REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA
-- Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sohibul Iman mengatakan,
pertarungan demokrasi apa pun seperti pemilihan kepala daerah, pemilu
atau pemilihan presiden tidak sepantasnya menggunakan unsur rasisme.
Sohibul menjelaskan, sentimen primodialisme harus ditinggalkan.
Menurut dia, persaingan dalam pemilu harus melalui kinerja bukan
rasisme. Hal tersebut diungkapkan Sohibul saat dimintai tanggapannya
mengenai kicauan Duta Besar RI untuk Jepang, Yusron Ihza Mahendra yang
menulis kicauan bernada rasisme lewat Twitter.
"Saya tidak spesifik dengan tulisannya, tapi rasisme itu tidak baik,"
katanya usai menjamu pertemuan Koalisi Merah Putih di kantor DPP PKS,
Jakarta, Kamis (31/3).
jika politik adalah sesuatu yang abu-abu
yang menjadi senjata para penguasa
yang menjadi sindikat pengejar harta dunia
maka aku bukanlah itu
Namun jika politik adalah pembelaan & perjuangan
yang membangunkan keberanian retorika
dan lantang meneriakkan keadilan
maka aku adalah politikus itu
Jika demokrasi adalah belenggu penjajahan
diramaikan oleh tangan-tangan gila jabatan
disetir untuk mengubur kepribadian anak bangsa
maka itu bukan tempatnya
Namun jika demokrasi adalah sebuah peluru pembebas
yang pengusungnya adalah teladan sejati
dan ideologinya menembus keangkuhan parlemen
maka itu adalah kendaraannya..
Tampilkan postingan dengan label Ahok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahok. Tampilkan semua postingan
Selasa, 12 April 2016
Penertiban Daerah Kumuh Harus dengan Pendekatan Manusiawi
Jakarta (12/4) -- Ketua Bidang Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Fahmy Alaydroes mengatakan bahwa menertibkan daerah kumuh dan semrawut adalah salah satu tugas pemerintah daerah; kemudian membangunnya menjadi daerah yang lebih rapi, bersih dan manusiawi.
“Apalagi kalau lahan yang mau ditertibkan itu milik negara, yang pada akhirnya demi kebaikan dan kemaslahatan kita semua," kata Fahmy, di Jakarta, Selasa (12/4).
Hanya saja, lanjutnya, dalam hal mengeksekusi harusnya memerhatikan berbagai hal yang boleh jadi akan menimbulkan prasangka, kekisruhan, atau bahkan menabrak nilai-nilai keadilan.
Minggu, 17 Maret 2013
Tak Kenal Mesir & Palestina, Ahok Ngawur Sebut Vatikan yang Pertama Akui Kemerdekaan RI
JAKARTA (SALAM-ONLINE): Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) boleh dibilang melakukan blunder jika tak ingin dikatakan ngawur.
Entah buku sejarah Indonesia versi mana yang dibacanya. Pasalnya, usai bertemu dengan Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, Antonio Guido Filipazzi, Jumat (15/3/2013), Ahok mengatakan bahwa Vatikan adalah negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia.
Ketika itu Ahok menjawab pertanyaan wartawan, apakah ada pembahasan kerja sama dalam kunjungan Dubes Vatikan itu ke Balaikota?
Langganan:
Postingan (Atom)
