by @salimafillah
Pernahkah ada yang menghitung; kiranya ada berapa perbedaan fiqih yang
terjadi di Masjidil Haram ini? Tentang melafal niat, tentang sedekap,
tentang iftitah, tentang letak tangan saat i'tidal, tentang telapak atau
lutut dulu yang turun sujud, tentang letak kaki saat duduk, hingga
tentang berapa kali salam yang termasuk rukun?
Dan dapatkah kita pulang ke tanah air dengan tetap selapang dada ketika di sini?
Bukankah sesuatu yang ikhtilaf, apalagi jika bertolak belakang,
meniscayakan yang satu benar sedangkan yang lain keliru? Dalam soal
pokok-pokok agama dan dasar-dasar ‘aqidah yang disepakati oleh Ahlus
Sunnah wal Jama’ah, demikianlah adanya. Tetapi dalam perkara furu’iyah
fiqhiyah, para ‘ulama memiliki penjelasan. Berikut ini sebuah contoh
yang sering dikutip.
jika politik adalah sesuatu yang abu-abu
yang menjadi senjata para penguasa
yang menjadi sindikat pengejar harta dunia
maka aku bukanlah itu
Namun jika politik adalah pembelaan & perjuangan
yang membangunkan keberanian retorika
dan lantang meneriakkan keadilan
maka aku adalah politikus itu
Jika demokrasi adalah belenggu penjajahan
diramaikan oleh tangan-tangan gila jabatan
disetir untuk mengubur kepribadian anak bangsa
maka itu bukan tempatnya
Namun jika demokrasi adalah sebuah peluru pembebas
yang pengusungnya adalah teladan sejati
dan ideologinya menembus keangkuhan parlemen
maka itu adalah kendaraannya..
Tampilkan postingan dengan label Salim A. Fillah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Salim A. Fillah. Tampilkan semua postingan
Minggu, 17 April 2016
Jumat, 08 Juni 2012
Yang Aku Tahu; Allah Bersamaku
Oleh Salim A Fillah
aku percaya
maka aku akan melihat keajaiban
iman adalah mata yang terbuka
mendahului datangnya cahaya
“Aku”.
Jawaban Musa itu terkesan tak
tawadhu’. Ketika seorang di antara Bani Israil bertanya siapakah yang
paling ‘alim di muka bumi, Musa menjawab, “Aku”. Tapi oleh sebab jawaban
inilah di Surat Al Kahfi membentang 23 ayat, mengisahkan pelajaran yang
harus dijalani Musa kemudian. Uniknya di dalam senarai ayat-ayat itu
terselip satu lagi kalimat Musa yang tak tawadhu’. “Kau akan
mendapatiku, insyaallah, sebagai seorang yang sabar.” Ini ada di ayat
yang keenampuluh sembilan.
Di mana letak angkuhnya? Bandingkan struktur bahasa Musa, begitu para musfassir mencatat, dengan kalimat Isma’il putra Nabi Ibrahim. Saat mengungkapkan pendapatnya pada sang ayah jikakah dia akan disembelih, Isma’il berkata, “Engkau akan mendapatiku, insyaallah, termasuk orang-orang yang sabar.”
Di mana letak angkuhnya? Bandingkan struktur bahasa Musa, begitu para musfassir mencatat, dengan kalimat Isma’il putra Nabi Ibrahim. Saat mengungkapkan pendapatnya pada sang ayah jikakah dia akan disembelih, Isma’il berkata, “Engkau akan mendapatiku, insyaallah, termasuk orang-orang yang sabar.”
Langganan:
Postingan (Atom)


