Oleh : Vida Robi'ah Al-Adawiyah
Orang 1 : “Oooo ternyata kamu anak PK tho, Vid? Penampilanmu beda ya! Keseret juga ya ke partai” sindir teman saya itu, saat itu masih kuliah dan saya ‘masih hijau’ dalam barisan ini. lalu diapun tak lagi ‘hangat’ pada saya. Dahulu, masih PK.Ucapannya selalu sinis. Lha saya? biasa aja toh orang-orang yang ‘menyeret’ saya juga dikenal orang-orang yan baik dan santun?! hehe
Orang 2 : “Mbak Vida aktivis PKS juga tho ternyata? Saudara saya juga lho mbak, trus pas saya pindah ke Medan, ternyata guru ngaji saya juga PKS...” dia –juga teman saya- meskipun usianya lebih muda. Gadis muda itu,meskipun menurutnya pemahaman Islmanya ‘biasa’ aja, tapi dia juga oke-oke saja saat tau saya –critanya- kader PKS
Orang 3 : “Subhanallah Vida, kowe tuh caleg PKS juga tho kemaren. Sayang ya Vid, aku di Jakarta. Waduh bapakku sih karena walikota dia milih Jokowi, nyontrengnya ya partainya Jokowi Vid, gak ngerti sih kalo pemilihannya beda. tapi seneng lho Vid sama anak2 PKS dari di kampus emang kliatan ya?” Dan sahabat saya yang selalu mengucap ‘subhanallah’ itupun selalu bersemangat setiap kali saya direct selling saat pemilu. Dan hingga kini,persahabatan kami sehangat mentari haha.
Orang 4 : “Saya ini orang bodho, bu Vida. Sejak dahulu saya cuma tergerak kalau ada yang ngajak berbuat untuk masyarakat. Suami saya keluar dari satgas P***, lha sudah ndak gathuk (tidak matching) sama nuraninya. Sekarang, saya mungkin cuma punya semangat, PKS menyambut baik dan menghargai potensi saya. Monggo mbak, yang penting kita berbuat untuk masyarakat.” Dia perempuan lulusan SMP, itu ucapannya saat pertama kali saya ngontrak di kawasan Sangkrah, dan dengan percaya diri dia ‘babat alas’, keluar dari kebiasaan kampungnya yang ‘merah’, membantu kerja-kerja kami melalui PWK,hingga kini. Kini dia dan suaminya menjadi Pak dan Bu RW dan tidak ada jawaban selain kata : ya , bu! setiap kali saya ajak ‘bergerak’ hehe
Orang 5 : “Kamu jangan sampai nyebut atau ketauan kalo kader PKS lho, nanti pada ndak mau ikut pengajian, takut dijak milih PKS. “ hehehe.ini yang agak lucu menurut saya. Lha wong partai yang tidak ada bau-bau Islamnya aja bikin pengajian ndak pada ribut, kok PKS yang emang kerjaannya bikin pengajian dibikin ribut.Aneh juga.
Orang ke-6 : ”Ustadzah –hayah selalu merasa gak enak juga sebenarnya dipanggil ustadzah, yaaah mungkin karena saya dianggap istri ‘Ustadz’. Begini ust, gimana tentang tawaran kami untuk ikut Lokakarya Mubalighah se-Jawatengah? Tapi syaratnya memang harus setuju dengan khilafah syar’iyah ustadzah” hehee saya tersenyum.
“Siapa yang ndak mendukung khilafah syar’iyah Bu? jawab saya guyon, Tapi kami hanya memilih lewat jalur partai. Lha terserah panjenengan dan teman-teman, saya kan cuma diundang.Cuma mungkin kendala saya diwaktu Bu, apalagi kalo harus di luar kota, saya ndak bisa ninggal tiga anak” dan ibu muda yang pernah bertetangga dengan sayapun sampai hari ini tetap ‘istiqomah’ dan pantang menyerah memberi saya undangan-undangan acara harakahnya, atau mengisi pelatihan menulis untuk akhwat harakahnya. Sayapun menghadirinya jika tidak bebarengan dengan acara saya.
jika politik adalah sesuatu yang abu-abu
yang menjadi senjata para penguasa
yang menjadi sindikat pengejar harta dunia
maka aku bukanlah itu
Namun jika politik adalah pembelaan & perjuangan
yang membangunkan keberanian retorika
dan lantang meneriakkan keadilan
maka aku adalah politikus itu
Jika demokrasi adalah belenggu penjajahan
diramaikan oleh tangan-tangan gila jabatan
disetir untuk mengubur kepribadian anak bangsa
maka itu bukan tempatnya
Namun jika demokrasi adalah sebuah peluru pembebas
yang pengusungnya adalah teladan sejati
dan ideologinya menembus keangkuhan parlemen
maka itu adalah kendaraannya..
Tampilkan postingan dengan label Info Mukernas/Munas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info Mukernas/Munas. Tampilkan semua postingan
Kamis, 24 Februari 2011
Taujih Sambut Mukernas PKS 2011
Oleh : Cahyadi Takariawan
Pertama adalah lahan kontribusi. Organisasi dakwah telah mendidik dan menyiapkan banyak kader dengan beragam potensi dan keahlian. Semua potensi dan semua keahlian yang dimiliki para kader sangat bermanfaat bagi organisasi dalam mengelola semua aktivitas dan programnya untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai. Dengan dilibatkannya para kader dalam struktur kepengurusan, telah menjadi lahan berkontribusi yang nyata untuk mengoptimalkan segala potensi yang dimiliki.
Ada potensi administrasi, ada potensi kepemimpinan, ada potensi manajerial, ada potensi loby, ada potensi ekonomi, sosial, politik, pendidikan, kesehatan, hukum dan lain sebagainya. Keseluruhan potensi tersebut diwadahi dalam bingkai struktur organisasi, menempatkan orang yang tepat pada posisi yang tepat sesuai kemampuan, keahlian dan potensi yang dimiliki. Dengan manajemen yang tepat, semua potensi diolah dalam sebuah orkestra kepengurusan yang harmonis, sehingga menghasilkan simponi yang indah, teratur, berirama dan terarah.
Orkestra bisa kacau, atau menghasilkan lagu yang tidak enak didengar, sumbang dan tidak serasi, karena ada bagian dari pemain orkestra yang tidak melaksanakan tugasnya dengan baik. Mengapa tidak melaksanakan tugas dengan baik? Bisa jadi karena tidak sesuai kemampuan dan keahliannya. Ahli gitar yang diminta memainkan biola tentu tidak akan menghasilkan harmoni yang tepat. Bisa jadi pula karena kualitas dan integritas pribadi yang bersangkutan, yang tidak memiliki kemampuan untuk bekerja dalam tim, atau tidak memiliki obsesi serta cita-cita kemajuan dan perbaikan. Dia tidak peduli kalau konser orkestra tersebut berantakan dan tidak sukses.
Apa makna menjadi pengurus organisasi dakwah bagi para kader? Tentu sangat banyak maknanya, namun saya mengajak anda melihat dari dua aspek ini saja: lahan kontribusi dan lahan kaderisasi. Dua makna penting yang harus menjadi cara pandang kita dalam kehidupan berstruktur atau berorganisasi dakwah.
Pertama adalah lahan kontribusi. Organisasi dakwah telah mendidik dan menyiapkan banyak kader dengan beragam potensi dan keahlian. Semua potensi dan semua keahlian yang dimiliki para kader sangat bermanfaat bagi organisasi dalam mengelola semua aktivitas dan programnya untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai. Dengan dilibatkannya para kader dalam struktur kepengurusan, telah menjadi lahan berkontribusi yang nyata untuk mengoptimalkan segala potensi yang dimiliki.
Ada potensi administrasi, ada potensi kepemimpinan, ada potensi manajerial, ada potensi loby, ada potensi ekonomi, sosial, politik, pendidikan, kesehatan, hukum dan lain sebagainya. Keseluruhan potensi tersebut diwadahi dalam bingkai struktur organisasi, menempatkan orang yang tepat pada posisi yang tepat sesuai kemampuan, keahlian dan potensi yang dimiliki. Dengan manajemen yang tepat, semua potensi diolah dalam sebuah orkestra kepengurusan yang harmonis, sehingga menghasilkan simponi yang indah, teratur, berirama dan terarah.
Orkestra bisa kacau, atau menghasilkan lagu yang tidak enak didengar, sumbang dan tidak serasi, karena ada bagian dari pemain orkestra yang tidak melaksanakan tugasnya dengan baik. Mengapa tidak melaksanakan tugas dengan baik? Bisa jadi karena tidak sesuai kemampuan dan keahliannya. Ahli gitar yang diminta memainkan biola tentu tidak akan menghasilkan harmoni yang tepat. Bisa jadi pula karena kualitas dan integritas pribadi yang bersangkutan, yang tidak memiliki kemampuan untuk bekerja dalam tim, atau tidak memiliki obsesi serta cita-cita kemajuan dan perbaikan. Dia tidak peduli kalau konser orkestra tersebut berantakan dan tidak sukses.
Sambutan Sri Sultan pada Pembukaan Mukernas PKS
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh,
Yang saya hormati Ketua Majlis Syuro PKS,
Yang saya hormati Presiden PKS beserta pengurus DPP,
Yang saya hormati Ketua dan Pengurus DPW PKS se-Indonesia,
Para kader, para simpatisan PKS yang saya hormati bapak-bapak ibu-ibu hadirin segenap peserta mukernas PKS yang militan.
Marilah kita tundukan kepala dan tengadahkan tangan seraya mengucap puji syukur ke hadirat Allah SWT karena hanya atas izinNya jualah kita bisa bertatap muka dan berdialog dalam acara pembukaan mukernas PKS malam hari ini.
Dengan memilih Yogyakarta sebagai ajang mukernasnya menunjukkan bahwa PKS telah berbuat untuk Yogyakarta, dengan turut menggerakkan pariwisata Yogyakarta yang berbasis kerakyatan. Karena kebanyakan peserta mukernas mungkin menginap di rumah penduduk atau di hotel-hotel melati, maka dampaknya langsung dirasakan oleh UKM yang bergerak di sektor penginapan, jasa kuliner, pasar tradisional, atau warung-warung dan art shop kecil yang menjual kaos atau cinderamata khas Yogyakarta.
Dengan skala nasional dengan motto “Berbuat untuk Indonesia”, sebagai partai yang menyandang misi keadilan, PKS dalam kiprahnya juga telah menunjukkan kontribusinya yang dibuktikan dengan gigih telah berupaya turut menegakkan keadilan dan kebenaran.
Karena agenda utama PKS adalah menegakkan HAM dan kebebasan beragama, hal ini sungguh tepat untuk meredam kekerasan yang bernuansa agama yang akhir-akhir ini merebak kembali. Karena memang berlaku adil itu lebih dekat dengan taqwa.
Rabu, 23 Februari 2011
Saatnya PKS Munculkan Tokoh
REPUBLIKA.CO.ID,YOGYAKARTA. Mengejar target tiga besar pada Pemilu 2014, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mendorong kadernya menjadi tokoh di wilayah dan level masing-masing. Popularitas masih menjadi faktor yang mendukung pendulangan suara. Persoalan minimnya tokoh di PKS disebut sebagai salah satu 'kelemahan' terbesar partai ini.
”Sudah saatnya, tokoh politik PKS maju ke depan menjadi tokoh masyarakat,” tegas Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq, Rabu (23/2). Terutama, sebut dia, para kader yang menjadi anggota dewan baik di tingkat pusat maupun daerah. Juga para pejabat dan kepala daerah yang diusung partai ini.
Mengawali musyawarah kerja nasional di Yogyakarta yang dijadwalkan berlangsung Kamis (24/2) sampai Ahad (27/2), PKS menggelar beragam kegiatan pembuka. Salah satunya adalah koordinasi dengan 80 pimpinan Badan Kebijakan Publik atau Fraksi PKS di semua tingkat.
Minggu, 20 Februari 2011
PKS Goes To Mall Awali Mukernas PKS
Tak seperti biasa, siang itu Galeria Mall Yogyakarta tampak sangat meriah, ratusan anak muda tampak memadati Lower Ground mall yang terletak disisi selatan kampus UGM. Sebagai awal rangkaian Mukernas, awal weekend Sabtu 19 Februari 2011, PKS menggelar acara dengan segmen kawula muda dengan tajuk "PKS Goes To Mall" untuk mengkampanyekan Internet Sehat."Kami memilih mall karena mall adalah tempat berkumpulnya anak muda pada zaman sekarang, dan sebagian besar pengguna internet adalah anak muda sehingga kami ingin menyosialisasikan penggunaan internet yang sehat dan cerdas kepada anak-anak muda ini," kata Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Provinsi DIY DR. Sukamta.
Acara ini menghadirkan nara sumber Gatot Dewabrata (Humas Menkominfo), Igor Saykoji (Duta Internet Sehat) dan Vetra Hariyadi (Praktisi IT). Acara siang itu pun tampak semakin meriah dengan selingan FATIH (Finalis Suara Indonesia), dipandu MC papan atas Fahri & Aila, dengan tema obrolan "Generasi Istimewa, Internet Sehat, Internet Cerdas".
Lesehan di Malioboro Warnai Mukernas PKS
TEMPO Interaktif. Meski Musyawarah Kerja Nasional Partai Keadilan Sejahtera (PKS) baru dibuka pada Kamis (24/2) pekan depan, namun rangkaian kegiatan sudah dimulai Sabtu (19/2).
Rangkaian kegiatan Mukernas ini diawali dengan acara Goes To Mall yang akan dihadiri Menteri Komunikasi dan Informasi Tifatul Sembiring, mantan Presiden PKS di Galeria Mall.
Berbeda dengan Mukernas yang pernah digelar di Jakarta, Bali, Makassar, Mukernas PKS di Yogyakarta memberi rezeki secara merata untuk warga Yogyakarta.
"Mulai dari seniman, budayawan, pengamen, penjual lesehan dan angkringan, pengamen jalanan, hingga pengusaha hotel akan menikmati Mukernas PKS," kata Sekretaris Panitia Mukernas Zuhrif Hudaya ketika mengunjungi kantor Tempo di Jalan Kolonel Sugiyono, Kamis, (17/2).
Pemerataan ini bukan tanpa tujuan. Pasalnya, semangat yang diusung PKS dalam Mukernas kali ini adalah kebangkitan Yogyakarta pasca letusan Gunung Merapi.
Rabu, 23 Juni 2010
Putra Kalimantan Duduk di Struktur Pusat PKS
PK-Sejahtera Online. Susunan pengurus Dewan Pimpinan Pusat Partai Keadilan Sejahtera (PKS) periode 2010-2015 telah diumumkan dan kemudian dilantik pada munas PKS yang berlangsung di Jakarta 17-20 Juni 2010. Salah satu dari kepengurusan tersebut masuk nama Riswandi, yang tidak lain adalah Wakil ketua DPRD Provinsi Kalimantan Selatan.
Riswandi mendapatkan amanah sebagai Wakil Ketua Bidang Wilayah Dakwah Kalimantan. Bersama dengan Hadi Mulyadi, Ketua DPW PKS Kaltim, Riswandi bertanggung jawab untuk mengembangkan dan memenangkan PKS pada tahun 2014 di wilayah Kalimantan.
Menurut Ibnu Sina, Sekretaris MPW PKS Kalsel. Selain menjadi Wakil Ketua Bidang Wilayah Dakwah Kalimantan, Riswandi juga terpilih menjadi salah satu anggota majelis Syuro yang dipilih sebelumnya oleh kader-kader PKS Kalimantan Selatan beberapa bulan lalu. (arf)
Sumber: PK-Sejahtera Online
Selasa, 22 Juni 2010
Membaca Strategi Politik PKS
Pemilihan umum masih empat tahun lagi, tetapi partai-partai politik semakin mematangkan strateginya untuk memenangi Pemilu 2014, baik pemilu legislatif maupun pemilu presiden/wakil presiden. Partai Keadilan Sejahtera berupaya untuk naik peringkat menjadi tiga besar pada Pemilu 2014.
Pergeseran format politik yang diusung partai-partai pun terjadi. Partai Golkar, PDI-Perjuangan, dan Partai Demokrat berupaya bergeser ke kanan atau menonjolkan asas keislaman untuk menunjukkan bahwa partai-partai itu bukan lagi dipandang sebagai partai nasionalis sekuler. Sebaliknya, partai-partai yang selama ini menonjolkan asas atau ideologi Islam justru bergeser ke tengah.
Di antara partai-partai berbasis massa Islam yang berani menonjolkan format baru politiknya ke arah tengah adalah PKS. Pada Musyawarah Nasional II PKS, 16-20 Juni 2010 di Hotel Ritz-Carlton, Jakarta, PKS semakin menonjolkan dirinya bukan lagi sebagai partai dakwah yang eksklusif, melainkan sudah menjadi partai terbuka bagi warga negara Indonesia non-Muslim untuk bergabung ke partai itu.
Wawancara Khusus Ustadz Hilmi Aminuddin Pasca MUNAS PKS
Munas ke-2 PKS berakhir Minggu (20/6) di Jakarta. Dalam Munas yang diselenggarakan sejak 17-20 Juni 2010 itu, selain mengukuhkan kepengurusan PKS periode 2010-2015, juga dijadikan sarana untuk konsolidasi pimpinan PKS dari seluruh penjuru nusantara. Beragam hal ditanyakan publik juga kader PKS terkait dengan sikap politik PKS belakangan ini, mulai dari soal keinginan PKS menjadi partai terbuka sampai soal koalisi permanen.
Berikut petikan wawancara dengan Ketua Majelis Syuro PKS, KH Hilmi Aminuddin.
Apa yang ingin dicapai PKS dalam Munas 2 kali ini?
Musyawarah nasional bagi PKS memiliki beberapa makna. Pertama, merupakan momentum untuk konsolidasi pascapemilu dan konsolidasi menghadapi pemilu (legislatif) maupun pemilukada berikutnya. Kedua, Munas merupakan langkah koordinasi untuk menyiapkan dan melaksanakan program partai. Ketiga, Munas menjadi sarana untuk mensosialisasikan langkah-langkah ke depan PKS, sekaligus ajang mobilisasi seluruh kekuatan dari pusat hingga ke daerah.
Munas juga untuk merespons tantangan ke depan dan memperkuat kerjasama dengan semua lapisan masyarakat yang selama ini ikut serta membantu tumbuh kembangnya PKS.
Senin, 21 Juni 2010
Keterbukaan ala PKS
KOMPAS.com. Pengalaman tiga kali pemilihan umum cukup untuk membuat Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menghitung ulang strategi politiknya. Melalui semboyan "PKS untuk semua", partai Islam itu mulai membuka diri kepada semua golongan dan agama.
Setelah lebih dari satu dasawarsa berkiprah di kancah politik Indonesia, PKS mulai mempertimbangkan untuk melegalformalkan keanggotaan kalangan non-Muslim. Masalah keanggotaan non-Muslim itu menjadi salah satu usulan yang dibahas dalam Sidang Majelis Syura PKS, Rabu lalu.
Usulan itu membuat persidangan Majelis Syura dengan agenda amandemen anggaran dasar/anggaran rumah tangga (AD/ART) berjalan cukup alot. Salah seorang panitia Musyawarah Nasional (Munas) II PKS, Mahfudz Shiddiq, menuturkan, sidang sesi ke-2 yang dimulai pukul 14.00 baru selesai sekitar pukul 23.00. Usulan keanggotaan non-Muslim itu memang baru dibahas dalam sidang sesi ke-2.
Survey KOMPAS: Menimbang Dukungan untuk Keterbukaan PKS
Komitmen Partai Keadilan Sejahtera untuk mengubah diri menjadi partai terbuka disambut dengan dukungan cukup berimbang oleh publik, antara yang menerima dan menolak. Respons cukup positif terhadap perubahan ini tidak saja tecermin pada penilaian masyarakat terhadap citra partai, tetapi lebih dari itu, juga tampak dari kesediaan sebagian publik untuk masuk menjadi anggota.
Partai Keadilan Sejahtera (PKS) merupakan partai berasaskan Islam yang pendiriannya terkait dengan pertumbuhan aktivitas dakwah Islam sejak periode awal 1980-an. Gerakan dakwah ini berbasis di masjid-masjid kampus. Dalam perkembangannya, aktivitas dakwah ini menjalar pula ke masyarakat umum, bahkan ke kalangan pelajar dan mahasiswa di luar negeri, baik Eropa, Amerika, maupun Timur Tengah. Persaudaraan (ukhuwah) yang dibangun dengan corak ideologi Islam yang kuat menjadi sebuah alternatif cara hidup di tengah-tengah masyarakat perkotaan yang cenderung semakin individualistik (Litbang Kompas, ”Partai-Partai Politik Indonesia: Ideologi dan Program 2004-2009”, 2004).
Perubahan politik pada 1998 mendorong para aktivis dakwah ini untuk merumuskan secara lebih konkret upaya peraihan cita-cita mereka. Pendirian partai politik yang berorientasi pada ajaran Islam perlu dilakukan untuk mencapai tujuan dakwah Islam. Partai Keadilan pun dideklarasikan di Jakarta pada 9 Agustus 1998. Tak perlu waktu lama, pada Pemilu 1999, Partai Keadilan yang menjadi cikal bakal Partai Keadilan Sejahtera menduduki peringkat ketujuh dari 48 partai politik peserta Pemilu 1999 dengan perolehan suara 1.436.565 atau 1,36 persen. Sayangnya, peringkat ketujuh dan perolehan suara sebanyak itu tak mampu meloloskan Partai Keadilan dari ambang batas perolehan suara untuk bertahan pada pemilu berikutnya.
PKS Bertaktik 'Jengis Khan' Raih Tiga Besar
Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menarget masuk tiga besar partai pemenang pemilu 2014. PKS sudah menyiapkan rencana strategis untuk meraih target partai tiga besar.
"Kita adalah generasi baru yang tumbuh di zaman baru (reformasi) dan sudah waktunya memimpin," kata Sekretaris Jenderal PKS Anis Matta di Ballroom Ritz Carlton, Jakarta, Jumat 18 Juni 2010.
Menurut Anis, ada empat fase perjalanan partai yang sudah dilalui. Yakni fase integrasi ke politik Indonesia pada 1998, fase eksistensi dengan raihan suara signifikan pada 2004, fase mainstream pasca pemilu 2009. "Ke depan, kita memasuki fase leading," kata Anis.
MUNAS PKS Himpun 5 Milyar untuk Palestina
Munas ke-2 PKS yang digelar di Hotel Ritz Carlton tidak hanya sebagai wadah untuk konsolidasi struktur PKS seluruh Indonesia, tetapi juga menjadi ajang penghimpunan dana bagi rakyat Palestina.
Menurut Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaq, sejak berlangsungnya Munas 16-20 Juni 2010, Panitia berhasil menghimpun dana sebesar 1.5 milyar yang akan disumbangkan melalui Komite Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP).
“Alhamdulilah, Kami berhasil menggalang dana 1.5 milyar yang dikumpulkan dari berbagai wilayah dakwah, dari bagian Barat hingga bagian Timur”, ungkap Luthfi.
PKS Perkuat Keseragaman Parpol
Jakarta, RMOL. Dalam Musyawarah Nasional yang berakhir kemarin, Partai Keadilan Sejahtera menegaskan niatnya untuk bermetamorfosis menjadi partai inklusif yang menjaring kader non Muslim dan membuka dialog dengan Amerika Serikat yang dinilai banyak kalangan sebagai musuh Islam.
Kepala Divisi Penelitian Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial, Fajar Nursahid, menyatakan, jika benar niat itu dijalankan, PKS akan membuat dinamika partai politik di Indonesia cenderung seragam.
"Jadi memang menurut saya sayang saja, karena idealnya kita disuguhi berbagai macam format Parpol, ada yang ideologi nasional dan religius, dan ini tunjukkkan keberagaman," kata Fajar saat dihubungi Rakyat Merdeka Online, sesaat lalu (Senin, 21/6).
Pembukaan Munas PKS Bertabur Bintang
PK-Sejahtera Online. Pembukaan Munas ke-2 PKS semalam, di Ballroom Hotel Ritz Carlton Jakarta dihadiri oleh banyak bintang, yang tak lain adalah para tokoh nasional.
Tepat puku 19.00, satu persatu tokoh nasional tersebut memasuki lokasi acara. Mereka adalah Presiden Republik Indonesia Bambang Susilo Yudhoyono beserta Ibu Ani Yudhoyono, Para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, yakni Menteri Komunikasi dan Informasi Tifatul Sembiring, Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri, Menteri Pertanian Suswono dan Menteri Riset dan Teknologi Suharna.
Hadir pula Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfudz MD, Mantan Ketua MK yang juga dicalonkan menjadi Ketua KPK Jimly Assidiqi, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, Ketua Parta Demokrat Anas Urbaningrum, Ketua Partai Amanat Nasional yang juga Menko Perekonomian Harta Rajasa, Ketua Partai Demokrat Aburizal Bakrie.
Mengenang Masa Lalu PKS
CATATAN BANG RAPI
Penggambaran itu rasanya pas buat Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Partai yang kelahirannya dibidani para aktivis dakwah kampus ini melangkah ke depan mengikuti realitas zaman. Itulah makanya, Munas II PKS menetapkan partai ini sebagai partai terbuka, insklusif, dan moderat. Tidak lagi eksklusif seperti pada era sebelumnya.
Ketika dilahirkan pada 20 Juli 1998, banyak orang memandang PKS berbeda dengan partai-partai lainnya, termasuk dengan partai Islam sekalipun. PKS adalah partai yang menjadikan dakwah sebagai basis gerakan.
Di masa lalu, ciri khas PKS itu begitu kental.Kader militan, ikhlas bekerja, patuh kepada pimpinan, berusaha menerapkan nilai-nilai Islam adalah bagian dari gambaran orang terhadap PKS. Banyak orang lantas memposisikan PKS berbeda dengan partai Islam lainnya.
Jakarta, RMOL. Kata orang bijak, kita hidup sejatinya harus mengikuti realitas zaman. Tak boleh stagnan,apalagi mundur ke belakang. Karena dunia ini terus bergerak maju dan tak pernah berjalan ke belakang.
Penggambaran itu rasanya pas buat Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Partai yang kelahirannya dibidani para aktivis dakwah kampus ini melangkah ke depan mengikuti realitas zaman. Itulah makanya, Munas II PKS menetapkan partai ini sebagai partai terbuka, insklusif, dan moderat. Tidak lagi eksklusif seperti pada era sebelumnya.
Ketika dilahirkan pada 20 Juli 1998, banyak orang memandang PKS berbeda dengan partai-partai lainnya, termasuk dengan partai Islam sekalipun. PKS adalah partai yang menjadikan dakwah sebagai basis gerakan.
Di masa lalu, ciri khas PKS itu begitu kental.Kader militan, ikhlas bekerja, patuh kepada pimpinan, berusaha menerapkan nilai-nilai Islam adalah bagian dari gambaran orang terhadap PKS. Banyak orang lantas memposisikan PKS berbeda dengan partai Islam lainnya.
PKS Dicela dan Dipuja
JAKARTA, KOMPAS.com. Menjelang pelaksanaan Musyawarah Nasional kedua Partai Keadilan Sejahtera (PKS) pada 16-20 Juni 2010, sudah muncul suara-suara yang menyoroti pilihan Hotel Ritz Carlton Pacific Palace Jakarta sebagai tempat pelaksanaan acara.Semua tahu bahwa tempat itu adalah hotel mewah milik perusahaan Amerika Serikat (AS), negara yang kerap menjadi sasaran aksi massa PKS terkait dengan kebijakan standar ganda AS dalam konflik Palestina-Israel.
Apalagi, PKS juga mengundang Duta Besar AS Cameron R Hume sebagai salah satu pembicara dalam sebuah seminar internasional yang diselenggarakan saat Munas itu berlangsung.
Sejumlah kalangan mempertanyakan sikap PKS yang dinilai telah mendua dan berubah sehingga dikhawatirkan melemahkan respons partai ini terhadap isu-isu yang terkait dengan AS dan perjuangan rakyat Palestina. Publik mempertanyakan agenda terselubung apa di balik perubahan sikap PKS itu.
Sebuah Penjelasan dari Ketua Dewan Syuro PKS: Ustadz Hilmi Aminuddin
Di tengah kesibukannya menggelar Munas II, Ketua Dewan Syuro PKS Ustadz Hilmi Aminuddin, yang akrab disapa Ustadz Hilmi, menyempatkan diri berbincang-bincang dengan wartawan selama kurang lebih satu jam.
Dalam-bincang yang penuh persahabatan itu, Ustadz Hilmi mengaku baru pertama kali berlama-lama dialog dengan wartawan. Karuan saja diskusi ringan hingga yang berat pun dijawabnya dengan renyah.
Mulai dari isu PKS menjadi partai inklusif, kehadiran kader non muslim, bahkan isu kecurigaan sejumlah jenderal soal PKS, isu asas tunggal, Pancasila hingga syariat Islam pun dipaparnya. Termasuk isu aktual soal kasus video porno 'Ariel-Luna Maya-Cut Tari, tak luput dari pengamatannya.
Untuk lebih jelasnya saya menurunkan lengkap wawancara langka ini via facebook. Berikut petikannya:
Politik Pencitraan PKS
Wacana
Tradisi politik citra di Indonesia berkembang pesat setelah bergulirnya reformasi yang memberikan ruang bagi media. Tidak heran banyak bermunculan lembaga survei dan iklan politik di berbagai media massa ketika reformasi melahirkan pemilihan langsung presiden ataupun kepala daerah. Gambaran itu makin sering terlihat dalam proses politik yang hangat seperti dalam pilkada. Fenomena politik citra ini tidak bisa lepas dari strategi pemasaran untuk mendongkrak suara atau menutupi sebuah kebusukan politik.
Membangun citra dalam dunia politik penting karena terkait dengan kosntituen. Bahkan, menjadi faktor utama bagi politikus atau sebuah partai untuk mencapai tujuan politiknya. Tidak mengherankan citra politik seringkali tidak berdasarkan pada realita. Dinamika politik belakangan beranggapan bahwa citra lebih penting daripada realitas yang membentuknya.
ADA yang menarik jika mengamati percaturan politik nasional akhir-akhir ini. Politik pencitraan atau bisa diistilahkan political marketing menjadi salah satu gaya khas para politikus. Sebelumnya, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang melakukan politik pencitraan berhasil mendongkrak popularitas sehingga kembali terpilih menjadi presiden.
Tradisi politik citra di Indonesia berkembang pesat setelah bergulirnya reformasi yang memberikan ruang bagi media. Tidak heran banyak bermunculan lembaga survei dan iklan politik di berbagai media massa ketika reformasi melahirkan pemilihan langsung presiden ataupun kepala daerah. Gambaran itu makin sering terlihat dalam proses politik yang hangat seperti dalam pilkada. Fenomena politik citra ini tidak bisa lepas dari strategi pemasaran untuk mendongkrak suara atau menutupi sebuah kebusukan politik.
Membangun citra dalam dunia politik penting karena terkait dengan kosntituen. Bahkan, menjadi faktor utama bagi politikus atau sebuah partai untuk mencapai tujuan politiknya. Tidak mengherankan citra politik seringkali tidak berdasarkan pada realita. Dinamika politik belakangan beranggapan bahwa citra lebih penting daripada realitas yang membentuknya.
Langganan:
Postingan (Atom)
















