jika politik adalah sesuatu yang abu-abu
yang menjadi senjata para penguasa
yang menjadi sindikat pengejar harta dunia
maka aku bukanlah itu
Namun jika politik adalah pembelaan & perjuangan
yang membangunkan keberanian retorika
dan lantang meneriakkan keadilan
maka aku adalah politikus itu

Jika demokrasi adalah belenggu penjajahan
diramaikan oleh tangan-tangan gila jabatan
disetir untuk mengubur kepribadian anak bangsa
maka itu bukan tempatnya
Namun jika demokrasi adalah sebuah peluru pembebas
yang pengusungnya adalah teladan sejati
dan ideologinya menembus keangkuhan parlemen
maka itu adalah kendaraannya..

Tampilkan postingan dengan label Yusuh Supendi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yusuh Supendi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 April 2013

Pendukung Yusuf Supendi Kembali ke Pangkuan PKS dan Tolak Masuk Hanura

Islamedia - Masuknya Yusuf Supendi menjadi kader Hanura menuai beragam respon, salah satunya respon penolakan yang langsung dilakukan oleh para pendukungnya. Para pendukung yang mengatasnamakan murid setia Ustadz Yusuf Supendi.
 
Bentuk respon penolakan yang dilakukan para pendukung Yusuf Supendi adalah dengan tidak mau mengikuti instruksi untuk bersama-sama dirinya masuk kedalam partai Hanura dan membesarkanya. Para pendukung Yusuf Supendi yang mengklaim sebagai mantan kader PKS mengatakan dengan tegas : "Lebih baik kembali kepada PKS dari pada masuk kedalam partai bukan Islam seperti Hanura".

Minggu, 17 Maret 2013

PKS panjatkan doa terbaik untuk Yusuf Supendi di Hanura

Salah satu pendiri Partai Keadilan (PK, bukan PKS), Yusuf Supendi resmi bergabung dengan Partai Hanura. Mendengar kabar tersebut, Mohamad Sohibul Iman, wakil ketua DPR pengganti Anis Matta, mengapresiasi sikap Yusuf.

"Beliaukan sudah tidak bersama PKS, nggak ada yang istimewa, biasa-biasa saja," kata Sohibul seperti yang diberitakan media online merdeka.com, Jumat (15/3).

Shohibul menilai merapatnya Yusuf ke partai besutan Wiranto merupakan hak politik setiap orang. "Kita menghormati pilihan politik, kita sangat menghormati pilihan politik ustaz Yusuf," tegas dia.

Rabu, 23 Maret 2011

KPK Diminta Profesional Tanggapi Laporan Yusuf Supendi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) diminta profesional dalam menanggapi laporan mantan anggota DPR dari PKS, Yusuf Supendi kepada sejumlah petinggi PKS. Laporan kepada KPK itu dinilai salah alamat.

Mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Hidayat Nurwahid mengatakan, KPK harusnya hanya melakukan penyelidikan terhadap dugaan korupsi yang melibatkan pejabat dan keuangan negara. Sedangkan, menurut Hidayat, laporan itu salah satunya ditujukan kepada Ketua Majelis Syura PKS, Hilmi Aminuddin yang jelas bukan pejabat negara.

"Saya minta KPK profesional bekerja sesuai kewenangannya. Ustad Hilmi bukan pejabat negara. Jadi melaporkan beliau ke KPK tentu bukan langkah yang tepat," tuturnya di Gedung DPR, Rabu (23/3).

Kisruh, Membedah Etape Transformasi PKS

Jakarta. Partai Keadilan Sejahtera (PKS), siapa yang tidak kenal dengan partai yang penah digelari "The Phenomenal Party" (partai fenomenal) ini. Setelah bertransformasi dari Partai Keadilan (PK) pada pemilu 1999 menjadi PKS pada pemilu 2004, partai ini membuat gerakan dan gebrakan diluar nalar politik para analis.

Betapa tidak, pada pengalaman pemilu pertamanya, PK hanya mampu meraih 1,4 persen suara dengan tujuh kursi di DPR. Namun lima tahun kemudian, sebagaimana pengakuan Greag Fealy dan Anthony Bubalo, dua peneliti Islamis dari Australia, mengatakan bahwa PKS mencatat rekor sebagai satu-satunya partai dengan keberhasilan luar biasa pada pemilu 2004. Perolehan suara PKS menjadi 7,3 persen, atau meningkat signifikan hingga lima kali lipat.

Di dalam bukunya yang berjudul Joining The Caravan: The Midle East, Islamism and Indonesia, akademisi Australian National University dan Lowy Institute tersebut, melihat jargon bersih dan peduli menjadi daya magnetik bagi pemilih. Kita ketahui bahwa pada pemilu 2004 tersebut, kampanye anti KKN dan anti Orde Baru menjadi jargon utama. Hal ini menjadi ciri khas PKS, pada akhirnya mengantar partai Islam ini menjadi partai Islam terbesar di Indonesia.

Partai yang diakui soliditasnya ini menjadikan kaderisasi sebagai ruh utama mesin politiknya. Berbeda dengan partai lain yang cenderung mengandalkan kekuatan finansial, PKS pada awal berdirinya dengan kader yang berlatar belakang 'tawadhu', PKS melakukan branding dan marketing dengan tawaran gagasan Indonesia yang bebas dari korupsi dan sejahtera dengan nilai-nilai keadilan.