jika politik adalah sesuatu yang abu-abu
yang menjadi senjata para penguasa
yang menjadi sindikat pengejar harta dunia
maka aku bukanlah itu
Namun jika politik adalah pembelaan & perjuangan
yang membangunkan keberanian retorika
dan lantang meneriakkan keadilan
maka aku adalah politikus itu

Jika demokrasi adalah belenggu penjajahan
diramaikan oleh tangan-tangan gila jabatan
disetir untuk mengubur kepribadian anak bangsa
maka itu bukan tempatnya
Namun jika demokrasi adalah sebuah peluru pembebas
yang pengusungnya adalah teladan sejati
dan ideologinya menembus keangkuhan parlemen
maka itu adalah kendaraannya..

Rabu, 19 November 2008

Amelia Yani: Kami Tidak Mewarisi Konflik!


JAKARTA, Rabu. Putri pahlawan revolusi Jenderal Ahmad Yani, Amelia Yani, mengenang ayahnya yang mati ditembak saat peristiwa 30 September 1965. Dalam dialog antarkeluarga pahlawan, Selasa (19/11), di Jakarta, Amelia bercerita tentang warisan yang diterimanya dari sang ayah.

Warisan itu berupa nilai-nilai kekeluargaan dan prinsip teguh berjuang untuk bangsa. Ia mengatakan, sebagai anak dari korban revolusi, dirinya tak mewarisi konflik.

Amelia menuturkan, satu pertanyaan yang selalu diutarakan ibu dan selalu timbul dalam benaknya, mengapa Jenderal Ahmad Yani dibunuh? "Saat saya ke Pulau Buru, mereka yang di sana bertanya, mengapa saya ditahan? Saya katakan, pertanyaan itu juga merupakan pertanyaan yang diajukan ibu saya, 'Kenapa Bapakmu dibunuh, apa salah dia?'. Saya katakan di sini, sekarang banyak orang yang mencari popularitas. Kami, anak-anak korban, sudah berdamai. Kami tidak mewarisi konflik dan tidak membawa konflik," kata Amelia.

Ia berharap generasi muda saat ini bisa mewarisi nilai-nilai baik dari seorang pahlawan. Ahmad Yani, katanya, selalu bangga menjadi prajurit yang mati untuk negara. "Mati untuk negara adalah mati yang paling terhormat," tuturnya.

Dalam kesempatan yang sama, putra Bung Tomo, Bambang Sulistomo, mengatakan bahwa perbedaan garis politik yang dijalani orangtua, seharusnya tak diwarisi oleh anak-anaknya.

Ia mengatakan, Bung Tomo pernah ditahan pada masa pemerintahan Soekarno dan lebih lama menjalani penahanan pada masa Soeharto. Namun, sebagai anaknya, ia tetap berhubungan baik dengan putra-putri para pemimpin bangsa itu.

"Makanya, tadi saya katakan kepada Mbak Titiek (Titiek Soeharto), urusan orangtua-orangtua, anak sama anak tetap berteman. Bapak saya memang konsisten, kalau tidak sesuai dengan perjuangan 45 langsung dikritik. Mungkin sikap itu yang menimbulkan sikap tidak suka dari mereka yang dikritik," kata Bambang.


Sumber: Kompas Cyber Media

Tidak ada komentar:

Posting Komentar