jika politik adalah sesuatu yang abu-abu
yang menjadi senjata para penguasa
yang menjadi sindikat pengejar harta dunia
maka aku bukanlah itu
Namun jika politik adalah pembelaan & perjuangan
yang membangunkan keberanian retorika
dan lantang meneriakkan keadilan
maka aku adalah politikus itu

Jika demokrasi adalah belenggu penjajahan
diramaikan oleh tangan-tangan gila jabatan
disetir untuk mengubur kepribadian anak bangsa
maka itu bukan tempatnya
Namun jika demokrasi adalah sebuah peluru pembebas
yang pengusungnya adalah teladan sejati
dan ideologinya menembus keangkuhan parlemen
maka itu adalah kendaraannya..

Kamis, 20 November 2008

"The Last of the Mohicans" di Balik Iklan PKS


VIVAnews. Demi tujuan rekonsiliasi antargenerasi, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengusung tokoh-tokoh nasional yang dianggap sebagai guru bangsa dalam seri pertama iklan politiknya. Ada pendiri Nahdhatul Ulama KH Hasyim Asyari, pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan, Bung Tomo, Jenderal Sudirman, Soekarno dan terakhir, yang paling kontroversial, Soeharto. Berbagai pihak memprotes iklan itu. Kalangan Nahdhatul Ulama keberatan PKS yang identik dengan Islam modernis menggunakan ikon Islam tradisional itu. Para korban kekerasan Orde Baru mencela munculnya Soeharto dalam iklan berdurasi 15 detik itu. Iklan yang sangat kontroversial. Walau hanya diputar 3 hari bertepatan dengan hari pahlawan – tanggal 9, 10, dan 11 November, namun gaung dan kehebohannya menandingi iklan “Menagih Janji SBY”-nya Wiranto beberapa bulan silam.

Pilihan PKS memasukkan tokoh-tokoh itu dalam iklan politiknya disebabkan oleh beberapa faktor. Dari segi idealisme, PKS bertekad membangun jembatan antargenerasi – Orde Lama, Orde Baru dan Era Reformasi – demi tercapainya rekonsiliasi nasional di mana tiap generasi bisa menghilangkan dendam atas generasi pendahulunya. Terlepas dari berbagai kesalahan dan kelemahan para pendahulu tersebut, PKS beranggapan bahwa mereka sudah berbuat apa yang mereka bisa, sehingga PKS tidak ingin menjadi pihak yang mengadili sejarah. “Jangan sampai kita memutuskan hubungan antargenerasi karena dendam masa lalu. Hal itu tidak membawa kemajuan bagi bangsa,” imbau Presiden PKS, Tifatul Sembiring, dalam acara “Silaturahmi dan Dialog antar-Keluarga Pahlawan Nasional” yang berlangsung di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta, Rabu, 19 November 2008, kemarin.

The Last of the Mohicans

Rekonsiliasi yang digaungkan PKS rupanya terkait erat dengan misi politik jangka panjang PKS pada Pemilu 2014. Pada tahun 2014 nanti, PKS memasang target untuk merebut kepemimpinan nasional. 2014 adalah era kepemimpinan generasi baru. “PKS ingin memenangkan Pemilu 2014 melalui Pemilu 2009 ini,” ungkap Tifatul. Dengan demikian, strategi PKS bukanlah strategi jangka pendek untuk Pemilu 2009, melainkan strategi jangka panjang yang berkesinambungan untuk Pemilu 2014. Dan ketika saat itu tiba nanti, PKS sebagai partai yang mayoritas terdiri dari generasi muda menginginkan tidak lagi dibebani dendam masa lalu. “Kita tidak mau lagi terikat dengan image atau stigma dendam antargenerasi seperti generasi-generasi sebelumnya!” tegas Tifatul.

Tifatul mengibaratkan Indonesia di tahun 2009 sebagai pertarungan "The Last of the Mohicans". The Last Mohicans ialah sebuah novel sejarah Amerika karangan James Fenimore Cooper yang menceritakan suku Indian yang terakhir punah di AS. Novel yang kemudian difilmkan ini menceritakan tentang ksatria terakhir dari suku Mohicans yang bertarung membela sukunya. “Tahun 2009 adalah the Last of the Mohicans atau the last chance bagi sebagian politisi,” tutur Tifatul. Pemilu 2009 merupakan kesempatan terakhir bagi tokoh-tokoh generasi lama seperti Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono, Wiranto, Sutiyoso, bahkan mungkin Sri Sultan untuk berkiprah dalam perpolitikan nasional. Karena itulah mereka akan bertempur habis-habisan pada Pemilu 2009. “Begitu masuk Pemilu 2014, mereka semua ini sudah selesai,” ujar Tifatul. Tokoh-tokoh tersebut tidak mungkin memaksakan diri untuk bertahan lebih lama lagi di arena perpolitikan nasional, karena pada saat itu mereka sudah akan berumur 80-an. “Jangankan berpolitik, untuk jalan saja mungkin sudah susah,” tutur Tifatul.

Dengan demikian, Pemilu 2014 nanti tidak akan ada lagi politisi yang memiliki pengalaman politik tahun 1945-an, dan ini adalah momen bagus bagi PKS untuk mematok target kepemimpinan nasional. Oleh sebab itu, PKS mengusung wacana rekonsiliasi sejak sekarang. “Ini sebagai niat baik untuk pendatang baru lainnya. Kami ingin membangun Indonesia yang lebih baik bagi kepemimpinan generasi muda mendatang,” ujar Tifatul.

Menjangkau pemilih yang lebih luas ini mensyaratkan PKS harus keluar dari 'kepompong'-nya. Dari ceruk pemilih partai Islam yang diperkirakan hanya 30 persen, PKS bermanuver untuk merenggut suara pemilih partai nasionalis sekuler yang mayoritas. Itulah fungsi iklan politiknya yang diributkan banyak pihak itu. Menurut Tifatul, strategi melebarkan sayap mutlak diperlukan untuk mendulang suara pemilih baru. “Tentu arah melebarkan sayapnya ke tengah,” tutur Tifatul. Tak bisa dipungkiri, pangsa pasar terbesar memang ada di kalangan nasionalis yang berada di garis tengah. Selain itu, lanjut Tifatul, bila PKS hanya berkutat di segmen pemilih Islam tradisionalis, maka perebutan suaranya juga lumayan ketat bersama-sama dengan PPP, PKB, dan PBB.

Meski membidik segmen pemilih baru, namun PKS yakin tidak akan ditinggalkan oleh pemilih lamanya. Tifatul menerangkan, semua riset menunjukkan bahwa 80 persen pemilih PKS terdiri dari pemilih yang loyal, konsisten, dan rasional. Dengan demikian ia tidak terlalu khawatir PKS akan gembos hanya karena menambah pangsa pasar.

Dana Terbatas

Namun pilihan beriklan lewat 'udara' membutuhkan biaya besar. PKS yang menggandeng Fastcom sebagai konsultan komunikasinya mengakui ketiadaan modal besar membuat mereka harus ekstra kreatif dalam beriklan. Karena keterbatasan dana itu pula, PKS hanya menayangkan iklan bertema kepahlawanannya selama 3 hari. “Punya 1 miliar rupiah saja sudah bagus,” ujar Tifatul sambil terkekeh.

Tidak kapok dengan kontroversi berkepanjangan yang menghantam iklan pertamanya, PKS berencana untuk merilis iklan lagi – kali ini dengan tema baru dan jenis yang berbeda. Iklan ini direncanakan untuk ditayangkan bertepatan dengan Hari Ibu tanggal 22 Desember. Hingga saat ini, PKS belum mau memberi bocoran tentang materi iklan baru tersebut. “Kalau dikasih tahu, yang nggak surprise. Padahal salah satu unsur iklan kan harus mengandung unsur kejutan,” sahut Tifatul tergelak-gelak. Jadi, mari kita tunggu iklan PKS berikutnya.


Sumber: vivanews

Tidak ada komentar:

Posting Komentar