jika politik adalah sesuatu yang abu-abu
yang menjadi senjata para penguasa
yang menjadi sindikat pengejar harta dunia
maka aku bukanlah itu
Namun jika politik adalah pembelaan & perjuangan
yang membangunkan keberanian retorika
dan lantang meneriakkan keadilan
maka aku adalah politikus itu

Jika demokrasi adalah belenggu penjajahan
diramaikan oleh tangan-tangan gila jabatan
disetir untuk mengubur kepribadian anak bangsa
maka itu bukan tempatnya
Namun jika demokrasi adalah sebuah peluru pembebas
yang pengusungnya adalah teladan sejati
dan ideologinya menembus keangkuhan parlemen
maka itu adalah kendaraannya..

Senin, 17 Januari 2011

Menikmati Kelelahan

By : Abu Izzuddin
-------------------
Seorang kawan berkata kepadaku,
"Aku meminta kepada الله sekuntum bunga yang indah nan harum mewangi, tapi الله memberiku sebatang kayu yang berduri"
"Akupun minta kepada الله seekor kupu-kupu yang bersayap indah nan cantik. Akan tetapi الله memberiku seekor ulat yang berbulu, menakutkan dan menjijikkan".
"Akupun meminta kepada الله suasana indah dengan rona pelangi warna-warni menyelimuti, tapi الله menjadikan suasana mendung dan hujan menyiram bumi".

Aku marah dan protes kepada ROBBI, betapa tidak adilnya ini…
Katanya الله maha kaya, maha memberi, maha mengabulkan permintaan hamba-Nya. Tapi kenapa permintaanku tak dikabulkan, harapanku tak dipenuhi.

Namun seiring berjalannya waktu, setelah batang yang berduri tersebut kutanam, kusirami, dan kurawat sebaik mungkin, maka mulai keluarlah kuncup-kuncup daun dan ranting, kian lama kian banyak dan tumbuh semakin subur. Dan akhirnya keluarlah bunga yang harum semerbak wangi, indah di lihat nan menyenangkan hati.

Seiring berjalannya waktu, setelah hidup dengan memakan dedaunan, ulat itupun lama kelamaan berubah bentuk menjadi kepompong. Dari kepompong itulah, pelan namun pasti muncul seekor kupu-kupu dengan warna sayap yang sangat indah. Terbang kian kemari menari-nari, hinggap di atas bunga-bunga.

Saat hujan reda dan suasana menjadi cerah, kulihat pelangi menghiasi langit, indah warna-warni.

Sahabat, ternyata الله sedang mengajari hamba-Nya ini untuk memahami makna sebuah proses. Ternyata untuk meraih suatu kesuksesan dibutuhkan kerja keras dan keuletan. Ternyata untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan, kita harus melaksanakan ikhtiar selain do’a yang jelas harus kita panjatkan dengan segenap kesungguhan. Sungguh, bisa saja الله langsung mengabulkan setiap permintaan kita. Tapi kita diciptakan sebagai sebuah makhluk yang diberikan kewajiban dan juga hak, tugas dan imbalan, amanah dan pahala serta azimah dan rukshah.

Sahabat semua, adakalanya kita merasa sudah berusaha sungguh-sungguh, namun الله tak juga mengabulkan keinginan kita. Atau mungkin sesuatu yang kita dapatkan tidak sesuai harapan kita. Pasti perasaan kita akan kecewa, dongkol atau bahkan marah. Tapi itu takkan menyelesaikan masalah. Justru masalah kita kian bertambah. Cobalah kita menyendiri dan merenung, lalu husnudzon pada الله. Mungkin الله belum memberikan sesuatu yang kita minta karena sesungguhnya kita memang belum siap menerimanya.

Mungkin juga الله ingin menyempurnakan kebaikan kepada kita di dunia ini.

Bukankah orang akan merasa mendapatkan anugrah besar bernama sehat tatkala dirinya pernah sakit.
Bukankah orang akan merasa mendapatkan anugrah besar bernama kaya tatkala dirinya pernah miskin.
Bukankah orang akan merasa mendapatkan anugrah besar bernama keberhasilan tatkala dirinya pernah menemui kegagalan.
Bukankah orang akan merasakan nikmatnya makan dan minum jika dia berpuasa.


“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.“ (Qs. Al-Insyirah: 5-6)

Dan kemenangan dakwah tercinta inipun memerlukan proses yang panjang. Ia harus diperjuangkan dengan kader dan jundi yang memiliki maknawiyah terbaik, waktu, tenaga dan pikiran terbaik, harta terbaik, keikhlasan terbaik, pengorbanan terbaik, keistiqomahan terbaik, semangat bekerja terbaik dan segala sesuatu yang terbaik. Insya الله sang pemilik agama inipun akan memberikan kemenangan terbaik. Dan bahwa kemenangan dakwah itu tidak akan bisa tercapai tanpa pengorbanan yang sungguh-sungguh dan melaui proses yang sangat panjang.

Jika tak bisa engkau berikan hartamu pada dakwah ini, maka berikanlah waktumu, jika tak bisa maka berikanlah fikiranmu, jika tak bisa berikanlah jasadmu, jika tak bisa, berikanlah jiwamu... Jika tetap tak bisa... apalagi yang bisa engkau ajukan sebagai bukti cintamu pada-Nya...???

Ikhwah fillah, menunggu kemenangan dengan tetap mengalir dan menelusuri proses ini adalah sebauh keharusan bagi seorang jundi dakwah. Liqo kita, aksi sosial kita, mukhoyyam kita, shoum kita, tilawah kita, qiyamulail kita, dan semua kerja-kerja dakwah kita adalah proses menuju kemenangan itu.

Lelah, sakit, terluka, sedih, bangga dan gembira adalah warna dalam menapaki proses ini. Jika pada akhirnya kemenangan hakiki yang akan kita raih, apakah lelah itu sesuatu yang menyusahkan…? Tentu saja, bukan. Tapi kelelahan ini adalah interupsi dari kenikmatan dan kebahagiaan.... insya الله .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar