jika politik adalah sesuatu yang abu-abu
yang menjadi senjata para penguasa
yang menjadi sindikat pengejar harta dunia
maka aku bukanlah itu
Namun jika politik adalah pembelaan & perjuangan
yang membangunkan keberanian retorika
dan lantang meneriakkan keadilan
maka aku adalah politikus itu

Jika demokrasi adalah belenggu penjajahan
diramaikan oleh tangan-tangan gila jabatan
disetir untuk mengubur kepribadian anak bangsa
maka itu bukan tempatnya
Namun jika demokrasi adalah sebuah peluru pembebas
yang pengusungnya adalah teladan sejati
dan ideologinya menembus keangkuhan parlemen
maka itu adalah kendaraannya..

Rabu, 19 Mei 2010

Negeri yang membodohi diri sendiri...

Seorang teman, pribumi Singapura, memberitahu saya bahwa Indonesia sebenarnya dapat menghemat setidaknya Rp 60 triliun per tahun kalau pemerintah berani menghentikan program rekapitalisasi perbankan yang sudah berjalan sekitar satu dekade ini.
“Dengan program rekapitalisasi yang sangat besar itu, yang paling menderita tentu saja rakyat, termasuk mereka yang setia membayar pajak. Duit hasil jerih payah mereka dihambur-hamburkan untuk membiayai krisis ciptaan para konglomerat yang menggembosi banknya sendiri,” katanya mencoba meyakinkan.

Informasi yang disampaikannya itu tentu saja membuat saya terperangah dan dalam sekejap bayangan wajah-wajah pengusaha yang sering menghiasi media massa pun berkelebatan di benak saya.

“Wah, bener juga informasi itu. Bangsa Indonesia hampir melupakannya… Asem tenan ki…” demikian saya membatin.

Dia pun melanjutkan, dengan program rekapitaliasi perbankan yang sangat masif itu, selain menjadikan utang Indonesia membengkak luar biasa menjadi sekian belas ratus triliun, juga menjadikan pengelola sejumlah bank ongkang-ongkang kaki, tidak perlu berusaha memajukan bank yang dikelolanya.

“Lha mereka (manajemen bank) itu tidur saja, duit pasti masuk kok dari hasil bunga rekapan yang dilakukan BPPN dulu itu. Program rekapitalisasi perbankan ini sudah saatnya dihentikan. Hanya membebani APBN kalian. Coba lihat di APBN, anggaran untuk pos rekapitalisasi perbankan itu sekitar Rp 60 triliun per tahun. Itu bukan jumlah kecil,” kata teman saya tersebut.

Ingatan saya langsung melayang pada proyek jalan tol Trans-Jawa yang tertatih-tatih itu. Dengan perkiraan investasi proyek jalan tol sekitar Rp 50 miliar-Rp 70 miliar per km, jika biaya rekap perbankan itu dicoret dari APBN dan dialihkan untuk membangun jalan tol, dalam setahun negeri ini dapat menambah ruas jalan tol hingga 1.000 km… Luar biasa tentu. Dengan diresmikannya ruas jalan tol Palimanan-Kanci yang hanya 35 km itu, total jalan bebas hambatan di negeri ini baru 650 km.

Ironi Infrastruktur

Indonesia mengenal jalan tol sejak 1970-an. Jagorawi, ruas tol sepanjang 46 km yang mulai digunakan sejak 1978, merupakan salah satu milestones di Asia. Tiga dekade kemudian, peta jalan tol di Indonesia hampir tidak ada apa-apanya.

Bandingkan dengan jalan tol di China yang baru mulai dibangun pada 1988. Total panjang jalan tol di China kini mendekati 55.000 km, Indonesia masih di bawah 1.000 km. Kualitas jalan tol di China sama dengan infrastruktur serupa di Eropa atau AS.

Ingatan saya pun melayang kepada betapa perbankan sekarang ini, yang dapat menorehkan untung bertriliun-triliun rupiah tapi nyaris tidak mau berbagi risiko dengan nasabah. Meskipun suku bunga acuan BI-Rate ada di kisaran paling rendah dalam sejarah, nasabah debitor tetap saja dibebani suku bunga tinggi.

Seorang teman di kantor mengeluh betapa dia harus tetap membayar bunga pinjaman KPR yang relatif tinggi. Dia dikenai bunga KPR sekitar 14% per tahun. Saat ini bunga deposito di bawah 5% ketika BI-Rate—yang seharusnya menjadi acuan penetapan suku bunga pinjaman—di bawah 6%. Terdapat spread hingga 9% antara simpanan dan pinjaman.


“Wah, kalau gitu sih sampeyan ini secara tidak langsung menjadi ‘karyawan’ luar perbankan, yang harus membantu membesarkan laba bank tempat sampeyan ngambil kredit itu…ha…ha…ha…” saya menanggapi sambil nyekakak.

Teman itu malah bilang ya mau bagaimana lagi, wong kenyataannya memang seperti itu dan tidak memiliki pilihan lain. “Beginilah hidup di negeri yang bernama Indonesia… penuh penderitaan… Mereka itu tega ya makan bangsanya sendiri… Di****t tenan ah…”

Mengembargo Diri

Belum selesai dengan berbagai lamunan yang menyedihkan itu, peranti komunikasi saya pun ber-tit… tit… tit… Seketika itu saya buka satu pesan yang bunyinya cukup menggetarkan hati saya. Demikian bunyinya, saya kutipkan secara verbatim—apa adanya: “Suatu pagi, kami menjemput seseorg di bandara. Org itu sdh tua, kisaran 60 thn. Si Bpk adl pengusaha asal Singapura, dgn logat bicara gaya melayu; english, beliau menceritakan pengalaman2 hidupnya kpd kami yg msh muda.

Beliau berkata, ”Ur country is so rich!” Ah biasa banget denger kata2 itu. Tapi tunggu dulu… ”Indonesia doesn’t need the world, but the world needs Indonesia,” lanjutnya. ”Everything can be found here in Indonesia, U don’t need the world.”

”Mudah saja, Indonesia paru2 dunia. Tebang saja hutan di Kalimantan, dunia pasti kiamat. Dunia yg butuh Indonesia! Singapura is nothing, we can’t be rich without Indonesia.. 500.000 org Indonesia berlibur ke Singapura tiap bulan.. Bisa terbayang uang yg masuk ke kami, apartemen2 terbaru kami yg beli org2 Indonesia, ga peduli harga selangit, laku keras. Lihatlah RS kami, org Indonesia semua yg berobat. Trus, kalian tau bgmna kalapnya pemerintah kami ketika asap hutan Indonesia masuk? Ya, bener2 panik.

Sangat terasa, we are nothing. Kalian tau kan kalo Agustus kmrn dunia krisis beras. Termasuk di Singapura dan Malaysia? Kalian di Indonesia dgn mudah dpt beras.. Liatlah negara kalian, air bersih di mana2, liatlah negara kami, air bersih pun kami beli dari Malaysia. Saya ke Kalimantan pun dlm rangka bisnis, krn pasirnya mengandung permata. Terliat glitter kalo ada matahari bersinar. Penambang jual cuma Rp 3.000/kg ke pabrik china, si pabrik jual kembali seharga Rp 30.000/kg. Saya liat ini sbg peluang.. Kalian sadar tidak kalo negara2 lain selalu takut mengembargo Indonesia?!

Ya, karena negara kalian memiliki segalanya. Mereka takut kalau kalian menjadi mandiri, makanya tidak diembargo. Harusnya KALIANLAH YG MENG-EMBARGO DIRI KALIAN SENDIRI. Belilah pangan dari petani2 kita sendiri, belilah tekstil garmen dari pabrik2 sendiri.. Tak perlu impor klo bisa produk sendiri. Jika kalian bisa mandiri, bisa MENG-EMBARGO DIRI SENDIRI, INDONESIA WILL RULE THE WORLD!!!”.



Oleh: Ahmad Djauhar, Wartawan Jaringan Informasi Bisnis Indonesia
Sumber: Solopos Online

Tidak ada komentar:

Posting Komentar