jika politik adalah sesuatu yang abu-abu
yang menjadi senjata para penguasa
yang menjadi sindikat pengejar harta dunia
maka aku bukanlah itu
Namun jika politik adalah pembelaan & perjuangan
yang membangunkan keberanian retorika
dan lantang meneriakkan keadilan
maka aku adalah politikus itu

Jika demokrasi adalah belenggu penjajahan
diramaikan oleh tangan-tangan gila jabatan
disetir untuk mengubur kepribadian anak bangsa
maka itu bukan tempatnya
Namun jika demokrasi adalah sebuah peluru pembebas
yang pengusungnya adalah teladan sejati
dan ideologinya menembus keangkuhan parlemen
maka itu adalah kendaraannya..

Minggu, 21 Juni 2009

Keputusan PKS Dukung SBY Bukan Ikut Tren


JAKARTA. Anggota Majelis Syura Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hidayat Nurwahid menyatakan, keputusan partainya mendukung pasangan SBY-Boediono basisnya bukan ikut-ikutan, tetapi atas dasar kesamaan platform.

Siaran pers PKS yang diterima di Jakarta, Minggu 921/6), menyebutkan, pernyataan Hidayat Nurwahid yang juga Ketua MPR RI itu disampaikan dalam acara "Deklarasi Kebulatan Tekad Menangkan SBY-Boediono" yang diselenggarakan DPW PKS Bengkulu di GOR Sawah Lebar, Bengkulu, Minggu.

Menurut Hidayat, kesamaan platform itu di antaranya dalam hal penguatan ekonomi rakyat, pemberantasan korupsi, dan membantu perjuangan rakyat Palestina untuk mendapatkan kemerdekaannya. "Dan ini disepakati oleh Pak SBY. Jadi kita tidak mendukung secara membabi buta. Babi tidak buta saja sudah haram, apalagi yang buta," katanya berseloroh.

Terkait dengan isu neoliberalisme yang diarahkan kepada cawapres Boediono, Hidayat mengatakan, Boediono merupakan orang yang mendukung pengembangan ekonomi syariah. Pada zamannya, lahir UU Perbankan Syariah. "Kalau neolib, tentu tidak mendukung ekonomi syariah," jelasnya.

Menyoal keinginan PKS untuk memenagkan SBY-Boediono dalam satu putaran pilpres, kata Hidayat, sangat pas dengan slogan yang diusung oleh tiga kandidat capres. Menurut Nurwahid, "Pilpres Satu Putaran", maka akan 'Lebih Cepat dan Lebih Baik'.

Pemerintah pun, lanjutnya, bisa menghemat Rp2,8 triliun dan kalau uang itu dikembalikan ke rakyat, maka itu berarti Pro Rakyat. "Dengan satu putaran berarti kebijakan-kebijakan yang baik bisa 'dilanjutkan'," imbuhnya lagi.

Deklarasi Kebulatan tekad untuk memenangkan SBY-Boediono, selain dihadiri oleh seluruh ketua DPD PKS se Bengkulu, juga dihadiri oleh Gubernur Bengkulu Agusrin, Wagub Syamlan, pimpinan parpol peserta koalisi, kader dan simpatisan PKS se Bengkulu. (ant/itz).


By: Republika Newsroom

Tidak ada komentar:

Posting Komentar