Pemandangan anarkistis yang dipertontonkan mahasiswa saat demonstrasi belakangan ini tampaknya perlu direnungkan dan dipertanyakan ulang keabadian juangnya. Selayaknya, mahasiswa tampil dengan performa yang santun dan menjunjung tinggi nilai-nilai moral serta sinaran intelektualitas. Terlalu mahal harganya jika aksi-aksi mahasiswa sampai menggiring ingatan bangsa untuk beromantika ria seperti saat-saat tahun awal reformasi yang penuh kecamuk dan insiden destruktif lainnya, apapun alasannya.
Banyak alasan untuk tidak bertindak anarkis dalam mengawal perubahan lebih baik. Yang terpenting adalah alasan moral dan tanggung jawab identitas yang disandang mahasiswa sebagai agen perubahan sosial-politik. Mahasiswa adalah agen yang sejatinya mengunggulkan intelektualitas dan santun dalam bersikap, serta bertindak. Sulit berharap perubahan dapat direngkuh, jika cara-cara yang dilakukan mengedepankan emosi membabi-buta. Lebih-lebih bila anarkisme menjadi ideologi yang melekat dalam setiap aksi demonstrasi.
Aksi mahasiswa perlu diimbangi dengan kajian mendalam, strategis dan mampu menemukan akar persoalan. Sudah bukan saatnya lagi mahasiswa bertindak reaksioner dan miskin perspektif. Aksi-aksi mahasiswa bukan ajang tawuran, adu jotos, unjuk fisik, dan semisalnya, tapi ajang tanding konsep sistem atas jawaban-jawaban persoalan yang membelit.










