkan di media massa televisi itu. Iklan yang ditunjukkan kepadanya saat itu adalah potret gambar dan tulisan yang dibagi menjadi beberapa bagian. Pertama, potret Bung Karno dan Soeharto yang ditampilkan dengan penegasan sebagai orang yang sudah berbuat sesuai yang mereka bisa. Kedua, potret Sudirman dan Bung Tomo yang sudah memberikan yang mereka punya. Ketiga, potret Ahmad Dahlan dan Hasyim yang disebut sebagai sosok guru bangsa. Terakhir barulah tokoh Mohammad Hatta dan Moh Natsir dengan komentar mereka adalah pahlawan kita.


Sebaliknya, Sekjen DPP PKS, Anis Matta menolak jika dikatakan tayangan iklan itu belum disampaikan kepada pimpinan di DPP PKS. Ketua Fraksi PKS DPR RI, Mahfudz Siddiq mengatakan tak ada yang keliru dengan konsep iklan tersebut dan tidak akan ada revisi. Iklan itu telah mengalami beberapa perubahan dari konsep yang dipresentasikan di hadapan DPP PKS. Pada perubahan terakhir, Presiden PKS tidak menghadiri pertemuan. Ia mengakui memang ada perseteruan internal. Tapi PKS tetap solid. Itu persoalan teknis. Sudah selesai, karena memang gelar kepahlawanan itu ditentukan presiden. Wasekjen PKS, Fahri Hamzah menambahkan perseteruan Tifatul dan Anis Matta hanya masalah perbedaan pernyataan saja. Ia juga membantah ada keretakan di tubuh PKS. PKS hingga saat ini masih solid. Iklan itu keputusan bulat.

Anggota Fraksi PKS DPR RI, Agus Purnomo mengatakan PKS telah mengkalkulasi dampak penayangan iklan dengan ongkos Rp 2 miliar itu. Bujet iklan ini masih di bawah Partai Gerindra. Tujuan pembuatan iklan adalah menjaring dukungan masyarakat dengan dana yang terbatas. Jika berdampak pada citra partai, itu sudah risiko. Ia mempersilakan pihak-pihak yang keberatan dengan iklan itu mengajukan gugatan ke Komisi Penyiaran Indonesia atau Dewan Pers.


Iklan Lanjutan


Sekretaris Jenderal PKS Anis Matta dan Presiden PKS, Tifatul Sembiring menegaskan akan kembali memunculkan iklan. Anis Matta mengatakan temanya The Next Indonesia. Ia memastikan, bukan hanya Soeharto atau pun tokoh besar lainnya yang akan tampil di iklan PKS nanti. Bisa jadi nanti kami menampilkan orang kecil. Tifatul Sembiring iklan politik itu tetap akan melahirkan kejutan baru.


Sebagai penutup pernyataan Endang Suryadinata, patut direnungkan. Para pahlawan sejati (yang belum ditetapkan) tidak haus gelar pahlawan. Negeri ini sebenarnya lebih membutuhkan jiwa kepahlawanan daripada selembar kertas penetapan pahlawan. Kita semua bisa berperan mempersembahkan rangkaian pengorbanan tanpa pamrih bagi bangsa, negara, dan kemanusiaan, tanpa terobsesi disebut "hero" atau pahlawan.


Source of picture:

http://www.waspada.co.id/images/stories/tifatul_sembiring_headshot.jpg
aw/sur

Summary
HEBOH IKLAN SOEHARTO

http://suryama.multiply.com/journal/item/314/HEBOH_IKLAN_SOEHARTO_updated_05_Desember_2008

Tidak ada komentar:

Posting Komentar