jika politik adalah sesuatu yang abu-abu
yang menjadi senjata para penguasa
yang menjadi sindikat pengejar harta dunia
maka aku bukanlah itu
Namun jika politik adalah pembelaan & perjuangan
yang membangunkan keberanian retorika
dan lantang meneriakkan keadilan
maka aku adalah politikus itu

Jika demokrasi adalah belenggu penjajahan
diramaikan oleh tangan-tangan gila jabatan
disetir untuk mengubur kepribadian anak bangsa
maka itu bukan tempatnya
Namun jika demokrasi adalah sebuah peluru pembebas
yang pengusungnya adalah teladan sejati
dan ideologinya menembus keangkuhan parlemen
maka itu adalah kendaraannya..

Rabu, 02 Maret 2011

Pemimpin yang Tegas dan Bijaksana

Oleh: KH Didin Hafidhuddin

Sungguh sangat memprihatinkan apabila kita melihat perkembangan kondisi bangsa akhir-akhir ini, di mana sejumlah persoalan besar masih belum dapat diselesaikan secara tuntas, tepat, dan sesuai dengan ketentuan hukum dan nilai-nilai yang berlaku di negara kita.

Kasus Ahmadiyah sebagai contoh, hingga saat ini, masih menjadi duri dalam daging sehingga selalu menimbulkan gejolak horizontal di tengah-tengah masyarakat. Padahal, akar permasalahan Ahmadiyah ini sangat sederhana, yaitu adanya penodaan terhadap hal-hal yang sangat prinsip dalam ajaran Islam. Inilah yang kemudian mengundang lahirnya fatwa MUI yang menetapkan Ahmadiyah sebagai aliran sesat. Jadi, inti persoalannya bukan pada masalah toleransi, hak asasi manusia, dan kekerasan atas nama agama, melainkan pada tidak tuntasnya penyelesaian atas penodaan agama.

Jika saja Ahmadiyah ini segera dibubarkan ataupun dijadikan sebagai agama baru yang diakui secara resmi oleh negara, konflik antarmasyarakat yang sempat memakan korban jiwa tersebut dapat diminimalisasi. Apalagi, keberadaan Ahmadiyah di berbagai negara Muslim pun telah dinyatakan sesat dan keluar dari agama Islam. Di Pakistan, misalnya, Ahmadiyah telah diklasifikasikan ke dalam kelompok minoritas, bukan Islam. Demikian pula di Timteng dan Malaysia. Bahkan, Rabithah `Alam Islamy pun telah mengeluarkan fatwa tentang kesesatan Ahmadiyah sehingga mereka dilarang untuk menunaikan ibadah haji.

Begitu pula halnya dengan kasus-kasus besar lain seperti skandal Bank Century, kasus Bibit-Chandra, Gayus, dan mafia pajak serta megakorupsi lainnya. Semuanya seakan-akan dibiarkan mengambang dan tidak jelas penyelesaiannya. Padahal, masalah-masalah tersebut telah menguras energi bangsa ini. Seharusnya energi bangsa ini diarahkan pada upaya peningkatan kualitas pembangunan nasional.

Jika saja negara mengambil sikap tegas laiknya Rasulullah SAW yang memerintahkan penegakan hukum atas pelaku korupsi yang berasal dari kalangan elite (wanita Bani Makhzumiyyah), tingkat kejahatan korupsi dan penyalahgunaan wewenang dapat direduksi sehingga tidak lagi menjadi beban sosial masyarakat.

Dengan kompleksitas problematika bangsa saat ini, ada baiknya kita becermin dari pola kepemimpinan Abu Bakar RA dan Umar bin Khattab RA, sahabat Rasul yang paling utama. Abu Bakar adalah khalifah pertama yang tampil di masa transisi pascawafatnya Nabi SAW, dan yang menghadapi sejumlah persoalan kenegaraan dan keumatan yang berat, terutama gerakan penyimpangan dari ajaran agama. Sedangkan, Umar adalah figur pemimpin pelanjut perjuangan Abu Bakar, yang mampu mentransformasi Madinah menjadi kekuatan yang disegani dunia.

Kebijakan Abu Bakar

Ketika memegang tampuk kepemimpinan negara, Abu Bakar menghadapi gerakan penodaan agama yang melanda sejumlah suku di sekitar Madinah. Gerakan tersebut dipelopori oleh sejumlah orang yang mendeklarasikan diri menjadi nabi palsu, seperti Thulaihah bin Khuwailid, yang mengaku Nabi pada 10 H (tahun terakhir kehidupan Rasulullah SAW), meski pada akhirnya Thulaihah bertobat dan mati syahid di ujung kehidupannya. Di antara isu yang diusung oleh gerakan sesat tersebut adalah usaha untuk memisahkan antara kewajiban shalat dan zakat, yang memengaruhi sebagian kelompok kaya yang lemah imannya pada saat itu.

Bagi Abu Bakar, gerakan tersebut kalau dibiarkan akan mengakibatkan rusaknya struktur ajaran Islam. Sehingga, ia memutuskan untuk memerangi kelompok tersebut dengan mengirimkan ekspedisi pasukan ke sejumlah wilayah yang dianggap telah menistakan agama.

Sebagaimana yang dikisahkan oleh Abu Hurairah, sebagian sahabat awalnya ragu dengan keputusan yang diambil Abu Bakar. Dengan ketegasan itu, para sahabat pun mendukungnya sepenuh hati. Menurut Abu Hurairah, jika saja Abu Bakar tidak mengambil tindakan tegas, gerakan sesat yang berubah menjadi makar itu berpotensi memecah belah dan mengancam keutuhan negara.

Meski usia kepemimpinannya sangat pendek--hanya dua tahun, Abu Bakar mampu mengokohkan fondasi negara sepeninggal Nabi SAW. Kelembutan dan ketegasannya terbukti mampu menyelamatkan negara dari kemungkinan terjadinya huru-hara dan disintegrasi sosial yang berkepanjangan.

Kebijakan Umar

Sepeninggal Abu Bakar, Umar tampil memegang tampuk kekhalifahan yang merupakan struktur kekuasaan tertinggi umat Islam pada saat itu. Umar pun menghadapi sejumlah persoalan besar, terutama krisis ekonomi yang menyerang Jazirah Arab hingga ke Syam. Sebuah peristiwa yang dikenal dengan istilah Tahun Ramadah. Kemudian, ia pun menghadapi tindakan sekelompok pebisnis elite yang berusaha mengeruk keuntungan pribadi dengan jalan melanggar hukum dan melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan syariat Islam.

Contohnya, ketika terjadi krisis susu di Madinah, sebagian pedagang susu berusaha menaikkan harga dengan jalan ihtikar (penimbunan). Kalaupun harga tidak naik, susu yang ada dicampur dengan air sehingga kualitasnya mengalami penurunan.

Mengetahui adanya pelanggaran hukum tersebut, Umar pun memerintahkan aparat pemerintahannya untuk melakukan inspeksi ke pasar dan mengambil tindakan hukum terhadap para pedagang yang terlibat. Bahkan, Umar tidak segan memberhentikan para pejabat apabila mereka terlibat menjadi backing dan melakukan tindakan kolutif. Bagi Umar, mengganti pejabat yang tidak amanah lebih baik daripada membiarkan mereka menggerogoti dan menghancurkan kepentingan negara dan rakyat.

Dengan ketegasan itu, Umar berhasil menstabilkan situasi negara. Kepercayaan terhadap negara dan aparatnya semakin kuat. Rakyat pun melihat dengan mata kepala mereka sendiri, bagaimana keteladanan dan sikap hidup yang ditunjukkan Umar. Bermodalkan kepercayaan dan dukungan rakyat inilah, Umar mampu mengembangkan wilayah kekuasaan Islam hingga Afrika dan Romawi, sehingga Madinah kemudian tumbuh menjadi kekuatan penting dan berpengaruh di percaturan global.

Oleh karena itu, ada baiknya para pemimpin kita belajar dari Abu Bakar dan Umar yang merupakan profil pemimpin yang tegas dan bijaksana. Ketegasan dan kebijaksanaan inilah yang sesungguhnya sangat diperlukan dalam mengatasi berbagai problematika bangsa saat ini. Wallahu a'lam.


Sumber: Republika Newsroom

Tidak ada komentar:

Posting Komentar