jika politik adalah sesuatu yang abu-abu
yang menjadi senjata para penguasa
yang menjadi sindikat pengejar harta dunia
maka aku bukanlah itu
Namun jika politik adalah pembelaan & perjuangan
yang membangunkan keberanian retorika
dan lantang meneriakkan keadilan
maka aku adalah politikus itu

Jika demokrasi adalah belenggu penjajahan
diramaikan oleh tangan-tangan gila jabatan
disetir untuk mengubur kepribadian anak bangsa
maka itu bukan tempatnya
Namun jika demokrasi adalah sebuah peluru pembebas
yang pengusungnya adalah teladan sejati
dan ideologinya menembus keangkuhan parlemen
maka itu adalah kendaraannya..

Selasa, 09 Agustus 2011

Ustadz Dr. Hidayat Nurwahid buka puasa bersama Bp. Wardoyo, Bupati Sukoharjo serta Kader PKS

PKS Sukoharjo, Pada hari Jumat 5 Agustus 2011 pegurus DPC PKS Tawangsari mendapat undangan dari DPD PKS Sukoharjo untuk menghadiri buka dan tarawih bersama Ust Hidayat Nur Wahid di Pendopo Kabupaten Sukoharjo. Acara diawali dengan buka puasa bersama dilanjutkan sholat maghrib berjamaah dengan imam Ust Hidayat Nur Wahid, kemudian selesai sholat dilanjutkan makan sampai waktu isya tiba.

Sholat isya dilanjutkan tarawih diimami oleh Ust Imam Syuhodo. Selesai sholat posisi duduk jamaah dibuat melingkar untuk mendengarkan ceramah. Seremonial acara diawali dengan Tilawah oleh Bapak Arifin dilanjutkan sambutan oleh Ketua DPD PKS Sukoharjo Bapak Bimawan. Selanjutnya adalah sambutan oleh Bupati Sukoharjo Bapak Wardoyo Widjaya. Bupati yang berasal dari PDIP yang terkenal dengan nada bicara yang lantang dan ceplas-ceplos ini mengatakan bahwa sekarang antara PDIP dan PKS sudah mirip, yaitu sama-sama ada tausiyah, karena PDIP sekarang denga Baitul Muslimin-nya menggerakkan kader mereka yang beragama Islam untuk lebih taat beribadah. Namun demikian bupati juga menyampaikan dalam 9 bulan belakangan ini banyak sms yang masuk mengkritik dirinya, salah satunya kebiasaan bupati yang sering menggelar pengajian banyak mendapat kritikn masyarakat bahkan ada yang mengatakan bupati telah mempolitisir agama. Namun bupati mengatakan hal itu tidak menjadi masalah, selama niatnya ikhlas dan untuk kebaikan Sukoharjo.

Selanjutnya adalah acara inti berupa taujih dari Ust Hidayat Nur Wahid. Dalam taujihnya beliau mengatakan bahwa tanpa banyak disadari masyarakat sesungguhnya malam ini kita sekaligus melaksanakan tirakaan memperingati HUT RI ke 68 versi Tahun Hijriyah, karena dahulu kemerdekaan Indonesia diproklamirkan pada tanggal 9 Ramadhan 1364 H. Jadi kemerdekaan Indonesia sesungguhnya merupakan nikmat dan karunia dari Allah, coba dibayangkan kalau kemerdekaan jatuh pada bulan Desember bisa dibayangkan sekarang saat peringatan kemerdekaan meriam di Istana Negara berdentum sebanyak 12 kali yang memekakkan telinga, belum lagi pada bulan Desember biasanya jatuh pada musim hujan sehingga upacara bendera dilaksanakan di tengah hujan. Ummat Islam saat itu juga dikenal dengan jiwa besar dengan sifatnya yang mau mengalah demi kepentingan bangsa dengan ikhlas menghilangkan 7 kata dalam Pembukaan UUD 45 karena ada permintaan dari saudara non muslim untuk menghilangkan kata itu, coba saja saat itu Ummat Islam tidak mengalah maka besar kemungkinan Republik Indonesia ini tidak akan berdiri. Jadi Indonesia yang merdeka adalah kumpulan komitmen dan kebersamaan untuk membangun keragaman dan kebangsaan. Bisa dibayangkan negara-negara yang saat ini memperjuangkan kemerdekaannya seperti Palestina, Libya, Yaman, Kosovo dan lain-lain yang juga butuh dukungan kita. Terakhir Ust Hidayat menyampaikan bahwa Ramadhan ini adalah momentum bagi kita unuk membangun masyarakat Madani. Masyarakat Madani menurut beliau bukan masyarakat yang “madani”(bahasa Jawa, artinya mengolok-olok), bukan juga masyarakat yang “medeni”(menakutkan) dan bukan juga masyarakat yang “madani”(menyama-nyamai).

Acara ini juga dihadiri oleh perwakilan dari istansi terkait di Kabupaten, juga dari Muhammadiyah dan NU.






Sumber: PKS Sukoharjo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar