jika politik adalah sesuatu yang abu-abu
yang menjadi senjata para penguasa
yang menjadi sindikat pengejar harta dunia
maka aku bukanlah itu
Namun jika politik adalah pembelaan & perjuangan
yang membangunkan keberanian retorika
dan lantang meneriakkan keadilan
maka aku adalah politikus itu

Jika demokrasi adalah belenggu penjajahan
diramaikan oleh tangan-tangan gila jabatan
disetir untuk mengubur kepribadian anak bangsa
maka itu bukan tempatnya
Namun jika demokrasi adalah sebuah peluru pembebas
yang pengusungnya adalah teladan sejati
dan ideologinya menembus keangkuhan parlemen
maka itu adalah kendaraannya..

Tampilkan postingan dengan label Selamat Jalan Gus Dur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Selamat Jalan Gus Dur. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Januari 2010

Hidayat: MPR Harus Rehabilitasi Gus Dur


INILAH.COM, Jakarta. Pemberian gelar pahlawan kepada Gus Dur harus merehabilitasi nama mantan Presiden RI itu terlebih dahulu. MPR disarankan menggelar sidang khusus untuk merehabilitasi Gus Dur.
"Saran saya,Impeachment yang dikeluarkan MPR pada waktu itu, ya seharusnya MPR yang sekarang bisa melakukan sidang khusus untuk membuat rehabilitasi, supaya clear," ujar Mantan Ketua MPR, Hidayat Nur Wahid di Gedung DPR, Jakarta, Senin (4/1).

Hidayat menambahkan, rehabilitasi tersebut dilakukan agar tidak terjadi kontroversi dalam pemberian gelar kepahlawanan bagi Gus Dur. "Rehabilitasi itu dilakukan agar tidak terjadi kontroversi dalam pemberian gelar pahlawan, jadi orang tidak ingat lagi dulu pernah diberi gelar impeachment," ujar hidayat.

Rabu, 30 Desember 2009

Adyaksa Dault Sebut Gus Dur Pemimpin yang Siap Menerima Kritik

Jakarta, RMOL. Menerima kritik tanpa keluhan adalah salah satu sikap Gus Dur yang harus ditiru para pemimpin bangsa. Itulah kesan mantan Menteri Pemuda dan Olah Raga, Adyaksa Dault.
“Tahun 2001, ada desakan agar Gus Dur mundur dari kursi kepresidenan. Saya sebagai ketua umum Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) waktu itu datang ke Istana Negara. Saya bilang, Gus Dur di luar ada desakan agar Gus Dur segera mundur. Gus Dur nanya, bagaimana pendapat KNPI. Saya bilang, KNPI juga meminta agar Gus Dur mundur karena situasi sudah tidak kondusif. Luar biasa, Gus Dur tidak marah tapi malah tertawa dan ngajak dialog panjang lebar. Beliau memang demokrat sejati dan harus dicontoh oleh para pemimpin bangsa, gubernur, dan para bupati,” kata Adyaksa Dault, kepada Rakyat Merdeka Online, beberapa saat lalu (Kamis, 31/12).

Selain itu, kata Adyaksa, Gus Dur merubah kesan Istana Negara yang sakral dan angker menjadi ramah dan tebuka untuk rakyat.

“Beliau tokoh pluralis yang merubah kesan Istana Negara yang angker. Istana benar-benar menjadi rumah rakyat. Semua bisa masuk Istana Negara dari mulai pejabat hingga rakyat kecil. Beliau menganggap siapapun sahabat dan tidak memiliki dendam pada siapapun,” kata Adykasa. [yan]

Tifatul: Gus Dur Tokoh Politik Fenomenal


JAKARTA, KOMPAS.com. Kepemimpinan sosok Abdurahman Wahid benar-benar memberikan inspirasi bagi banyak orang. "Beliau sosok fenomenal sebagai tokoh politik", ujar Menteri Komunikasi dan Informatika, Tifatul Sembiring, mengenang sosok Gus Dur.
"Sebagai mantan Presiden, beliau adalah tokoh besar bangsa ini. Selama memimpin, beliau memberikan kebebasan berpendapat, dan kebebasan pers," ujar Tiffatul Sembiring yang tiba sekitar pukul lima pagi usai melaksanakan sholat gaib di rumah duka, Warung Sila, Ciganjur Jakarta, Kamis (31/12/2009).

Tifatul juga mengatakan, sebagai tokoh politik, Gus Dur memiliki pendirian yang kokoh, unik, dan sulit tergantikan. "Style Nahdiyin-nya sangat kuat. Banyak yang bisa dipelajari dari Gus Dur, sosoknya unik, susah mencari tokoh seperti beliau di masa mendatang. Dalam hal politik beliau luar biasa, banyak hal yang tak terduga beliau sampaikan."

Anis Matta: Kita Kehilangan Tokoh dan Simbol Demokrasi


JAKARTA. Sekjen PKS Anis Matta dalam perjalanan menuju Doha Qatar, Rabu (30/12) malam, menyampaikan bela sungkawa dari dirinya pribadi dan partainya untuk Abdurrahman Wahid. Menurut dia, Indonesia tak hanya kehilangan tokoh intelektual seiring meninggalnya Gus Dur -panggilan kehormatan Abdurrahman- ini.
"Sebagai bangsa, kita bukan hanya kehilangan tokoh intelektual tetapi terutama kehilangan tokoh dan simbol demokrasi," kata Anis yang menelepon di jeda penerbangan.

Dia mengajak kita semua mendoakan Gus Dur. "Semoga diterima semua amalnya dan diampuni semua dosa besarnya," ujar dia. (palupi annisa auliani/pur)


Sumber: Republika Newsroom

Terima Jenazah Gus Dur, TK Lagi-Lagi Salah Ucap


Okezone, JAKARTA. Entah karena grogi atau karena tidak biasa melakukan upacara kenegaraan, Ketua MPR Taufiq Kiemas kembali salah mengucapkan kalimat. Ini terjadi saat pihak keluarga menyerahkan jenazah KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur kepada negara.
Pantauan okezone di rumah Gus Dur di Ciganjur, Kamis (31/12/2009), setidaknya ada beberapa kalimat yang keliru diucapkan suami Megawati Soekarnoputri ini.

Jika seharusnya disebutkan Waktu Indonesia Barat (WIB), namun Taufiq mengucapkan Waktu Irian Barat. Kemudian, seharusnya diucapkan Tuhan Maha Pencipta, namun diucapkan Tahan Mamaha Pencipta.

Ini merupakan kesalahan ucap Taufiq untuk kesekian kali. Salah satunya, saat melantik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta. Saat itu Taufiq seharusnya mengucapkan nama presiden lengkap, namun disingkat menjadi SBY. (kem)


Sumber: news.okezone.com

*** Selamat Jalan Guru Bangsa ***


“Tidak penting apa pun agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu” -Gus Dur-
Jakarta (Espos). Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Mantan Presiden ke-4, KH Abdurrahman Wahid yang akrab disapa Gus Dur, berpulang ke rahmatullah, di RSCM, Jakarta, Rabu (30/12) pukul 18.45 WIB. Pemerintah pun meminta rakyat mengibarkan bendera setengah tiang selama satu pekan penuh sebagai bentuk penghormatan.

Sebelum mengembuskan napas terakhir, kesehatan mantan Presiden Abdurrahman Wahid merosot pada pukul 11.00 WIB. Tim dokter Kepresidenan menyatakan Gus Dur meninggal dunia pukul 18.45 WIB. Gus Dur mengalami komplikasi dan kritis pada pukul 18.15 WIB sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir.

”Dengan ini kami beritahukan bahwa Gus Dur telah meninggal dunia pada hari Rabu 30 Desember pukul 18.45 WIB,” ujar dr Jusuf Misbach dari tim dokter Kepresidenan di RSCM, Jakarta Pusat. Jusuf menambahkan Gus Dur dirawat sejak 26 Desember 2009 lalu dan kondisinya sempat membaik. ”Namun pada Rabu hari ini pukul 11.30 WIB kondisinya memburuk dengan komplikasi penyakit stroke, diabetes, jantung dan pada pukul 18.15 WIB kondisinya kritis. Tepat pukul 18.45 WIB beliau meninggal,” tegas dia.
Pada pukul 18.15 WIB, Gus Dur kritis. Pada petang itu, Presiden SBY sempat menjenguk Gus Dur di RSCM. Setengah jam kemudian, Gus Dur mengembuskan napas terakhir.