Hari-hari ini kita disibukkan dengan berita seputar 'novel porno' yang
tersebar di banyak perpustakaan-perpustakaan SD. Pemberitaan tentang hal
yang mengandung unsur porno memang selalu menarik perhatian dan
menggairahkan pembaca. Hal ini nampaknya menjadikan media begitu
bersemangat meluncurkan liputan demi liputan tentang hal ini. Maka
bertebaranlah tulisan baik di media cetak maupun online dengan judul
yang jelas
tanpa tedheng aling-aling menyebutkan label " Novel Porno " atau " Buku Porno" tanpa tanda kutip sama sekali.
Saat melihat judul-judul pemberitaan tersebut pertama kali, darah saya
serasa mendidih. Betapa tidak ? Apakah benar sudah sebobrok itukah
birokasi di negeri ini, hingga novel porno bisa lolos dengan mudah
langsung masuk di jantung pendidikan generasi belia kita ?. Selain itu,
ketika disebutkan istilah "novel porno" ingatan saya langsung melayang
ke majalah-majalah dewasa yang selain bergambar cover yang sensual,
isinya pun jelas-jelas menawarkan penggambaran eksotisme tubuh dan
adegan seksual. Gambaran demi gambaran tentang novel porno yang dibaca
anak-anak SD pun terus berputar-putar dalam benak saya, yang tidak
menambah apapun selain kegeraman demi kegeraman.
Kemudian kegeraman itu mengantarkan pada rasa penasaran untuk mengetahui
buku apa saja yang disebut sebagai novel porno dalam pemberitahuan
media. Ternyata tak diduga dan tak dinyana, beberapa dari buku itu sudah
pernah saya baca dan bukan itu saja, saya juga mengenal dengan baik
para penulisnya. Sebut saja novel Ada Duka di Wibeng (penulis: Jazimah
Al-Muhyi), Syahid Samurai (penulis: Afifah Afra), dan Festival Syahadah
(penulis: Izzatul Jannah), ketiganya sudah lama saya kenal sebagai
pegiat Forum Lingkar Pena (FLP) sebuah komuntas pembelajaran penulis
yang telah menghasilkan ribuan penulis dengan karya-karyanya yang
bergenre islami dan
how to.