jika politik adalah sesuatu yang abu-abu
yang menjadi senjata para penguasa
yang menjadi sindikat pengejar harta dunia
maka aku bukanlah itu
Namun jika politik adalah pembelaan & perjuangan
yang membangunkan keberanian retorika
dan lantang meneriakkan keadilan
maka aku adalah politikus itu

Jika demokrasi adalah belenggu penjajahan
diramaikan oleh tangan-tangan gila jabatan
disetir untuk mengubur kepribadian anak bangsa
maka itu bukan tempatnya
Namun jika demokrasi adalah sebuah peluru pembebas
yang pengusungnya adalah teladan sejati
dan ideologinya menembus keangkuhan parlemen
maka itu adalah kendaraannya..

Tampilkan postingan dengan label Waspada Bencana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Waspada Bencana. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Juni 2011

Tim Advance Relawan PKS Pantau Situasi Dieng

WONOSOBO, Meningkatnya status Siaga kawasan Dieng Wonosobo. membuat penduduk setempat khawatir. Beberapa mulai mengungsi ke tempat yang lebih aman. Jajaran kepanduan relawan PKS pun mulai siap siaga untuk meberikan bantuan di lokasi bencana.

Senin (30/5) sore kemarin, tim advance relawan PKS mulai diterjunkan di sekitar kawasan kawah Timbang, dekat Batur, Dieng, perbatasan Wonosobo dan Banjarnegara. Personel pendahulu ini terdiri atas tim Radkom (Radio Komunikasi) DPW serta relawan PKS dari Banjarnegara dan Wonosobo.

Koordinator tim advance, Pratik Ikmawanto kepada PKS Jateng Online, Selasa (31/5) mengatakan, pihaknya mulai melakukan pemantauan situasi terkini bersama Satkorlak setempat. “Saat ini kami sedang berupaya membangun repeater (pemancar) untuk memudahkan komunikasi antar relawan. Sehingga memudahkan untuk mobilisasi penduduk jika harus mengungsi secara cepat,” tandas pria asal Magelang ini.

Rabu, 27 Oktober 2010

PKS Sumbang Dana Bagi Korban Merapi Rp 1 M

Jakarta. Sedikitnya ada 40 keluarga yang berasal dari kader PKS menjadi pengungsi bencana gunung Merapi. Penggalangan dana pun dilakukan hingga sudah terkumpul Rp 1 miliar.
"Karena ada 40 keluarga kader PKS dievakuasi. Kita akan menginstruksikan kader melakukan penggalangan dana di seluruh Indonesia dan men-declare hasil penggalangan ke publik, sekarang sudah terkumpul Rp 1 miliar," kata Sekjen PKS Anis Matta di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (27/10/2010).

Rencananya, dana tersebut akan diserahkan oleh DPP PKS bersama sejumlah kadernya. PKS juga akan mengirim relawan dan armada sosial ke beberapa titik pengungsian di Merapi.

Selasa, 26 Oktober 2010

Mbah Maridjan Ditemukan Meninggal Dunia dalam Posisi Sujud di Dapur

Jakarta. Akhirnya misteri keberadaan Mbah Maridjan terpecahkan. Kuncen Gunung Merapi itu ditemukan Tim SAR telah meninggal dunia. Mbah Maridjan meninggal dalam posisi sujud.

"Ditemukan di dapur dalam posisi sujud," kata anggota Tim SAR, Suseno, saat ditemui di RS Sardjito, Sleman, Yogyakarta, Rabu (27/10/2010).

Tim evakuasi segera membawa jenazah Mbah Maridjan ke tempat yang aman. Jasad Mbah Maridjan yang lahir pada 1927 ini kini tengah diidentifikasi di rumah sakit.

"Tim mengevakuasi Mbah Maridjan sekitar pukul 05.00 WIB,"
tambah Suseno.

Rabu, 09 Juni 2010

Urgensi Divisi Bencana di Jateng

Miris dan trenyuh! Itulah hal yang bisa kita rasakan dan kita ungkapkan jika melihat kondisi terkini terkait fakta multibencana yang melanda setiap jengkal tanah di negeri berpenghuni 230 juta jiwa ini. Khususnya jika dikaitkan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh pada 5 Juni lalu.

Betapa tidak. Khusus di Jawa Tengah saja, misalnya, hingga medio 2010, parade multibencana alam yang seakan memang telah menjadi “siklus” bencana tahunan di

Jateng, mulai dari cuaca buruk, angin puting beliung, banjir bandang, tanah longsor, rob, luapan sungai, bangunan ambruk, gempa bumi, hingga amukan ombak dan badai senyatanya tak kunjung henti melanda hampir seluruh jengkal tanah di seluruh provinsi yang memiliki 35 kabupaten/kota.

Tak dimungkiri, semua bencana itu bukan saja telah memorakporandakan fisik, moral, dan mental masyarakat Jateng, namun juga membuat birokrasi di tingkat Pemda kian kelimpungan. Dan, semua juga sudah paham, semua bencana itu lebih merupakan ekses dari pengabaian dan atau kurang ramahnya kita dalam mengakrabi lingkungan alam tempat kita bernaung.

Rabu, 31 Maret 2010

Pintu air WGM dibuka, warga Grogol siap-siap mengungsi

Sukoharjo (Espos). Warga Nusupan, Desa Kadokan, Grogol sudah mulai mempersiapkan tempat penampungan barang di rumah masing-masing sebagai antisipasi terjadinya banjir.

Sebagai informasi, Satgas penanganan banjir Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo melansir Waduk Gadjah Mungkur (WGM) Wonogiri selama tiga hari berturut-turut sempat dinyatakan siaga II menyusul kenaikan elevasi air di waduk tersebut, sementara Dam Colo di Nguter sempat dinyatakan siaga I.

Kepala Desa Kadokan, Tri Widodo mengatakan, ketinggian permukaan air Sungai Bengawan Solo yang mengalami peningkatan cukup signifikan, tidak membuat warga di wilayahnya yang berada di dalam bantaran sungai panik.

Jumat, 26 Maret 2010

Dana Korban Banjir Karawang Disiapkan Rp 500 Juta

Jakarta. Kementerian Sosial menyiapkan dana Rp 500 juta untuk membantu korban banjir di Karawang, Jawa Barat. "Yang sudah diberikan Rp 200 juta beberapa hari lalu, " kata Menteri Sosial Salim Segaf Aljufri di Istana Negera, hari ini.

Menurut Salim, hingga saat ini dana untuk tanggap darurat sudah sekitar Rp 1 miliar. Dia menduga banjir di Karawang dan sekitarnya akibat curah hujan tinggi, bukan akibat jebolnya waduk Jatiluhur atau rusaknya lingkungan.

Usai rapat kabinet, Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring mengatatakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memerintahkan setiap menteri turun langsung ke daerah bencana. "Instruksi langsung," kata Tifatul.

Kamis, 25 Maret 2010

Pemerintah Gagal Antisipasi Banjir Citarum

PK-Sejahtera Online. Banjir yang melanda sejumlah kabupaten di Jawa Barat yang dilalui oleh aliran Sungai Citarum terjadi akibat buruknya pola pikir yang mendasari kebijakan pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum selama ini. Dalam konteks banjir, pemerintah selama ini tidak menerapkan kebijakan antisipatif meski beberapa hari lalu Waduk Jatiluhur maupun Waduk Saguling yang berada di hulu Jatiluhur sudah memberikan sinyal kuat ancaman bahaya limpasan air ke kawasan hilir DAS Citarum.

Demikian dikatakan Anggota Panitia Kerja (Panja) Banjir DPR RI, Yudi Widiana Adia di Bandung, Rabu (24/3). Lebih lanjut Yudi mengatakan, sudah saatnya penanganan banjir sudah seharusnya berorientasi pada kebijakan antisipatif dengan pendekatan struktural dan non struktural.

“Dan itu harusnya menjadi sebuah gerakan masif yang melibatkan seluruh masyarakat yang diimbangi dengan tindakan tegas dari setiap pelanggaran aturan-aturan yang sudah dibuat berkaitan dengan tata ruang, khususnya disepanjang DAS Citarum,” ujar Yudi.

Rabu, 03 Maret 2010

Kesiapan Menghadapi Bencana

Kondisi cuaca yang tidak bisa diprediksi belakangan ini, sepatutnya memunculkan kekhawatiran akan terjadinya bencana. Bencana yang terjadi dan datang secara tiba-tiba sering kali membuat kita terpana dan tak bisa berbuat apa-apa. Banjir dan tanah longsor yang menimpa wilayah Bandung menyebabkan terengutnya banyak nyawa dan harta benda.

Dalam skala nasional, wilayah rawan bencana di Indonesia memang cukup luas. Tidak hanya ancaman banjir dan tanah longsor, negara ini mempunyai daerah potensi bencana yang terletak di sepanjang jalur gunung berapi yang melintang di Pulau Sumatra, Jawa, Nusa Tenggara, dan Sulawesi.

Meskipun demikian, kesadaran masyarakat akan hal ini masih rendah. Karena keserakahan manusia sendiri bencana menjadi makin kerap terjadi. Banjir dan tanah longsor misalnya, terjadi akibat sumber resapan air yang tidak terjaga. Ini sebagai dampak parah dari penggundulan hutan, penebangan pohon di sana-sini serta sistem sanitasi yang buruk.

Contoh kecil, pembukaan kawasan industri di kawasan pegunungan di Kabupaten Karanganyar yang notabene merupakan daerah resapan air, ternyata berdampak makro bagi wilayah sekitarnya. Juga penanganan terhadap ancaman banjir Bengawan Solo yang kini menjadi langganan, rupanya belum teridentifikasi secara maksimal oleh masyarakat dan Pemerintah Kota Solo.

Minggu, 07 Februari 2010

40 KK Terancam Banjir

SUKOHARJO. Sebanyak 40 Kepala Keluarga (KK) di Desa Joho, Kecamatan Mojolaban, Sukoaharjo terancam banjir jika tidak dibuatkan talut untuk membendung alairan sungai saat hujan deras. Hal itu karena kondisi talut di sekitar aliran sungai yang mengalir di lokasi lembah hijau tidak dibarengi pembuatan talut di sebelah selatan.

Rafiq, warga Pondok Harapan Makmur megatakan, akibat imbas talut lembah hijau, warga pondok Harapan Makmur akan tercam banjir jika tidak secepatnya dibangunkan talut.

Rencana itu mendesak, mengingat musim hujan sudah datang dan masyarakat mulai cemas dengan keadaan tersebut. Apalagi sebelumnya daearah tersebut tahun kemarin pernah mengalami banjir dan jika tidak cepat dibuatkan talut banjir akan menjadi parah.

Sebelumnya pada tahun 2008 talut sebelah selatan pernah ambrol “Sebagai warga sini saya mengiginkan adanya talut di sebelah selatan sungai dibuat supaya tidak banjir,” ujarnya, Rabu (3/2).

Kamis, 04 Februari 2010

DPR Desak Pemerintah Antisipasi Penanggulangan Bencana

PK-Sejahtera Online. Jakarta (02/02). Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI) mendesak pemerintah agar segera melakukan penguatan kelembagaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPDB) dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana di Indonesia.

Masih kurangnya fungsi koordinasi lintas sektor atau departemen yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana menjadikan penanganan pemerintah terhadap korban bencana di Indonesia terkesan lambat dan kurang terkoordinir. Hal ini menggambarkan tanggung jawab pemerintah sesuai dengan amanat UU No. 24 Tahun 2007 pasal 5 dan 6 tentang Penanggulangan Bencana belum dijalankan dengan seharusnya.

Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Hj Yoyoh Yusroh menyampaikan hal tersebut disela-sela Rapat Paripurna di Gedung DPR Senayan, Jakarta, Selasa (2/2).

“BNPB sebagai koordinator seharusnya mampu melakukan koordinasi yang baik dengan lembaga lain seperti Departemen Sosial, Departemen Pekerjaan Umum, Kementerian Negara Perumahan Rakyat, Kepolisian Negara Republik Indonesia, dan lain-lain berdasarkan data yang akurat terkait bencana yang terjadi di Indonesia. Jika data yang digunakan akurat dan mampu dikoordinasi dengan baik, maka tidak akan ada tumpang tindih bantuan. Untuk itu perlu dilakukan pendataan yang baik dan akurat mengenai upaya penanganan bencana, termasuk bantuan internasional,” jelas Yoyoh Yusroh.

Senin, 01 Februari 2010

70-an Desa di Soloraya rawan banjir dan longsor

Sukoharjo (Espos). Sebanyak 70-an desa yang tersebar di Soloraya rawan banjir dan longsor pada musim hujan kali ini. Terkait itulah, warga di Soloraya diminta mewaspadai datangnya musim hujan dengan curah tinggi dan tempo lama terutama bulan Februari ini.

Sejumlah desa yang rawan banjir dan tanah longsor tersebut karena ada anak sungai yang menuju Sungai Bengawan Solo.

Data di Posko siaga banjir Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) menyebutkan, elevasi air di sungai Bengawan Solo mulai akhir Januari mulai meningkat.

Di Bendungan Colo Sukoharjo, sudah dua kali status air sudah masuk siaga satu. Kondisi tersebut disebabkan oleh curah hujan yang tinggi dan juga lama. Kondisi tersebut bukan saja membuat rentan banjir di dalam kota, namun sejumlah daerah juga terancam longsor.