jika politik adalah sesuatu yang abu-abu
yang menjadi senjata para penguasa
yang menjadi sindikat pengejar harta dunia
maka aku bukanlah itu
Namun jika politik adalah pembelaan & perjuangan
yang membangunkan keberanian retorika
dan lantang meneriakkan keadilan
maka aku adalah politikus itu

Jika demokrasi adalah belenggu penjajahan
diramaikan oleh tangan-tangan gila jabatan
disetir untuk mengubur kepribadian anak bangsa
maka itu bukan tempatnya
Namun jika demokrasi adalah sebuah peluru pembebas
yang pengusungnya adalah teladan sejati
dan ideologinya menembus keangkuhan parlemen
maka itu adalah kendaraannya..

Tampilkan postingan dengan label Kata Mereka Tentang PKS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kata Mereka Tentang PKS. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 April 2013

Partai Demokrat dan PKS, Dulu dan Sekarang

IslamediaHampir delapan tahun yang lalu, Sapto Waluyo dalam bukunya yang berjudul Kebangkitan Politik Dakwah: Konsep dan Praktik Politik Partai Keadilan Sejahtera di Masa Transisi membandingkan dua partai bintang pemilu 2004, antara Partai Demokrat dan Partai Keadilan Sejahtera. 
 
Perbandingan dari berbagai kriteria seperti tokoh, jaringan, dana dan logistik, ideologi, dan orientasi luar negeri. Perbandingan yang sangat relevan hingga saat ini. Dan ada perbandingan yang bisa Penulis tambahkan untuk melengkapi catatan Sapto Waluyo. Berikut perbandingan itu.


Pendukung Yusuf Supendi Kembali ke Pangkuan PKS dan Tolak Masuk Hanura

Islamedia - Masuknya Yusuf Supendi menjadi kader Hanura menuai beragam respon, salah satunya respon penolakan yang langsung dilakukan oleh para pendukungnya. Para pendukung yang mengatasnamakan murid setia Ustadz Yusuf Supendi.
 
Bentuk respon penolakan yang dilakukan para pendukung Yusuf Supendi adalah dengan tidak mau mengikuti instruksi untuk bersama-sama dirinya masuk kedalam partai Hanura dan membesarkanya. Para pendukung Yusuf Supendi yang mengklaim sebagai mantan kader PKS mengatakan dengan tegas : "Lebih baik kembali kepada PKS dari pada masuk kedalam partai bukan Islam seperti Hanura".

H. Hasan Toha: PKS Harus Didukung Karena Sesuai Dengan Representatif Umat Islam

hasan toha dan pksKunjungan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Muhammad Anis Matta, Lc benar-benar dimanfaatkan untuk bersilaturahmi dengan para tokoh dari berbagai elemen masyarakat.
Pasca bersilaturahmi dengan para Pengusaha di KADIN Jateng, Anis Matta hari ini, Rabu (3/4) pagi berkunjung dengan  engusaha percetakan Qur’an dan buku-buku agama Toha Putra, H. Hasan Toha, di Jalan Durian, Banyumanik, Semarang.

Menurut Anis Matta, agenda kunjungan ke Tokoh Penerbitan Buku inibagian dari tahapan konsolidasi keummatan.

Diterpa Fitnah, PKS Malah Mendapat Ribuan Kader Baru

pks mendapat ribuan kader baru

Isu negatif yang menerpa Partai Keadilan Sejahtera (PKS), terkait dugaan kasus suap impor daging sapi yang ditujukan kepada LHI, tak membuat petaka bagi partai dakwah ini di Kota Bengkulu. Sebaliknya, sejak isu tersebut mencuat, sampai kini DPD PKS Kota Bengkulu malah mendapat 2 ribu orang anggota baru.

Mungkinkah Giliran PKS?

Oleh : Lutfi Rachman
Aktif di LENGKAP (Lembaga Pengembangan dan Kajian Politik)

***

Menarik jika menilik sejarah pemilu Indonesia di era reformasi, diantaranya adalah fakta bahwa dari tiga kali penyelenggaraan pemilu ketiganya selalu melahirkan juara baru, pemenang pemilu 1999 PDIP (33,74%), pemilu 2004 Partai Golkar (21,58%), pemilu 2009 Partai Demokrat (20,85%).

Maka pemilu 2014 sangat menarik untuk ditunggu apakah ia akan melahirkan lagi juara baru, atau untuk pertama kalinya dalam sejarah pemilu di era reformasi akan ada partai yang memenangkannya untuk kedua kali atau bahkan Demokrat bisa mengulang kesuksesan menjadi juara bertahan?

Senin, 01 April 2013

3 Kehancuran PKS

Oleh : Amrullah Aviv/Kompasiana

Pertama : Ketika para pemimpin PKS sudah tidak mencintai dan tidak memperhatikan perkembangan kader-kadernya. Kalau hal ini terjadi maka menjadi perubahan yang sangat drastis, karena PKS adalah partai kader. Bagi PKS  kader adalah rahasia kehidupan umat dan motor penggerak kebangkitannya. Dan PKS meyakini  sejarah seluruh umat adalah sejarah para kadernya yang cerdik, memiliki kekuatan jiwa, dan kebulatan tekad. Dan bagi PKS  kuat atau lemahnya umat diukur dengan tingkat kesuburannya melahirkan kader-kader yang memenuhi syarat kesatria yang benar.

Nah,  Ketika para pemimpin PKS sudah tidak mencintai dan tidak memperhatikan perkembangan kader-kadernya, maka PKS otomatis goncang.

PKS jangan kalian ambil ayahku

Oleh: Ibrahim Musa Ashidiqie|Kompasiana
“bu, ayah dicalonin lagi ya bu?”
“Iya dik, ibu juga kaget sebenarnya, tau-tau ayahmu sudah persiapan mau foto aja dik”
Entah kanapa, hatiku seolah tersambar petir, hampir pecah rasanya kepala ini, apa yang aku cemaskan itu ternyata benar-benar terjadi. Aku terdiam agak lama, diam dengan telepon genggam yang masih ku lekatkan di telinga.
****
Awalnya siang itu aku melihat tweetnya pak @suryadelalu tentang #BCAD (bakal calon anggota dewan), setelah ku baca-baca ternyata para bakal calon sudah dipanggil sama “orang atas” dan disuruh mengumpulkan berkas. Dan yang langsung terbayang olehku adalah ayah, jangan-jangan ayah juga dipanggil jadi CAD?! Mendadak dadaku panas sesak, segera kubuka HP-ku, dan ku telepon beliau.
“sisa pulsa anda tidak cukup untuk melakukan panggilan….”, ah, pulsaku habis

Kembali ke masa lalu, tahun 2004, saat pemilu pertamanya PKS
Saat itu ayahku maju menjadi anggota legislative, dan aku yang saat itu masih bocah yang tak tau apa-apa, umurku saat itu masih 11 tahun, masih SD. Jadi aku tak mengerti apa-apa tentang “dunia hitam” itu, yang aku tau, kami sekeluarga adalah pendukung setia PKS sejak namanya masih PK, belakangan aku baru tau kalau ayah sudah menjadi orang PKS bahkan sebelum PK itu sendiri ada.
Berlanjut pada saat masuknya aku ke sebuah pesantren “ikhwah”, dan lagi-lagi yang aku tau saat ditanya tentang pekerjaan orang tua adalah ayahku seorang anggota dewan, tak lebih

Carita berlanjut, ayahku kini punya sopir dengan mobil dinas, kesannya mewah ya? Engga ah, mobilnya hanya mobil lama yang sudah hampir tidak layak pakai, hanya istilahnya saja yang keren, “Mobil dinas!”.
tapi, mobil sejelek apapun tetap saja sudah merupakan barang mewah di mata keluargaku.
Dan cerita kembali berlanjut, ayahku tercinta memberanikan diri mengambil kredit mobil bekas, ku ulangi, kredit mobil bekas. Walaupun dengan gaji yang seadanya (yang belakangan ini aku baru tau kalau gaji aleg dari PKS dipotong untuk partai) mulailah kami punya mobil, mobilnya tidak begitu mewah, tapi tetap saja mataku melihat mobil adalah barang termewah saat itu.
Dan disini mulai cerita baru, orang-orang sekitar dan di kampung ayah mulai melihat aneh, banyak juga yang bilang “wah bapak sejak jadi anggota dewan ini banyak duit nih, bisa beli mobil”, atau juga para ibu-ibu menggosipkan “sejak si ayah jadi anggota dewan jadi punya mobil loh”.

walaupun aku masih SMP, aku tau kalau apa yang mereka katakan jelas-jelas menuduh uang yang ayah dapatkan untuk membeli mobil bukan dengan cara yang halal. Panas, sugguh panas telinga ini mendengar fitnah itu. Apalagi ibu, ibu adalah orang yang paling tidak tahan mendengar ucapan seperti itu.
aku dan juga kakakku yang saat itu masih “anak pesantren” mencoba menenangkan hati ibu, “biar lah orang berkata apa, yang lebih penting Allah tau yang sebenarnya”.
memang hal ini bukanlah masalah besar, aku dan keluarga Alhamdulillah tetap bersabar dan terus mendukung ayah.
Terlepas dari itu semua, aku yang saat itu masih bocah SMP hanya tau kalau ayah adalah orang sibuk, entah itu sibuk di kantor, atau di partai. Ayah pergi pagi, pulangnya malam, hampir begitu setiap hari, pun saat libur ayah masih saja ada kegiatan, entah itu bertemu masyarakat, atau di ketakmiran masjid, ah ayahku sibuk!

pemahamanku tentang dakwah ini semakin bertambah seiring dengan bertambahnya ilmu pengetahuanku dan dari pertemuan pekananku di pesantren, pada saat itu barulah aku tau kenapa ayah ada di ranah legislative, barulah aku benar-benar paham kenapa islam harus masuk di dalam tataran pemerintahan.
dan akhirnya, masa jabatan ayah telah habis, aku senang, ayah tak lagi harus pergi pagi pulang malam.
namun, ternyata ayah kembali dicalonkan oleh dakwah ini, oleh PKS sebagai calong anggota legislative pada pemilu 2009, berat rasanya ibu mengijinkan saat pahlawanku itu meminta ijin pada ibu, ibu lebih senang ayah bekerja seperti dulu, walaupun hanya bekerja dengan penghasilan yang secukupnya, ibu lebih senang, walaupun hanya mengambil nafkah dari bercocok tanam dan berjualan.
PKS, jangan kau ambil ayahku!
Meski sudah memiliki pemahaman tentang dakwah dan partai, sisi kecil hatiku tetap sepakat dengan ibu, kalaulah boleh memilih aku ingin ayah tak lagi jadi aleg, walau bagaimanapun aku ini masih anak SMA pada saat itu, yang masih menpel sama ayah dan ibu

Dan, Alhamdulillah ayah tidak terpilih, sekaligus sedih buat PKS, suara kita turun drastis di 2009.
Dan hingga kini jadilah aku dan kakakku kuliah di salah satu institut ternama di bandung, jauh dari negeri asalku. Sedikit banyak kami sudah lebih dewasa dalam menyikapi “hal” ini, ada ego yang perlu disingkirkan, ada kepentingan pribadi yang harus mengalah. Ada yang namanya kepentingan ummat dan ada yang namanya kepentingan pribadi….
****
“dik, dik, halo? “

Ah, aku tersadar dari lamunanku, ku lanjutkan pembicaraanku di telpon dengan ibu, bersama kakakku yang juga duduk disebelahku
aku dan kakakku mencoba menguatkan ibu, meminta ibu untuk terus mendukung ayah, dan kembali mengingatkan bahwa keputusan ini adalah keputusan syuro (musyawarah), yang bahkan rasulullah sendiri mengalah saat kesepakatan syuro berbeda dengan pendapatnya. Aku, dan seluruh keluargaku memang tak ingin ayah kembali dicalonkan dalam pemilu 2014 nanti. tapi kami sadar bahwa apa yang ayahku dan yang kini turut aku perjuangkan bukanlah hal yang sia sia. Aku tau toh nantinya kalaupun ayah terpilih, ayah pasti bukan berjuang untuk dirinya dan keluarganya saja, ia sedang “bekerja untuk Indonesia”

aku sadar, bahwa politik adalah jalan panjang yang harus kita tempuh, meski berat, meski harus rela berkorban
ya, perjuangan itu pasti harus rela berkorban
dan yang pasti, aku akan selalu mendoakan partai ini, aku besar bersama partai ini, aku tau siapa-siapa saja orang-orang di dalamnya dan betapa luar biasa para kadernya, aku tau siapa orang PKS itu, dan aku yakin, PKS akan masuk 3 besar

sedikit cerita lagi, aku dan kakakku sekarang ini sudah lama rindu masa ketika dulu ikut kampanye, bertemu tim nasyid shoutul harokah, izzis, justice voice (maaf kalau kampungan hehe), lalu bertemu ustadz hidayat, bertemu ustadz anis, yang untuk ikhwah yang ada di daerah, bertemu mereka itu bisa dibilang hanya saat kampanye akbar.
Dan pada saat kampenye ustad ahmad heryawan, aku dan kakakku datang (walaupun bukan warga jabar) dan satu kata yang sekarang terngiang di telinga saya, ketika ummi netty istrinya ustad heryawan mengatakan “saya infakkan suami saya untuk warga jabar”.
PKS, aku rela kau mengambil ayahku

****
Oh iya, kredit mobil ayahku baru lunas tahun kemarin, dan pastinya bukan dengan uang haram J

Bandung, 31/3/2013

Contohlah PKS...

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Peneliti senior LIPI Indria Samego mengatakan, jika Susilo Bambang Yudhoyono menjabat sebagai ketua umum Partai Demokrat persoalan utamanya adalah mengenai rangkap jabatan. Sebagai partai modern, harusnya Demokrat bisa meniru Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

"Satu-satunya partai yang sudah memiliki aturan kader pejabat publik tidak boleh menjabat sebagai ketum partai itu PKS," kata Samego di Habibie Center, Jakarta, Sabtu (29/3).
 

PKS dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) nya telah mengatur tentang aturan rangkap jabatan. Sehingga, saat Nur Mahahmudi Ismail terpilih menjadi wali kota Depok jabatannya sebagai presiden PKS dilepas.

Minggu, 31 Maret 2013

Letupan PKS, Mengkhawatirkan

pkssumut.or.id, Hasil survei pemilu yang dikeluarkan oleh LSN di Maret 2013 menunjukan, PKS meraih 4,6 persen suara. Walau begitu, PKS sudah dapat mengungguli Demokrat, pemenang pemulu 2009, yang menurut hasil survey meraih 4,3 persen suara. Dan, mengungguli perolehan suara parta-partai lain yang berbasis Islam. http://www.republika.co.id

Survey ini menunjukan adanya perbaikan perolehan suara PKS, yang sebelumnya diprediksi  hanya sekitar 3-2 persen suara. Walaupun hal ini terlalu dini, namun sudah mengindikasikan keberhasilan PKS dalam pengelolaan organisasi, dan mengelola mood kader serta publik secara bersamaan dan berkesinambungan, paska ditangkapnya LHI.

Ganjing-ganjing di tubuh KPK mengenai sprindik Anas, isu kubu-kubuan di KPK dan drama penangkapan LHI yang janggal, sepertinya membuat kepercayaan publik, sedikit demi sedikit, mulai pulih kepada PKS.

"Jessica, kamu kader PKS juga?"

Asyik saya memainkan gadget yang belum sebulan dibelikan oleh ibu, sambil dikerumuni saudara-saudara sebaya yang sedang berkumpul untuk acara arisan keluarga di rumah saya. Nenek adalah orang yang dituakan untuk meneruskan tradisi keluarga ini. Isinya bukan hanya kumpul-kumpul arisan dan makan-makan, tapi ada juga siraman rohani dari ustadz yang biasanya sengaja diundang.

Kali ini yang seharusnya ngisi adalah Pak De yang juga seorang ustadz di kampungnya. Dan gadis-gadis itu, biasanya lebih asyik ngobrol sendiri daripada menyimak ceramah. Saya, mau gak mau harus solider ngikut nimbrung cekikikan. Sementara yang lain, sudah di posisi masing-masing, duduk melingkar sambil nyender, siap menerima santapan ruhani sambil ngemil santapan jasmani.

Kesederhanaan dan Kepedulian ustadz Hilmi Aminudin (HA) Dimata Masyarakat #PKSederhana

Kultwit Kesederhanaan dan Kepedulian ustadz Hilmi Aminudin (HA) Dimata Masyarakat oleh @a_sholahudin

1. bismillahirrahmaanirrahiim, insya Allah sy akn kultwit ttg "Kesederhanaan dan Kebersahajaan Tokoh dan Kader PKS. #PKSederhana

2. pertama sy akn mnceritakn pandangn msyrkt skitar padepokan madani, lembang, ttg sosok Ust Hilmi Aminuddin (HA). #PKSederhana

3. Ust HA memang kaya, tapi beliau sangat dicintai msyarakt sekitar padepokan madani. #PKSederhana

Minggu, 17 Maret 2013

Kalau Boleh Jujur PKS Partai Terbaik Saat ini

Tahun 2013 adalah tahun politik, dimana sepertinya semua hal halal dilakukan oleh partai politik. Kita lihat saja banyak kader partai yang pindah ke partai lain dengan harapan karir politik lebih baik dari sebelumnya. Banyak orang sebut ini kutu loncat dan ada juga yang menyebut kuda liar, wah kuda liar.. hmmm, kuda liar ini kalau ditanya kenapa pindah jawabannya sederhana ini permintaan konstituen di daerah, ada yang bilang demi rakyat apapun akan saya lakukan ..benar gak ya demi rakyat?? atau hanya sekedar mempertahankan eksistensi dan syahwat politiknya.

Ada lagi yang lebih mengerikan dengan bermodalkan kekayaan dan kuasanya sebagai pemilik media dia menyerang lawan-lawan politiknya dengan media yang ada. Baik media cetak, radio, online, televisi atau semua media yang dia kuasai..tetapi tentang hancur dan bobroknya nya partainya jangan harap akan ada satu beritapun muncul dimedianya,yang muncul hanya kebaikan-kebaikan partainya saja.

Ada juga kabarnya golongan penguasa yang bermain dibalik layar dengan kekuasaannya yang membuat situasi di negeri ini kacau balau memanfaatkan kekuasaannya sehingga bermain-main sesuka hatinya, bahkan sekelas KPK pun yang konon, kata-katanya bagai firman tuhan yang tak pernah salah, bisa di atur. Terlihat jelas di mata rakyat walaupun rakyat jelata seperti saya jika rekan separtainya jadi tersangka tidak langsung ditahan. Sebut saja Anas Urbaningrum sampai saat ini tidak ditahan dan juga Andi Malarangeng tersangka yang bebas kemanapun mereka suka, tidak ada kehawatiran buat KPK mereka menghilangkan barang bukti…opss kita tidak sedang membahas mereka.

Jumat, 15 Maret 2013

Ke Mana Pun Aku Pergi Selalu Ketemu Kader PKS

Semasa kuliah, aku termasuk mahasiswa yang tidak suka berorganisasi atau kesibukan lainnya yang tidak terkait langsung dengan perkuliahanku. Hari-hariku hanya diisi dengan kuliah dan kegiatan di laboratorium elektro. Kalaupun ada kegiatan diluar kuliah, paling banter menghadiri kajian di masjid kampus itu pun sifatnya pasif.

Kesadaranku untuk aktif beroraganisasi justru muncul setelah wisuda akhir tahun 2000 di Malang, aku merasa perlu memperluas pergaulan dan pilihanku adalah organisasi Islam. Cuma aku bingung, organisasi apa yang harus aku ikuti.

Salafy, Jamaah Tabligh, Hizbut Tahrir dan Pengajian mengenal Juz  adalah beberapa yang pernah mewarnai langkahku. Tapi semua itu belum bisa memuaskan dahagaku walau sudah berulang kali kubaca buku atau majalah dari mereka.

Sabtu, 09 Maret 2013

Wawancara LHI di “Mata Najwa”

Oleh: Anwar Muhammad | 09 March 2013 | 16:55 WIB
Salah seorang presenter, host dan wartawan terkenal, tajam dan cerdas, NAJWA SHIHAB, lewat acaranya MATA NAJWA, berhasil melakukan wawancara eksklusif dengan Ustadz Luthfi Hasan Ishaaq di Rutan Guntur. Berikut petikan wawancaranya.
Najwa : Bagaimana kabarnya pak?
LHI : Alhamdulillah baik, seperti yg anda lihat.
Najwa : Sepertinya bapak tetap ceria, tersenyum layaknya tak terjadi apa2.
LHI : Memangnya apa yg terjadi mbak? Oh iya, baru ingat. Saya kan tahanan KPK, hehe.
Najwa : Ha ha ha, padahal udah lebih sebulan lho pak nginap disini. Apa tidak merasa tertekan secara
batin?
LHI : Yaaa (sambil menghela nafas agak sedang), sebagai manusia biasa tentu saya merasa sedikit terkungkung, tidak bebas. Namun sebagai seorang da’i, bagi saya, penjara ini hanyalah medan dakwah
baru. Disini justru banyak orang yang mendambakan taushiah dan juga bimbingan, termasuk imam kala shalat berjama’ah. Jadi,,, mmmm ya, anggap saja bertemu dgn mad’u dan calon2 kader dakwah baru.
Najwa : [sambil mengerutkan kening], maksud bapak tadi madu??
LHI : hehe, mad’u, bukan madu, meskipun hakikatnya bisa sama. Bertemu mad’u itu ibarat meminum madu, selain membawa manfaat dan obat, juga bagian dari sunnah Nabi. Itulah yg kami pelajari di PKS. Mbak, apa bapaknya gak pernah ngajarin??
Najwa : ooh, iya, mmm, itu ya pak. Kayaknya pernah sih, tapi, bapak kan tahu gimana lingkungan kerja saya di Metro TV.
LHI : ooh gitu, makanya mbak, warnailah lingkungan mbak, jangan dibalik-balik.
Najwa : hehe, betul pak. Tapi maaf ya pak, ini kan saya yg mau wawancara, kok malah bapak yg terus
nasehatin saya.
LHI : yaa, itu refleks saja mbak. Udah terbiasa nasehat menasehati. Maaf kalau tersinggung ya.
Najwa : gak apa2 pak… Sepertinya bapak juga tidak sedih ya?
LHI : untuk apa bersedih, selama kita tetap beriman kepada Allah dan istiqamah, kita justru patut bergembira mbak, orang beriman itu posisinya tinggi, mulia, betapapun manusia ingin menghinakannya. Kalo ada fitnah, tuduhan, hujatan bahkan pujian sekalipun, itu hanya perspektif manusia, toh yang paling tahu dan
memahami kita adalah Sang Pencipta. Jadi, yaa, kata kuncinya selalu mendekatkan diri pada-Nya dalam keadaan apapun.
Najwa : Para pemirsa, Ustadz LHI telah mengajarkan kita bagaimana menyikapi segala hal yang menimpa diri secara positif, mengambil sisi baiknya. Baik, kita jedah sejenak.

Gelar Konsolidasi: PKS Ingin Rebut Nomor 1 di Jakarta

Jakarta - Menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2014, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), tidak ingin kalah start dengan partai-partai pesaingnya. Hal itu nampak dari berbagai konsolidasi di daerah yang dilakukan langsung oleh Presiden PKS Anis Matta.

DKI Jakarta mendapatkan giliran konsilidasi dari partai berasaskan Islam tersebut, Sabtu (9/3/2013). Bahkan dalam pidatonya, Anis Matta mengimbau kepada ribuan kader yang memenuhi Sport Mall, Kelapa Gading, Jakarta Utara, untuk kembali merebut tempat pertama seperti pada Pemilu 2004.

"Di Jakarta. Kita targetkan nomor 1. Kemarin turun kedua. Saya kira kader sekarang sudah lebih siap," ujar Anis.

PKS Menang, Pemilik Media Besar Malu Hingga Membungkam Informasi

Dakwatuna.Com - Beginilah jadinya ketika PKS (Partai Keadilan Sejahtera) memenangkan pertempuran dalam pertarungan politiknya di beberapa pilkada (Jabar-Sumut). Terasa sangat jelas ketidakproporsionalan beberapa media, bahkan sekelas media besar.

Sepertinya memang ada agenda para pemilik media besar untuk membungkam informasi kemenangan PKS. Di beberapa media bahkan tidak ada sama sekali tema mengenai Pilkada Sumut, bisa dilihat di Jawa Post pada hari Jum’at tanggal 8 Maret 2013. Kita tidak menemukan berita di dalamnya yang memberitakan kemenangan PKS di Sumut. Padahal pilkada Sumut dilaksanakan pada tanggal 7 Maret 2013 (kemarin).

Ada indikasi para media mencoba untuk memboikot berbagai informasi mengenai kemenangan PKS.

Tafsir Kemenangan PKS

Oleh: Yons Ahmad

Setelah “dihabisi” oleh berbagai media, terutama Tempo, PKS ternyata masih mampu bertahan. Dalam pilkada Jawa Barat dan Sumatera Utara jago PKS yang ikut bertanding memenangi pertempuran. Presiden PKS, Anis Matta memaknai fenomena ini sebagai kemenangan di tengah badai. Fakta ini sekaligus mengubur dan mematahkan para analis politik yang mengatakan PKS akan ditinggalkan para pendukungnya. PKS akan habis. Kali ini mereka keliru. Walaupun memang, tetap banyak nada miring yang kemudian muncul, kali ini malah dilontarkan justru oleh beberapa elemen (organ lain) di tubuh umat Islam sendiri. Dikatakan bahwa kemenangan PKS di beberapa pilgub tersebut bukan sebuah kemenangan dakwah, benarkah?

Bagi saya sebenci apapun kita pada partai, termasuk partai Islam, tetap saja bangunan institusi itu masih diperlukan dalam kancah politik dan kenegaraan. Partai tersebut, apapun keadaanya, dalam panggung sejarah tetap merupakan hasil karya para tokoh-tokoh muslim, kita mesti menghargainya. Itu sebabnya, setelah saya pikir lebih dalam, setelah saya pikir lebih jernih, tanpa menafikan adanya kebobrokan yang ada dalam tubuh partai Islam, saya berada dalam posisi yang menguatkan. Memilih jalan untuk menyumbangkan pemikiran konstruktif agar bangunan partai Islam ini terus berkembang lebih baik lagi. Tentu, dalam soal ini tak hanya sebatas PKS saja. Juga termasuk PAN, PKB, PPP sebagai partai Islam dan partai berbasis umat Islam itu.

Kamis, 07 Maret 2013

Dua Kekalahan dan Pertaruhan Moral Kader PDIP

PDI Perjuangan (PDIP) ternyata tak cukup mampu merawat tren positif terhadap kemenangan Jokowi di Jakarta. Terbukti setelah kemenangan di Jakarta, PDIP berturut-turut kalah di pilgub Jawa Barat (Jabar) dan Sumatera Utara (Sumut). Saya tidak memasukkan kemenangan kandidat yang didukung PDIP di Sulawesi Selatan, karena tak ada kader PDIP yang maju di sana.

Berbeda di Jawa Barat dan Sumatera Utara. Dalam pilgub Jabar, PDIP mengusung kadernya sendiri yaitu Rieke Diah Pitaloka yang dipasangkan dengan Teten Masduki. Pasangan ini memperoleh hasil yang cukup cemerlang karena mampu mengalahkan Dede Yusuf yang dalam survey-survey sebelumnya unggul terhadap Rieke. Dalam pilgub Jabar sosok Jokowi juga dimanfaatkan oleh PDIP untuk mendongkrak suara Rieke.

Dalam pilgub Sumut yang berlangsung hari ini, PDIP mengusung Effendi Simbolon sebagai Cagub. Fenomena yang terjadi di Jawa Barat juga muncul di sini. Dalam berbagai rilis quick count Effendi Simbolon mampu memperoleh posisi kedua dalam perolehan suara menggeser Gus Irawan yang dalam survey sebelumnya memperoleh posisi kedua. Jokowi dalam pilgub Sumut juga dihadirkan sebagai juru kampanye Effendi Simbolon.

PKS itu Berbahaya

13626182901839306699
Pandu Wibowo
Mahasiswa Jurusan Ilmu politik
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

PKS (Partai Keadilan Sejarhtera) merupakan partai Islam terbesar
di Indonesia dan kader kader PKS merupakan kader tersolid diantara
kader partai lainnya. Partai dakwah ini pun sering dan turut aktif dalam
melakukan kegiatan sosial, seperti mengirim kader dan simpatisannya
untuk membantu korban bencana alam (bajir, gunung meletus, tsunami,
gempa bumi, dll).  Dibalik kebaikan kebaikan PKS tersebut timbul
sebuah pertanyaan mengapa PKS selalu mendapat hujatan, hinaan,
kritikan negative, dll. Dari pertanyaan pertanyaan tersebut ternyata
PKS itu berbahaya, mangkanya PKS selalu mendapat hujatan.

Hujatan, hinaan, kritikan negative tidak selalu datang dari rakyat
Indonesia melainkan datang dari beberapa individu, lembaga, dan
partai yang tidak suka dengan PKS. Untuk lebih jelas mengapa
PKS itu berbahaya, penulis akan mengajak pembaca melihat
seberapa bahayanya PKS itu.

Pengamat: Salut Buat Soliditas PKS!

Dua kemenangan berturut-turut PKS dalam pilgub Jawa Barat (propinsi terbesar di Jawa) dan pilgub Sumatera Utara (propinsi terbesar di Sumatera) membuat para pengamat mengacungkan jempol kepada PKS. Di tengah krisis dan gelombang badai yang luar biasa dihadapi PKS pasca ustadz Luthfi Hasan Ishaq ditetapkan tersangka KPK mampu diubah menjadi kekuatan dahsyat.

Pengamat politik Charta Politika, Yunarto Wijaya, via akun twitternya @yunartowijaya menulis:


Salut buat soliditas mesin politik PKS ditengah guncangan kasus eks-presidennnya.. :) #Sumut