jika politik adalah sesuatu yang abu-abu
yang menjadi senjata para penguasa
yang menjadi sindikat pengejar harta dunia
maka aku bukanlah itu
Namun jika politik adalah pembelaan & perjuangan
yang membangunkan keberanian retorika
dan lantang meneriakkan keadilan
maka aku adalah politikus itu

Jika demokrasi adalah belenggu penjajahan
diramaikan oleh tangan-tangan gila jabatan
disetir untuk mengubur kepribadian anak bangsa
maka itu bukan tempatnya
Namun jika demokrasi adalah sebuah peluru pembebas
yang pengusungnya adalah teladan sejati
dan ideologinya menembus keangkuhan parlemen
maka itu adalah kendaraannya..

Sabtu, 09 Maret 2013

Anis Matta: PKS adalah 'School of Leadership'

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) akan merampungkan daftar calon anggota legislatif sementara (DCS) pada pertengahan bulan Maret ini. Dari caleg yang diusung hingga kini, tidak ada tokoh-tokoh rekrutan baru dari partai lain.

Demikian disampaikan Presiden PKS Anis Matta di Gedung Kompleks Parlemen, Kamis (7/3/2013) malam. "Insya Allah kami sudah hampir final. Soal DCS ini semoga dalam pertengahan bulan ini sudah ada," ujar Anis.

Persoalan struktur kepengurusan baru yang belum diterbitkan Kementerian Hukum dan HAM, kata Anis, tidak menjadi masalah. Pasalnya, struktur kepengurusan baru itu kemungkinan akan diterbitkan Kemhuk dan HAM dalam pekan ini.

Kamis, 07 Maret 2013

Anis Matta Effect Mengalahkan Jokowi Effect?

Hari ini publik mengarahkan pandangannya pada hasil Quick Count (hitung cepat) Pemilihan Kepada Daerah Provinsi Sumatera Utara (Pilkada Sumut). Usai pemungutan suara di seluruh Tempat Pemungutan Suara (TPS), setidaknya dua lembaga survei sudah merampungkan hasil hitung cepatnya. Hasilnya, pasangan no. 5 yang berjuluk Ganteng (Gatot Pujo Nugroho) unggul baik di Survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) maupun di Indobarometer.

Hasil hitung cepat LSI yang dirilis oleh viva.co.id dan TVone menempatkan pasangan Ganteng unggul dengan perolehan suara 32.23 % disusul pasangan No. 2 Effendi Simbolon-Jumiran Abdi/ESJA (26.82 %). Urutan selanjutnya adalah pasangan No. 1  Gus Irawan-Soekirman/GusMan (19.45 %) diikuti pasangan No. 2 Amri Tambunan-RE Nainggolan (12.40 %) dan terakhir Pasangan No. 3 Chairuman Harahap-Fadly Nursal /Charly (9.10 %). Jumlah suara TPS masuk hingga tulisan ini ditulis (pukul 17.30) sebanyal 99.14%

Dari hasil hitung cepat Indobarometer yang dirilis oleh metrotvnews.com dan Metro TV, hasilnya tidak berbeda jauh. Pasangan Ganteng juga unggul denga perolehan suara 32.87 % disusul pasangan No. 2 Effendi Simbolon-Jumiran Abdi/ESJA (23.93 %). Urutan selanjutnya adalahpasangan No. 1  Gus Irawan-Soekirman/GusMan (21,82 %) diikuti pasangan No. 2 Amri Tambunan-RE Nainggolan (12.01 %) dan terakhir Pasangan No. 3 Chairuman Harahap-Fadly Nursal /Charly (9.37 %) dengan jumlah suara TPS 100 %.

Anis Mata: Ini Buah Manis Konsolidasi Nasional

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Anis Matta mensyukuri hasil penghitungan cepat (Qiuck Count) yang menempatkan Gatot Pujo Nugroho - Tengku Eri Nuryadi (Ganteng) dalam pemilihan Gubernur Sumatera Utara di posisi teratas. Ini adalah kemenangan kedua PKS versi Quick Count dalam Pilkada.

Anis Matta pun mensyukuri atas hasil Quick Count tersebut. "Alhamdulillah ini adalah buah manis dari konsolidasi nasional yang kita lakukan," kata Anis Matta kepada Tribunnews.com di Istora Senayan, Jakarta, Kamis (7/3/2013).

Anis Matta menilai kemenangan ini merupakan sesuatu yang sangat penting. Hal tersebut dikarenakan kemenangan terjadi di tengah masyarakat Sumatera Utara yang plural.
 

PKS Menang Pilgub, "Jokowi Effect" Memudar?


Joko Widodo saat menjadi juru kampanye Rieke-Teten dalam Pilgub Jawa Barat.

 

VIVAnews - Kemenangan beruntun pasangan yang diusung PKS di Pilkada Jawa Barat (Jabar) dan Sumatera Utara (Sumut), diperkirakan akan menaikkan elektabilitas PKS pada pemilu 2014 nanti.

Pengamat politik dari Media Survey Nasional (Median), Rico Marbun, menjelaskan wilayah Jabar dan Sumut memiliki jumlah pemilih yang relatif besar di Indonesia.  “Jumlah pemilih di Jawa Barat itu terbesar di Pulau Jawa, dan Sumatera Utara memiliki jumlah terbesar di Pulau Sumatera,” katanya, Kamis 7 Maret 2013.

Menurutnya, kemenangan di dua pilkada itu telah menunjukkan kepemimpinan Anis Matta sebagai Presiden PKS, telah berhasil membalikkan arus serangan terhadap PKS, menjadi peluang. “Serangan kepada PKS setidaknya bisa dijadikan peningkat soliditas bagi kader PKS, ketimbang meruntuhkan soliditas mereka” ujarnya.

Dua Kekalahan dan Pertaruhan Moral Kader PDIP

PDI Perjuangan (PDIP) ternyata tak cukup mampu merawat tren positif terhadap kemenangan Jokowi di Jakarta. Terbukti setelah kemenangan di Jakarta, PDIP berturut-turut kalah di pilgub Jawa Barat (Jabar) dan Sumatera Utara (Sumut). Saya tidak memasukkan kemenangan kandidat yang didukung PDIP di Sulawesi Selatan, karena tak ada kader PDIP yang maju di sana.

Berbeda di Jawa Barat dan Sumatera Utara. Dalam pilgub Jabar, PDIP mengusung kadernya sendiri yaitu Rieke Diah Pitaloka yang dipasangkan dengan Teten Masduki. Pasangan ini memperoleh hasil yang cukup cemerlang karena mampu mengalahkan Dede Yusuf yang dalam survey-survey sebelumnya unggul terhadap Rieke. Dalam pilgub Jabar sosok Jokowi juga dimanfaatkan oleh PDIP untuk mendongkrak suara Rieke.

Dalam pilgub Sumut yang berlangsung hari ini, PDIP mengusung Effendi Simbolon sebagai Cagub. Fenomena yang terjadi di Jawa Barat juga muncul di sini. Dalam berbagai rilis quick count Effendi Simbolon mampu memperoleh posisi kedua dalam perolehan suara menggeser Gus Irawan yang dalam survey sebelumnya memperoleh posisi kedua. Jokowi dalam pilgub Sumut juga dihadirkan sebagai juru kampanye Effendi Simbolon.

Pidato “Konspirasi” Anis Matta Mulai Menuai Hasilnya

Gemuruh takbir sontak terdengar
memenuhi ruangan kantor DPP PKS
di Jalan TB Simatupang, Jakarta,
pada Jumat 1 Februari 2013. Anis
yang biasanya tampil tenang
mendadak bak menjelma menjadi
singa podium. Pidatonya menggelegar
dan sarat dengan emosi. Menghanyutkan! hingga tak sadar air mata pun
berderai turun.

Meski menerima keputusan KPK yang menjerat Presiden PKS, Luthfi
Hasan Ishaq, sebagai salah satu tersangka kasus dugaan korupsi impor
sapi, namun kalimat sanksi berbalut konspirasi masih terlontar dari Anis
Matta.

PKS itu Berbahaya

13626182901839306699
Pandu Wibowo
Mahasiswa Jurusan Ilmu politik
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

PKS (Partai Keadilan Sejarhtera) merupakan partai Islam terbesar
di Indonesia dan kader kader PKS merupakan kader tersolid diantara
kader partai lainnya. Partai dakwah ini pun sering dan turut aktif dalam
melakukan kegiatan sosial, seperti mengirim kader dan simpatisannya
untuk membantu korban bencana alam (bajir, gunung meletus, tsunami,
gempa bumi, dll).  Dibalik kebaikan kebaikan PKS tersebut timbul
sebuah pertanyaan mengapa PKS selalu mendapat hujatan, hinaan,
kritikan negative, dll. Dari pertanyaan pertanyaan tersebut ternyata
PKS itu berbahaya, mangkanya PKS selalu mendapat hujatan.

Hujatan, hinaan, kritikan negative tidak selalu datang dari rakyat
Indonesia melainkan datang dari beberapa individu, lembaga, dan
partai yang tidak suka dengan PKS. Untuk lebih jelas mengapa
PKS itu berbahaya, penulis akan mengajak pembaca melihat
seberapa bahayanya PKS itu.

Bukti Kebangkitan PKS dan “Tsunami” Demokrat

Meski proses hitung cepat Pilkada Sumatera Utara (Sumut) masih dilakukan hingga artikel ini dipublish, namun -dengan kisaran suara masuk sebesar 91 persen- dipastikan bahwa pasangan nomer urut 5, Gatot-Tengku Erry, akan mengunci kemenangan atas lawan-lawan politiknya.

Kemenangan (sementara) pasangan Gatot-Tengku (Ganteng), dengan raihan sekitar 33 persen, yang diusung oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS) semakin menegaskan tidak adanya efek gonjang-ganjing korupsi yang tengah membelit para elite PKS.

Sebelumnya, pada gelaran Pilkada Jawa Barat (Jabar), pasangan yang diusung oleh PKS, yakni Aher-Dedy, juga meraih kemenangan yang sama. Ini menjadi cerminan bahwa sentimen negatif terhadap PKS di tingkat nasional tidak berimbas hingga ke tingkat daerah-daerah.
 

Pengamat: Salut Buat Soliditas PKS!

Dua kemenangan berturut-turut PKS dalam pilgub Jawa Barat (propinsi terbesar di Jawa) dan pilgub Sumatera Utara (propinsi terbesar di Sumatera) membuat para pengamat mengacungkan jempol kepada PKS. Di tengah krisis dan gelombang badai yang luar biasa dihadapi PKS pasca ustadz Luthfi Hasan Ishaq ditetapkan tersangka KPK mampu diubah menjadi kekuatan dahsyat.

Pengamat politik Charta Politika, Yunarto Wijaya, via akun twitternya @yunartowijaya menulis:


Salut buat soliditas mesin politik PKS ditengah guncangan kasus eks-presidennnya.. :) #Sumut

Tim Aher: Tak Ada Celah Rieke Menang di MK


JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Tim Advokasi pasangan Ahmad Heryawan-Dedi Mizwar, Sadar Muslihat, menilai gugatan sengketa Pilgub Jabar 2013 yang diajukan pasangan Rieke Dyah Pitaloka-Teten Masduki di Mahkamah Konstitusi akan ditolak. Pasalnya, tidak ada celah bagi MK untuk mengabulkan gugatan sengketa pilgub itu.

"Terkait kecurangan sistematis dan masif, kami rasa akan sulit dibuktikan. Karena kami lihat di lapangan, pelanggaran yang ditangani panwas hanya sedikit," kata Muslihat dalam jumpa pers di DPP PKS, Jakarta, Kamis (7/3/2013).

Muslihat menyebutkan, berdasarkan data keberatan pasangan yang kalah di pleno penetapan rekapitulasi suara pilgub, pihaknya sudah mendeteksi poin yang akan menjadi gugatan. Sebab itu, gugatan pasangan Rieke-Teten mengenai sangkaan politik uang dari program bantuan sosial sudah dapat diprediksi sebelumnya.