jika politik adalah sesuatu yang abu-abu
yang menjadi senjata para penguasa
yang menjadi sindikat pengejar harta dunia
maka aku bukanlah itu
Namun jika politik adalah pembelaan & perjuangan
yang membangunkan keberanian retorika
dan lantang meneriakkan keadilan
maka aku adalah politikus itu

Jika demokrasi adalah belenggu penjajahan
diramaikan oleh tangan-tangan gila jabatan
disetir untuk mengubur kepribadian anak bangsa
maka itu bukan tempatnya
Namun jika demokrasi adalah sebuah peluru pembebas
yang pengusungnya adalah teladan sejati
dan ideologinya menembus keangkuhan parlemen
maka itu adalah kendaraannya..

Minggu, 04 Juli 2010

"Rekening Gendut" Momentum Pulihkan Citra Polri

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA. Peneliti Pusat Kajian Anti Korupsi Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Hifdzil Alim menilai munculnya pemberitaan temuan "rekening gendut" sejumlah perwira merupakan momentum untuk memulihkan citra institusi polisi.

"Sebenarnya pemberitaan tersebut justru membuka jalan bagi institusi Polri untuk melakukan pembenahan ke dalam dan reformasi birokrasi di kepolisian," katanya di Yogyakarta.

Menurut dia, pemberitaan tersebut merupakan jalan masuk yang tepat bagi Polri untuk membongkar perbuatan oknum polisi yang merusak citra salah satu pilar institusi penegak hukum di Indonesia.


"Polri jangan dulu resah dengan pemberitaan tersebut termasuk meributkan sampul majalah yang dinilai melukai perasaan anggota Polri, namun seharusnya justru terpacu untuk membuktikan bahwa itu hanya ulah oknum, dan mengusutnya hingga tuntas," katanya.

Ia mengatakan, langkah Polri untuk menuntut salah satu media massa yang menerbitkan pemberitaan tersebut dengan aduan pencemaran nama baik, sebaliknya justru akan memperburuk citra polisi sendiri.


"Sebenarnya Polri lebih bijak jika meminta hak jawab maupun bisa melalui dewan pers yang punya kewenangan untuk menyelesaikan masalah pemberitaan suatu media. Penerapan pasal karet suatu kemunduran bagi bagi Polri," katanya.

Hifdzil mengatakan, pemberitaan tersebut juga tidak menyebut nama institusi Polri sehingga tidak mencemarkan nama baik Polri, namun hanya menulis nama-nama perwira polisi yang punya rekening miliaran.

"Kenapa harus kebakaran jenggot, justru Polri harus secepatnya mengusut nama-nama yang disebut memiliki 'rekening gendut' di pemberitaan tersebut agar semua ada kejelasan," katanya.

Ia mengatakan, melihat dari kasus mantan Kabareskrim Komjen Susno Duaji yang justru malah dikaburkan maka dalam kasus "rekening gendut" perwira polisi jangan sampai ada pengaburan pokok masalah karena Polri justru akan semakin tidak dipercaya masyarakat.

"Gugatan ke media tersebut justru terkesan sebagai upaya mengaburkan masalah, ini justru akan membuat kepercayaan masyarakat terhadap Polri semakin surut," katanya.


Sumber: Republika Newsroom

Tidak ada komentar:

Posting Komentar