jika politik adalah sesuatu yang abu-abu
yang menjadi senjata para penguasa
yang menjadi sindikat pengejar harta dunia
maka aku bukanlah itu
Namun jika politik adalah pembelaan & perjuangan
yang membangunkan keberanian retorika
dan lantang meneriakkan keadilan
maka aku adalah politikus itu

Jika demokrasi adalah belenggu penjajahan
diramaikan oleh tangan-tangan gila jabatan
disetir untuk mengubur kepribadian anak bangsa
maka itu bukan tempatnya
Namun jika demokrasi adalah sebuah peluru pembebas
yang pengusungnya adalah teladan sejati
dan ideologinya menembus keangkuhan parlemen
maka itu adalah kendaraannya..

Kamis, 29 Oktober 2009

3 Kelemahan Mendasar Partai Islam


Ditengah perolehan suara yang menurun drastis pada Pemilu 2009 lalu, bahkan di antaranya tidak mencapai ambang batas 2,5% dan akhirnya menjadi bagian dari catatan sejarah multi partai di Indonesia, sejumlah Parpol Islam kini mengalami kegamangan atas peluang eksistensi mereka hingga pemilu 2014 nanti. Beberapa kalangan bahkan menilai, bahwa Parpol Islam –Ideologi atau basis massa Islam- yang saat ini masih bertahan dan berada di level menengah (PPP, PKB, PKS, dan PAN) akan semakin melemah, stag dan kemungkinan runtuh bila tidak segera melakukan pembenahan dan konsolidasi internal.
Sementara pada saat yang sama, sejumlah partai nasionalis semakin berkibar. Demokrat dengan figur SBY yang kian mendapatkan tempat di hati masyarakat, Golkar yang kini berusaha menampilkan kaum muda pada jajaran elit dengan mendukung langkah Yudi Krisnandi maju sebagai calon ketua umum, atau PDIP yang kemungkinan masih akan berada di luar ring kekuasaan, atau sebagai partai oposisi agar tetap lekat sebagai pembela Wong Cilik. Sementara Hanura dan Gerindra kemungkinan besar takkan bertahan lama hingga pemilu nanti. Kecuali bila figur Prabowo dan Wiranto semakin mengakar disertai limpahan dana besar.

Bila partai-partai nasionalis tetap tenang melenggang dan terlihat cukup mampu menetralisir sejumlah konflik internal yang muncul di permukaan, maka kisruh yang terjadi dalam tubuh sejumlah partai Islam hingga kini belum juga terselesaikan. Lihat saja konflik panas antara Gusdur dan Muhaimin Iskandar yang nota bene adalah keluarga besar. Antara Bachtiar Chamsah dan Suryadarma Ali yang masing-masing memiliki gerbong besar di PPP. Atau antara Amin Rais dan Soetrisno Bachir di PAN yang juga memiliki pengikut fanatik.

Bagaimana dengan PKS? Memang pernah ditengarai oleh sejumlah media adanya dua kubu yang terkesan saling bertolak belakang khususnya sebelum pilpres digelar, yaitu kubu Presiden partai, Tifatul Sembiring dan kubu Sekjen, Anis Matta. Namun selanjutnya perseteruan kedua kubu seakan telah padam dan tak terdengar lagi adanya kisruh yang kian meruncing hingga saat ini.

Adapun 3 kelemahan yang secara umum terdapat dalam tubuh Parpol Islam adalah:

Pertama: Tidak memiliki figur yang kuat.

Ketiadaan figur dan tokoh yang dapat dijadikan sebagai teladan, referensi dan perekat seluruh elemen yang terdapat dalam tubuh partai adalah kelemahan mendasar pertama . Elit Parpol Islam mungkin perlu belajar dari Demokrat dan PDIP yang masing-masing memiliki figure sangat kuat yang terkadang menjelma sebagai sistim. Namun kekuatan tersebut sekaligus menjadi titik paling rawan bagi kedua partai ini. Sementara Golkar, walau tak memiliki figur semacam Megawati dan SBY, namun di dalamnya terdapat banyak tokoh sentral yang tampak dapat saling bekerjasama.

Bagaimana dengan PKB yang pernah memiliki Gusdur dan PAN yang membesar karena figur sang tokoh reformasi, Amin Rais? Sepeniggal mereka tak muncul tokoh yang dapat menyamai reputasinya. Sementara di PPP, tak ada tokoh dan figur menonjol disana setelah ditinggalkan oleh Hamzah Haz.

Kedua: Mesin Politik yang tidak Mumpuni.

Sistim kaderisasi mutlak diperlukan untuk menciptakan kader-kader militan yang memiliki afiliasi kuat terhadap partai. Rela berjuang, bekerja dan berkorban untuk membesarkan partai dimana ia berada. Yang mungkin agak sulit dilakukan adalah, menciptakan formula yang cocok dan tepat agar sistim itu bekerja sesuai rencana dan target yang diinginkan. Bila sistim kaderisasi tidak berjalan baik, maka jangan terlalu berharap lahir kader-kader militan yang sanggup bekerja tanpa pamrih. Mereka bahkan mungkin akan loncat pagar laksana bajing untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik sebagaimana terjadi pada sejumlah kader partai.

Ketiga: Rendahnya kepedulian terhadap rakyat.

Apa yang paling diharapkan oleh masyarakat setelah mereka merasa telah menyalurkan aspirasi dan dukungannya kepada partai yang mereka anggap tepat dan mampu memenuhi harapan-harapan mereka? Sebenarnya tidak terlalu banyak yang mereka inginkan, kecuali bahwa partai pilihan mereka itu terlihat care terhadap masalah-masalah sosial, turun membantu rakyat miskin melalui bakti sosial (Baksos), atau usaha-usaha yang lebih riil sebagai wujud kepedulian terhadap mereka.

Tiga kelemahan inilah yang secara umum terdapat dalam tubuh partai Islam, yang semoga saja menjadi renungan bagi para elit partainya agar segera melakukan konsolidasi dan pembenahan internal agar tetap eksis. Karena umat tentu masih sangat merindukan partai Islam tetap eksis dan menjadi wadah aspirasi yang tepat bagi mereka. Wallahu a’lam.


Sumber: politik.kompasiana.com

1 komentar:

  1. PKS itu sering baksos dan melakukan aktifitas lain yang menunjukkan kepedulian pada rakyat (poin 3) sayangnya kurang di blow up oleh media. Ayo semangat, kebaikannya perlu disosialisasikan lebih masif. Manfaatkan media.

    BalasHapus