jika politik adalah sesuatu yang abu-abu
yang menjadi senjata para penguasa
yang menjadi sindikat pengejar harta dunia
maka aku bukanlah itu
Namun jika politik adalah pembelaan & perjuangan
yang membangunkan keberanian retorika
dan lantang meneriakkan keadilan
maka aku adalah politikus itu

Jika demokrasi adalah belenggu penjajahan
diramaikan oleh tangan-tangan gila jabatan
disetir untuk mengubur kepribadian anak bangsa
maka itu bukan tempatnya
Namun jika demokrasi adalah sebuah peluru pembebas
yang pengusungnya adalah teladan sejati
dan ideologinya menembus keangkuhan parlemen
maka itu adalah kendaraannya..

Kamis, 12 Februari 2009

Menanti Isyarat JK-Nur Wahid

INILAH.COM, Jakarta. Jika ditinggalkan Presiden SBY dalam Pilpres 2009, Ketua Umum DPP Golkar H Jusuf Kalla masih memiliki peluang menjadi calon presiden. Duet Jusuf Kalla dan Hidayat Nur Wahid merupakan kekuatan alternatif. Kini semua menanti respon Golkar.

Setelah mampu mengatasi konflik di Aceh, Poso dan Ambon serta menciptakan stabilitas dan perdamaian di kawasan tersebut, banyak orang mengakui prestasi Kalla dalam membangun integrasi nasional tanpa kekerasan.

Sehingga tidaklah berlebihan jika Sekjen PKS Anis Matta mendorong agar JK serius maju sebagai capres dan berduet dengan Hidayat Nur Wahid, Ketua MPR dan mantan Presiden PKS.

Persoalan bukan ada pada PKS. Sebaliknya, tanda tanya justru tertuju ke kubu Golkar. Seorang pengamat politik menilai wajar saja jika PKS mempertanyakan keseriusan Kalla dan Golkar maju mencalonkan diri pada Pilpres 2009.

Persoalan PKS adalah mereka butuh kepastian dari Golkar. “Dan itu harus ada kepastian Golkar, sebab PKS sangat mungkin serius mempertimbangkan duet Kalla dan Nur Wahid,” kata Umar S Bakry Direktur Lembaga Survei Nasional (LSN).

Jika Kalla dan Nur Wahid jadi berpasangan, kejutan dan terobosan ini akan membuka mata batin bangsa bahwa ada capres luar Jawa yang berani melakukan perubahan. Ada putera luar Jawa yang berani menembus batas etnis dan kesukuan yang masih membaluri kultur politik terutama mitos politik bahwa presiden musti orang Jawa.

“JK jadi capres itu suatu yang berani. Tapi, apakah Golkar serius mencalonkan JK sebagai presiden? Ada banyak keraguan,” kata Sekjen DPP PKS Anis Matta . PKS sendiri, hingga saat ini memang belum membahas pencalonan Kalla-Nur Wahid.

Lagi pula, PKS memutuskan soal ini pada tataran Majelis Syuro sebagai lembaga tertinggi. Tapi, keraguan masih muncul di benak mereka: apakah Golkar serius mengusung Kalla.

Wakil Presiden Jusuf Kalla terus mendapat pujian dari berbagai kalangan belakangan ini. Setelah disebut sebagai The Real President oleh mantan Ketua PP Muhamadiyah Buya Ahmad Syafi'i Ma'arif, kini giliran Presiden PKS Tifatul Sembiring menyebut JK 'The Inspiring Man'.

Sensitivitas ekonomi JK yang begitu tinggi, mendorong Tifatul memuji sosok pemimpin dari Makassar ini. Pada malam penganugerahan 8 The Inspiring Women, Presiden PKS Tifatul Sembiring menyebut Wakil Presiden Jusuf Kalla sebagai salah satu tokoh yang memberikan inspirasi bagi masyarakat Indonesia.

"Ini menjadi sesuatu yang patut kita pertimbangkan. Ada peluang untuk Pak JK sebagai salah satu tokoh Inspiring Man yang mempunyai konsep solusi ekonomi untuk Indonesia yang terkena dampak krisis global," kata Tifatul.

Di mata Fachry Ali, seorang pengamat politik, sikap Presiden PKS sudah benar dalam meletakkan JK sebagai The Inspiring Man. “Karena dia mempunyai sensitivitas dalam membuat kebijakan-kebijakan ekonomi," kata pengamat politik Fachry Ali, yang juga Direktur LSPEU Indonesia

Dalam kebijakan-kebijakan pemerintah, sudah tentu Presiden SBY yang memberikan guide line. Dari kebijakan-kebijakan itu kemudian oleh JK diterapkan hingga ke level teknis. “Kemampuan teknikalitas JK sudah teruji, dan itu dikerjakan JK sepenuhnya untuk membantu Presiden SBY,” timpal Fachry.

Sehingga publik tidak usah heran jika JK turut bicara dan turun tangan langsung mengatasi persoalan tabung gas. Penguasaan JK terhadap kebijakan ekonomi mulai dari yang besar hingga yang kecil menjadi nilai lebih. “Jadi sudah benar apa yang dikatakan Tifatul," kata Fachry.

Meski begitu, lanjut Fachry, pengakuan Presiden PKS itu, belum tentu menaikkan popularitas JK. Sebab, masyarakat Indonesia dalam memilih pemimpin masih berdasarkan suku. "Jadi apa boleh buat calon-calon dari Pulau Jawa kelihatannya jauh punya prospek. Tetapi JK sudah berbuat sesatu yang terbaik bagi bangsa," imbuh Fachry. [E1]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar