jika politik adalah sesuatu yang abu-abu
yang menjadi senjata para penguasa
yang menjadi sindikat pengejar harta dunia
maka aku bukanlah itu
Namun jika politik adalah pembelaan & perjuangan
yang membangunkan keberanian retorika
dan lantang meneriakkan keadilan
maka aku adalah politikus itu

Jika demokrasi adalah belenggu penjajahan
diramaikan oleh tangan-tangan gila jabatan
disetir untuk mengubur kepribadian anak bangsa
maka itu bukan tempatnya
Namun jika demokrasi adalah sebuah peluru pembebas
yang pengusungnya adalah teladan sejati
dan ideologinya menembus keangkuhan parlemen
maka itu adalah kendaraannya..

Senin, 04 Februari 2013

"Mampukah Anis Matta?" | Analisis dari detikcom

Oleh Rico Marbun | detikcom


Nadi politik Partai Keadilan Sejahtera kembali berdenyut. Terpilihnya Anis Matta menjadi presiden baru PKS ditengarai menjadi resep mujarab mengatasi ‘musibah’ ditahannya Luthfi Hasan Ishaaq oleh KPK beberapa hari sebelumnya.
Problem yang dihadapi PKS memang tidak sepele. Walau banyak ketua umum partai besar lainnya jelas-jelas terbelit kasus hukum, hanya ketua umum PKS-lah yang langsung ‘diambil’ dan ditahan KPK. Bukan hanya citra yang menjadi pertaruhan. Moral kader dan konstituen partai yang lahir pada era reformasi itu jelas menyentuh titik nadir. Apes-nya lagi, hantaman ini terjadi justru saat pemilu sudah membayang di depan mata. Mampukah pria kelahiran Bone 44 tahun silam ini memulihkan posisi PKS di gelanggang politik nasional?

Recovery Kilat
Langkah pertama yang dilakukan Anis Matta dan petinggi PKS ialah melakukan ‘penyegaran’ secara kilat. Keputusan Luthfi untuk mundur, segera setelah ditetapkan sebagai tersangka, dan kecepatan pengangkatan Anis Matta sebagai presiden baru, dalam waktu kurang dari 24 jam memberi pesan kepada publik bahwa PKS tidaklah lumpuh.
Langkah ini dapat dibaca sebagai upaya pertama untuk meyakinkan konstituen dan simpatisan PKS bahwa, mesin partai senantiasa memiliki ‘self healing mechanism’ dan siap dihidupkan bahkan dalam situasi sesulit apapun. Apalagi, proses pergantian pucuk kepemimpinan partai yang jamak diwarnai adu otot faksi-faksi, justru sama sekali tidak terlihat. Singkatnya, soliditas partai di mata publik diharapkan pulih oleh langkah ini.

Pertobatan Nasional
Langkah kedua yang diambil Anis Matta erat kaitannya dengan pemulihan citra. Presiden baru tersebut mengumumkan visi kebangkitan PKS dimulai dari gerakan pertobatan nasional. Langkah ini mengandung pesan bahwa PKS bukanlah partai yang steril dari cela, namun di saat yang sama, sebuah kesalahan tidak lantas mengubur PKS untuk selamanya.

Pesan Ketulusan
Langkah ketiga yang diambil oleh Anis Matta lekat hubungannya dengan ‘angle’ baru citra politik yang ingin dihadirkan. Hampir semua riset politik menyiratkan bahwa kepercayaan publik kepada partai politik dan politisi jatuh pada titik terendah. Publik menilai bahwa politisi dengan segala cara menggunakan pengaruhnya untuk memperoleh jabatan publik yang penting. Tidak hanya itu, publik lantas mempersepsi bahwa jabatan publik itu lah yang dipergunakan sebagai pintu untuk memperkaya diri sendiri.
Pengumuman terbuka Anis matta untuk mundur dari jabatannya sebagai Wakil Ketua DPR sekaligus anggota legislatf, justru di saat ia mencapai posisi nomor satu di partai nya, dapat dibaca sebagai langkah Anis untuk mendorong wacana baru ketulusan dalam berpolitik. Jabatan politik yang tinggi tidak harus dikonversi menjadi jabatan publik yang menggiurkan.

Pertahanan Terbaik ialah Menyerang
‘The best defense is offense’. Prinsip ini sepertinya tergambar jelas dalam pidato perdana Anis Matta yang ditayangkan langsung oleh banyak media. Saat kecaman datang bertubi-tubi, orasi Anis Matta justru jauh dari kesan ‘menyerah’. Jika diperhatikan secara seksama, intonasi dan pilihan kata Anis justru mengandung nada ancaman. Kata dan tema konspirasi yang digunakan secara berulang, jelas merupakan warning bagi pihak yang ingin coba-coba menjadikan penahanan LHI sebagai kartu truf menjatuhkan PKS.
Membaca drama PKS akhir akhir ini saya jadi teringat Golkar pasca runtuhnya Orde Baru. Siapa sangka setelah berkuasa selama hampir 3 dekade, kekuasaan mutlak yang ditata sedemikian rupa harus runtuh. Tuntutan, ancaman dan serangan politik agar Golkar segera bubar, kerap terdengar saat itu.
Namun, berbekal strategi yang tepat, partai yang hampir saja dibubarkan pada tahun 1998 dan terpuruk pada Pemilu 1999, justru menjadi pemenang dalam Pemilu 2004. Sementara di saat yang sama, ada partai yang adem ayem saja tanpa keributan satupun, justru gagal dalam pemilu dan kini hilang tanpa bekas.
Akankah PKS kembali bangkit kembali bangkit dari keterpurukan? Waktu yang akan menjawab.


*) Rico Marbun adalah peneliti The Future Institute, Staf Pengajar Universitas Paramadina dan Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian
Sumber: Detik.Com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar