jika politik adalah sesuatu yang abu-abu
yang menjadi senjata para penguasa
yang menjadi sindikat pengejar harta dunia
maka aku bukanlah itu
Namun jika politik adalah pembelaan & perjuangan
yang membangunkan keberanian retorika
dan lantang meneriakkan keadilan
maka aku adalah politikus itu

Jika demokrasi adalah belenggu penjajahan
diramaikan oleh tangan-tangan gila jabatan
disetir untuk mengubur kepribadian anak bangsa
maka itu bukan tempatnya
Namun jika demokrasi adalah sebuah peluru pembebas
yang pengusungnya adalah teladan sejati
dan ideologinya menembus keangkuhan parlemen
maka itu adalah kendaraannya..

Jumat, 14 November 2008

Tifatul: Kami Hargai Mereka Sebagai Pahlawan


PK-Sejahtera Online. Tifatul Sembiring akhirnya ‘melawan’. Di tengah serangan terhadap iklan yang kontroversial, dia mempertahankan sikap Partai Keadilan Sejahtera. “Kamilah yang menghargai mereka sebagai pahlawan,” katanya.
Dua kali menayangkan iklannya di televisi, PKS menuai kontroversi. Iklan pertama mereka menuai kecaman dari kalangan NU dan Muhammadiyah karena PKS membawa-bawa ikon mereka, KH Hasyim Asyari dan KH Ahmad Dahlan. Kini, PKS menayangkan foto mantan Presiden Soeharto.
Iklan terakhir PKS menuai reaksi perlawanan kritis dari kaum muda Angkatan 1998 maupun NU dan Muhammadiyah. Aktivis 1998 bereaksi karena potret Pak Harto ikut diusung PKS.
Para analis menilai iklan tersebut akan jadi batu ujian bagi PKS. Apakah partai tersebut memetik keungulan dan keuntunan, atau sebaliknya justru kehilangan simpati dari massa nasionalis dan Islamis NU maupun Muhammadiyah.
Toh, Tifatul bergeming dengan semua reaksi itu. “Kami menghargai Pak Ahmad Dahlan, dan Pak Hasyim Asyari sebagai para pahlawan. Kalau ada perlawanan kritis dari NU, Muhammadiyah, atau pihak manapun, kami siap. Kami tak peduli dengan tekanan itu. Kamilah yang menghargai mereka sebagai pahlawan. Organisasi-organisasi Islam itu, kalau mau jujur, belum menjadikan mereka pahlawan," tegas Tifatul, Presiden Partai Keadilan Sejahtera kepada INILAH.COM, Rabu (12/11).
Pencantuman Pak Harto pada iklan politik itu juga mengundang reaksi sosial. Apalagi, ada kerancuan apakah Pak Harto ditempatkan sebagai pahlawan, guru bangsa, atau keduanya. Bahkan ada pula yang menuding itu sebagai upaya PKS mendekati keluarga Cendana.
Tifatul membantah. “Tidak ada kader PKS yang mendekati Cendana untuk mencari dana atau lobi politik. Kami larang kalau ada kader yang mendekati Cendana. Tolong, jangan lakukan itu. Itu akan mencederai partai kita,” katanya.
Langkah PKS bisa dilihat dari kacamata berbeda. Ada yang menilai PKS jeli dalam merangkum Soekarno, Soeharto, pendiri Muhammadiyah Ahmad Dahlan, dan pendiri NU KH Hasyim Asyari dalam iklan politiknya menyambut Hari Pahlawan. Tapi ada pula yang menyebutnya sebagai langkah berani dan penuh risiko dan kemungkinan.
tinya, nasionalis maupun religius dirangkul semua untuk memperluas pasar politik partai Islam itu. Pertanyaannya, akankah PKS meraih pasar politik yang kian besar atau justru akan memudar?
“Harus disadari bahwa iklan politik itu mengandung perjudian dari PKS dalam upaya meraih basis konstituen yang lebih besar," kata Fachry Ali, pengamat politik.
Dengan mencantumkan gambar Soeharto yang bercitra buruk di kalangan intelektual, PKS berani berjudi untuk menerima dampak kemungkinan merosotnya dukungan kaum intelektual atas partai Islam kota itu.
“PKS tengah mengambil peran seakan-akan mereka adalah pewaris sah anak bangsa. Maka, ia merangkum Soekarno, Soeharto, Achmad Dahlan, dan Hasyim Asyari. Intinya, nasionalis maupun religius dirangkul semua. Ini mengejutkan karena mereka seakan-akan mengatakan, we are not islamic political movement anymore,” kata Fachry.
Namun sebagian pengamat politik menilai, keberanian itu membuktikan PKS sebagai partai Islam kota yang makin percaya diri. “Jika ada resistensi dari masyarakat, itu tentu sudah diperhitungkan oleh PKS. Selama tak berdampak negatif dalam skala masif, PKS akan tetap tegar. Kami tetap percaya diri. Bukankah itu sah-sah saja,” kata Tifatul.
Di sisi lain, iklan PKS yang menyebut Soeharto sebagai guru bangsa disambut gembira loyalis penguasa Orde Baru itu. Mereka menilai iklan tersebut membuktikan kesadaran baru bahwa banyak program dan hasil-hasil pembangunan yang dihasilkan Soeharto selama kepemimpinannya.
PKS dinilai para analis politik, tengah berubah dari partai kader yang eksklusif dan primordial serta pilih-pilih kawan, menjadi partai yang agresif menyatakan diri sebagai partai terbuka milik semua golongan. [I4]

(Sumber: Inilah.Com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar