jika politik adalah sesuatu yang abu-abu
yang menjadi senjata para penguasa
yang menjadi sindikat pengejar harta dunia
maka aku bukanlah itu
Namun jika politik adalah pembelaan & perjuangan
yang membangunkan keberanian retorika
dan lantang meneriakkan keadilan
maka aku adalah politikus itu

Jika demokrasi adalah belenggu penjajahan
diramaikan oleh tangan-tangan gila jabatan
disetir untuk mengubur kepribadian anak bangsa
maka itu bukan tempatnya
Namun jika demokrasi adalah sebuah peluru pembebas
yang pengusungnya adalah teladan sejati
dan ideologinya menembus keangkuhan parlemen
maka itu adalah kendaraannya..

Kamis, 29 Oktober 2009

Eksistensi Parpol Islam

[ Part-1 ]

Tergerusnya perolehan suara Parpol Islam yang selama ini berada di level menengah: PPP, PKB, PBB dan PAN dengan basis massa Islam pada Pemilu 2009, memunculkan beragam komentar skeptis apakah Parpol Islam tersebut masih mampu bertahan dan eksis hingga pemilu tahun 2014 nanti digelar?

Komentar skeptis tersebut muncul ketika raihan suara Parpol Islam tersebut ternyata meleset jauh dari target yang diharapkan. Alih-alih bertahan dengan perolehan suara sama dengan Pemilu lalu, justru yang terjadi adalah penurunan jumlah suara sangat signifikan. Yang paling mengenaskan tentu saja adalah PBB (Partai Bulan Bintang) yang dikomandani oleh Menteri Kehutanan, MS. Ka’ban, karena tidak mampu mencapai ambang batas 2,5%. Artinya bahwa, sejarah Partai Bulan Bintang berakhir pada tahun 2009

Tak terkecuali PKS yang sebelum Pemilu digelar sejumlah elite partai mengklaim mampu meraih 20% suara, ternyata juga terkena imbas Tsunami Demokrat. Walau masih untung, kalau bisa dibilang demikian, karena perolehan kursi di DPR pada pemilu lalu 47 kursi, kini bertambah menjadi 57 kursi, itupun bila penghitungan kursi tahap 2 yang telah dilakukan oleh KPU tidak jadi dinulir oleh Mahkamah Agung. Yang sekarang deg-degan tentu mereka yang nama-namanya telah tercantum sebagai penghuni Gedung DPR periode 2009-2014, khawatir bila gugatan yang diajukan oleh caleg Partai Demokrat, dikabulkan oleh MA.


Turunnya popularitas Parpol Islam pada pemilu 2009 yang ditandai dengan berkurangnya jumlah suara yang diperoleh, juga bisa diartikan bahwa masyarakat Indonesia saat ini khususnya umat Islam yang bersimpati dan menyalurkan aspirasi mereka kepada parpol Islam tersebut pada pemilu lalu, perlahan-lahan mangalihkan dukungan mereka kepada partai Nasionalis, khususnya Demokrat yang lekat dengan kekuatan figur SBY.

Hal ini juga mengindikasikan bahwa partai berbasis agama bukan jaminan umat Islam yang menjadi penduduk terbesar negeri ini memberikan dukungan dan sebagai penyalur aspirasi mereka. Umat Islam tentu ingin bukti dan karya nyata yang bisa mereka rasakan dampaknya secara langsung, bukan sekedar janji walau itu dihembuskan dengan angin syurga.

Menurunnya perolehan suara Parpol Islam pada Pemilu 2009 seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi seluruh elite partai tersebut, dan selanjutnya mengambil langkah-langkah penting agar nada minor dan alasan skeptis bahwa eksistensi Parpol Islam akan berakhir, tidak menjadi kenyataan memilukan. Maka pada tulisan ini, setidaknya ada beberapa langkah penting yang harus dibenahi dalam tubuh Parpol Islam tersebut.

(politik.kompasiana.com/Eksistensi Parpol Islam/Part-1)

(berlanjut…)


[ Part-2 ]

Pada bagian pertama dari rencana tiga tulisan tentang Eksistensi Parpol Islam, saya telah membahas tentang urgensi kehadiran seorang tokoh nasional pada sebuah Partai Islam, yang dibesarkan oleh partai tersebut dan dapat diterima dengan baik di tengah masyarkat karena sisi kenegarawanan yang ia miliki, peran serta kontribusinya bagi umat secara luas. Pada tulisan kedua ini, pilar penting yang juga mesti dimiliki oleh Partai Islam adalah:

Pertama, Membangun Soliditas Internal.

Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa sebagian besar partai pada pemilu lalu, termasuk di dalamnya Partai Islam, melakukan rekrutemen massif di kalangan publik figur, artis atau tokoh terkenal, yang dengan nama yang disandangnya diharapkan mampu memperkuat basis partai, sekaligus sebagai magnet yang mampu menarik massa dalam jumlah besar. Buktinya, ada yang berhasil dan ada pula yang tidak. Sebuah pertanyaan besar akhirnya muncul, “Apakah rekrutmen kader bari kalangan publik figur, artis atau tokoh nasional sekalipun, mampu mempertahankan eksistensi partai tersebut untuk jangka waktu yang lama? Ataukah para publik itu tetap eksis dan menanggung untung, sementara partai Islam yang merekrutnya akan buntung dan jatuh nelangsa?" Semoga ini tidak terjadi.

Namun bagaimanakah kiranya supaya para kader instan itu tetap bertahan dan mampu memberi kontribusi maksimal bagi partainya? Ini juga bukan persoalan yang mudah. Jamak kita dengar adanya politisi ibarat bajing loncat dari satu partai ke partai lainnya dengan berbagai macam alasan. Jangankan para publik figur tersebut yang berlaku demikian. Mereka yang bahkan ‘bangkotan’ pada sebuah partai, atau bahkan mereka yang pada awalnya turut mendirikan dan membesarkan partai tersebut akhirnya balik kanan bila aspirasinya tidak diakomodasi, munculnya konflik pribadi atau karena faktor lain. Inilah kelemahan yang terdapat dalam tubuh Partai Islam; ketidakmampuan membangun soliditas internal, kebersamaan dan militansi yang kuat, khususnya di kalangan elit partai.

Apa yang terjadai di PKB, PPP, PBR dan juga PAN walau relatif lebih ringan menggambarkan sebuah kenyataan pahit di tengah umat ini, bahwa tokoh-tokoh partai Islam tersebut sangat sulit disatukan. Alih-alih menyatukan persepsi atau sekedar membangun komunikasi lintas Parpol Islam, secara internal pun mereka mengalami kerapuhan dan kesulitan membangun kebersamaan. Hingga saat ini, Partai Islam yang relatif aman dari kisruh internal adalah PKS, dan wajar saja bila Partai Islam lainnya dapat belajar dari PKS bagaimana membangun soliditas internal dan militansi kader yang menjadi ciri kekuatan tersendiri bagi partai ini untuk meraih kemenangan dakwah pada masa-masa yang akan datang.

Membangun Soliditas Internal adalah PR bagi seluruh partai Islam untuk tetap mempertahankan eksistensinya. Karena itu diperlukan kesatuan visi dan misi, tujuan, manajemen dan sistim kaderisasi yang kuat agar tidak muncul dikemudian hari kader partai yang tidak mememiliki afiliasi, kontribusi dan militansi untuk membangun partai agar tetap eksis hingga jauh.

(politik.kompasiana.com/Eksistensi Parpol Islam/Part-2)

(berlanjut…)


[ Part-3 ]

Kedua, Peduli Kepada Rakyat

Ketika rakyat memberikan simpati dan dukungan mereka kepada sebuah Partai Politik, maka tak ada lain yang mereka harapkan selain agar partai tersebut mampu menjadi wadah dan saluran aspirasi guna mewujudkan kesejahteraan yang mereka dambakan. Walau pada kenyatannya hal tersebut tidak mudah terealisasi di alam nyata. Sementara pada sisi lain masyarakat kerap tidak tahu, atau tidak mau tahu bahwa ada banyak faktor yang saling terkait guna menghadirkan kesejahteraan dan keadilan di tengah mereka.

Namun ada satu hal yang harus tetap dilakukan oleh setiap Parpol Islam yang masih ingin mempertahankan eksistensi dirinya di tengah umat dan kaum Muslimin yang menjadi konstituen terbesar mereka selama ini. Yaitu, memberikan pelayanan umum, bakti sosial atau berbagai kegiatan yang menampakkan adanya kepedulian terhadap apa yang selama ini dibutuhkan oleh masyarakat. Tanpa peduli ucapan dan komentar segelintir orang yang mungkin akan mengatakan bahwa apa yang dilakukan partai tersebut adalah riya, ingin dipuji dan berbagai ucapan sinis lainnya. Karena kalau tidak berbuat, maka tetap ada yang akan berkata, “Pada kemana nih partai si A, si B yang katanya memiliki perhatian dan kepedulian..” dll

Sepintas memang sederhana. Tapi tidak banyak partai yang mampu melakukannya secara konsisten dan merata diberbagai tempat. Dibutuhkan pengorbanan dan militansi kader, dana dan koordinasi yang baik agar berbagai kegiatan tersebut menjadi tepat sasaran. Tak dipungkiri bahwa inilah salah satu kekuatan PKS hingga membuatnya diterima dan dicintai masyarakat luas; kepedulian terhadap rakyat dan dilakukan tanpa pamrih.

Lalu dari mana para kader PKS memiliki kepedulian dan pengorbanan sedemikian itu? Jawabannya sederhana saja. Karena mereka yakin bahwa melakukan kegiatan seperti itu adalah bagian dari amal shalih, dan mereka ingin jadi manusia terbaik sesuai uswah Hasanah mereka, Rasulullah saw. yang mengatakan bahwa, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.

Membangun armada sosial dalam tubuh Partai Islam mutlak dilakukan. Tentu bukan dengan niat utama agar mendapatkan simpati atau dukungan masyarakat. Apalagi dilakukan saat hanya menjelang Pemilu. Tapi ini adalah salah satu cara menciptakan kepedulian sosial dalam diri elit partai tersebut dan para kadernya, sekaligus sebagai media belajar konstituen agar peduli kepada sesama.

Apakah PKS merasa terancam bila seluruh parpol yang ada di negeri ini melakukan kegiatan sosial mengikuti sukses pelayanan ala PKS? Tidak sama sekali. Bahkan yang ada kebahagiaan. Karena aktivitas sosial dan kebajikan ini akan semakin meluas di tengah masyarakat yang membutuhkan bantuan dan pelayanan, kalau tidak dari pemerintah, toh ada partai politik tempat mereka menitipkan asa dan harapan.

(politik.kompasiana.com/Eksistensi Parpol Islam/Part-3)

Oleh: Syarif Ridwan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar