Mohon maaf jika judul yang saya gunakan agak seronok yang membuat Anda akan sedikit tersenyum kecut. Saya agak kesulitan menggunakan beberapa idiom Bahasa Jawa untuk diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dari kalimat tersebut. Karena ungkapan tersebut menjadi kehilangan keindahannya dari segi susastra karena ungkapan-ungkapan yang njawani mampu memberi rasa bagi kita yang berbicara dalam bahasa Jawa jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Alkisah di negeri antah berantah ada seorang ayah dan anak yang berjalan sambil menuntut seekor kuda. Orang pada heran mengapa kuda tersebut tidak dinaiki cuma dituntun. Maka, sang anak naik kuda tersebut. Melihat anak naik kuda sedangkan sang bapak berjalan kaki, orang yang bertemu mereka heran dan bertanya juga. Maka, si anak turun gantian si ayah yang naik kuda. Melihat ayah naik kuda, sementara itu anak berjalan kaki, orang pun berkomentar mengapa orangtua tidak mau mengalah pada anak?. Ayah dan anak tadi bingung lalu mereka berdua naik kuda. Orang-orang juga usil mengapa satu kuda dinaiki oleh dua orang?. Akhirnya, mereka berdua turun dari kuda dan menggotong kuda itu. Sampai di sini orang-orang masih bersuara bahwa kedua orang itu tidak waras karena kuda yang masih hidup digotong.
Serba salah atau salah tingkah adalah fitrah manusia. Dan itu dialami oleh pemimpin kita dari bupati/walikota, gubernur, hingga presiden. Penyakit atau sindrom serba salah tersebut dinamakan penyakit ngguyu ora payu, (maaf) ngentut ora patut atau tertawa (berbuat baik) tidak laku, kentut (berbuat hal-hal buruk) tidak pantas. Jika manusia tersebut memiliki predikat pemimpin, maka fitrah serba salahnya akan menjadi bahan sorotan baik kawan maupun lawan. Ibarat sebatang pohon semakin besar dan tinggi, maka semakin besar dan tinggi pula terpaan angin.









