jika politik adalah sesuatu yang abu-abu
yang menjadi senjata para penguasa
yang menjadi sindikat pengejar harta dunia
maka aku bukanlah itu
Namun jika politik adalah pembelaan & perjuangan
yang membangunkan keberanian retorika
dan lantang meneriakkan keadilan
maka aku adalah politikus itu

Jika demokrasi adalah belenggu penjajahan
diramaikan oleh tangan-tangan gila jabatan
disetir untuk mengubur kepribadian anak bangsa
maka itu bukan tempatnya
Namun jika demokrasi adalah sebuah peluru pembebas
yang pengusungnya adalah teladan sejati
dan ideologinya menembus keangkuhan parlemen
maka itu adalah kendaraannya..

Tampilkan postingan dengan label Taujih Nabawi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Taujih Nabawi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 April 2016

SEDAMAI DI SINI | Salim A. Fillah

by @salimafillah

Pernahkah ada yang menghitung; kiranya ada berapa perbedaan fiqih yang terjadi di Masjidil Haram ini? Tentang melafal niat, tentang sedekap, tentang iftitah, tentang letak tangan saat i'tidal, tentang telapak atau lutut dulu yang turun sujud, tentang letak kaki saat duduk, hingga tentang berapa kali salam yang termasuk rukun?

Dan dapatkah kita pulang ke tanah air dengan tetap selapang dada ketika di sini?

Bukankah sesuatu yang ikhtilaf, apalagi jika bertolak belakang, meniscayakan yang satu benar sedangkan yang lain keliru? Dalam soal pokok-pokok agama dan dasar-dasar ‘aqidah yang disepakati oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah, demikianlah adanya. Tetapi dalam perkara furu’iyah fiqhiyah, para ‘ulama memiliki penjelasan. Berikut ini sebuah contoh yang sering dikutip.

Hakikat Dakwah Kultural

Oleh: Dr. Muzani, M.Si

Dakwah bermakna menyerukan dan menyampaikan kepada seluruh umat menusia konsep Islam tentang pandangan dan tujuan hidup manusia di dunia ini.

Dengan demikian dakwah adalah bagian esensial dalam kehidupan seorang muslim, dimana esensinya berada pada ajakan dorongan, rangsangan serta bimbingan terhadap orang lain untuk menerima ajaran agama Islam dengan penuh kesadaran.

Rabu, 13 April 2016

Puisi Anis Matta : Zaman Ketidakpercayaan

Menulis puisi politik sudah menjadi barang langka di zaman sekarang ini. Namun tidak untuk mantan presiden Partai Keadilan Sejahtera Anis Matta Puisi politik terbarunya berjudul “Zaman Ketidak Kepercayaan” dengan beberapa pengulangan bait “di zaman ketidak percayaan ini, jangan lagi membuat janji-janji” ada pesan tersirat Anis Matta untuk kader PKS agar tidak membuat janji-janji.

“Jangan bikin janji lagi kemasyarakat karena semua orang sudah tidak percaya, apa yang harus anda lakukan, turun dan temui mereka biar mereka melihat wajah anda. Biar mereka sendiri yang merasakan bahwa anda memiliki wajah pembohong atau tidak.” Ungkap Anis Matta di sela-sela wawancara. (kabarpks)

Tafsir Terbaik

قَالَ حَسَنٌ اَلْبَنَّا – رَحِمَهُ اللهُ
“وَبَعْدُ، فَقَدْ سَأَلَنِيْ أَحَدُ الْإِخْوَانِ عَنْ أَفْضَلِ التَّفَاسِيْرِ وَأَقْرَبِ طُرُقِ الْفَهْمِ لِكِتَابِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، فَكَانَ جَوَابِيْ عَلَى سُؤَالِهِ هَذَا هَذِهِ الْكَلِمَةَ:
“قَلْبُكَ”، فَقَلْبُ الْمُؤْمِنِ – وَلَا شَكَّ – هُوَ أَفْضَلُ التَّفَاسِيْرِ لِكِتَابِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى.
وَأَقْرَبُ طَرَائِقِ الْفَهْمِ؛ أَنْ يَقْرَأَ الْقَارِئُ بِتَدَبُّرٍ وَخُشُوْعٍ، وَأَنْ يَسْتَلْهِمَ اللهَ الرُّشْدَ وَالسَّدَادَ، وَيَجْمَعَ شَوَارِدَ فِكْرِهِ حِيْنَ التِّلَاوَةِ، وَأَنْ يُلِمَّ مَعَ ذَلِكَ بِالسِّيْرَةِ النَّبَوِيَّةِ اَلْمُطَهَّرَةِ، وَيُعْنَى بِنَوْعٍ خَاصٍّ بِأَسْبَابِ النُّزُوْلِ وَارْتِبَاطِهَا بِمَوَاضِعِهَا مِنْ هَذِهِ السِّيْرَةِ، فَسَيَجِدُ فِيْ ذَلِكَ أَكْبَرَ الْعَوْنِ عَلَى الْفَهْمِ الصَّحِيْحِ السَّلِيْمِ.
وَإِذَا قَرَأَ فِيْ كُتُبِ التَّفْسِيْرِ بَعْدَ ذَلِكَ فَلِِلْوُقُوْفِ عَلَى مَعْنَى لَفْظٍ دَقَّ عَلَيْهِ، أَوْ تَرْكِيْبٍ خَفِيَ أَمَامَهُ مَعْنَاهُ، أَوْ اِسْتِزَادَةٍ مِنْ ثَقَافَةٍ تُعِيْنُهُ عَلَى الْفَهْمِ الصَّحِيْحِ لِكِتَابِ اللهِ، فَهِيَ مُسَاعِدَاتٌ عَلَى الْفَهْمِ، وَالْفَهْمُ بَعْدَ ذَلِكَ إِشْرَاقٌ يَنْقَدِحُ ضَوْؤُهُ فِيْ صَمِيْمِ الْقَلْب

Hasan al-Banna – rahimahullah – berkata:
“Salah seorang ikhwan bertanya kepadaku tentang tafsir terbaik, dan tentang metode terpendek untuk memahami kitab Allah SWT." Maka jawaban saya atas pertanyaanya adalah kalimat berikut:
- Hatimu, sebab hati seorang mukmin, tanpa diragukan lagi, adalah tafsir terbaik terhadap kitab Allah SWT."

Taujih Ust. Musyafa A.R : Hati-Hati dengan "Wewenang"

Tersebut dalam hadits muttafaqun ‘alaih (Bukhari [1496, 4347] dan Muslim [19]) bahwa Rasulullah SAW mengutus Mu’adz bin Jabal – radhiyallahu ‘anhu – (20 SH – 18 H = 603 – 639 M) ke Yaman, untuk melaksanakan tugas dakwah di satu sisi, dan sebagai amil zakat, di samping tugas-tugas yang lainnya.

Ada banyak point “taujih” penugasan yang diberikan oleh Rasulullah SAW kepadanya, dan sudah banyak buku, syarah dan kajian yang mengulas makna mendalam dari setiap point “taujih” Rasulullah SAW tersebut.

 Di antara point taujih yang perlu mendapatkan pendalaman adalah “peringatan” beliau SAW kepada Mu’adz (RA) sebagai berikut:

«... فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لَكَ بِذَلِكَ، فَإِيَّاكَ وَكَرَائِمَ أَمْوَالِهِمْ وَاتَّقِ دَعْوَةَ المَظْلُومِ، فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ»

«… Maka, jika mereka telah taat kepadamu untuk hal itu, maka berhati-hatilah terhadap harta mereka yang mulia, dan takutlah kamu terhadap do’a orang yang terzhalimi, sebab tidak ada hijab (penghalang) antara do’a orang yang terzhalimi dengan Allah SWT».