jika politik adalah sesuatu yang abu-abu
yang menjadi senjata para penguasa
yang menjadi sindikat pengejar harta dunia
maka aku bukanlah itu
Namun jika politik adalah pembelaan & perjuangan
yang membangunkan keberanian retorika
dan lantang meneriakkan keadilan
maka aku adalah politikus itu

Jika demokrasi adalah belenggu penjajahan
diramaikan oleh tangan-tangan gila jabatan
disetir untuk mengubur kepribadian anak bangsa
maka itu bukan tempatnya
Namun jika demokrasi adalah sebuah peluru pembebas
yang pengusungnya adalah teladan sejati
dan ideologinya menembus keangkuhan parlemen
maka itu adalah kendaraannya..

Senin, 24 November 2008

Peluang PKS 51 Persen di Pemilu 2009



Peneliti Komunikasi Politik University of Winconsins Amerika Serikat Dr Frank P Hairgrove memprediksi, peluang Partai Keadilan Sosial (PKS) hanya 51 persen di Pemilu 2009.

"Tapi itu cukup baik kalau PKS bisa menempatkan diri bukan sebagai partai agama tetapi lebih ke partai nasionalis," ujar Frank di sebuah restoran cepat saji di kawasan Warung Buncit, Jakarta, Sabtu (22/11/2008).

Menurut Frank, partai berbasis agama bisa memecah penduduk Indonesia bukan malah mempersatukan.

"Masyarakat Indonesia lebih memperhatikan isu nasionalis daripada isu keagamaan," imbuhnya.

"Self Identity juga menentukan bagaimana orang akan mengumpulkan massa ke dalam sebuah kelompok yang besar," pungkasnya. (lsi)


http://smsplus.blogspot.com/2008/11/peluang-pks-51-persen-di-pemilu-2009.html

PKS Ikuti Gaya Kampanye Obama



Okezone, Jakarta. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) disarankan untuk mengikuti prinsip-prinsip yang dilakukan presiden terpilih Amerika Serikat Barack Obama, dalam setiap kampanye yang dilakukan untuk menyukseskan pemilu legislatif 2009.

"PKS harus mengikuti langkah-langkah dan prinsip-prinsip yang dipakai Obama dalam kampanyenya. Dulu Obama meminta partisipasi dari kaum muda dengan berinvestasi Rp1.000 per sms, " ujar Frank P Hairgrove dari University of Winconsin Amerika Serikat dalam sebuah diskusi di Paparon's Pizza, Jalan Warung Buncit Raya Jakarta, Sabtu (22/11/2008).

Frank menambahkan, PKS juga harus jeli dalam memanfaatkan kemajuan teknologi yang kini semakin canggih. Seperti halnya Obama dalam kampanyenya yang memanfaatkan kemajuan teknologi untuk meraih dukungan massa yang cukup besar.

"Obama melakukan ini sebagai langkah yang luar biasa," imbuhnya.

Senada dengan Frank, Ketua Bidang Ekuintek DPP PKS Shohibul Iman mengatakan, partainya sudah melakukan langkah-langkah tersebut dalam setiap kampanye, terutama terkait penggalangan dana.

"Kami sudah melakukan hal yang sama dengan gerakan Rp5.000 sampai Rp50.000 kepada kader-kader PKS, " kata salah satu kandidat capres PKS ini.

Server Komik Nabi Muhammad Ada di AS



Kepala Unit V Cyber Crime Markas Besar Polri, Edy Hartono mengatakan, berdasarkan hasil investigasi sementara, situs yang menyebarluaskan komik Nabi Muhammad SAW berasal dari Amerika Serikat.

"Postingnya memang berasal dari Amerika. Tapi orangnya belum tentu ada di Amerika Serikat", katanya dalam sebuah diskusi bertajuk "Kejahatan Dunia Maya," di Jakarta, Sabtu (22/11).

Menurut dia, kepolisian RI telah bekerjasama dengan Kepolisian Amerika Serikat untuk mengungkap identitas pembuat situs penista agama.

"Kami lakukan koordinasi, Selain itu, polisi juga menggunakan jalur interpol. Itu police to police," ungkapnya tanpa merinci penelusuran data lebih lanjut.

Kepolisian RI tengah menyelidiki kasus situs penistaan agama yang memuat kartun Nabi Muhammad. Situs tersebut bernaung dalam situs blog wordpress.

Namun kepolisian mengaku kesulitan dalam penyelidikan karena pelaku menggunakan teknik-teknik penipuan dalam menyebarkan komik itu.

"Ada teknik-teknik pengelabuan, makanya pengusutan penyebaran komik ini agak berat dan perlu waktu yang cukup lama," ujarnya.

Namun penyidik, menurut dia, tetap optimis dapat mengungkap pembuat situs tersebut. Meski dalam waktu yang belum bisa ditentukan. "Ini Pasti meninggalkan jejak dan ini hanya membutuhkan waktu yang tidak bisa diprediksi", ujarnya.

Merah-Putih PDIP-PKS



BANDUNG. Adanya isu koalisi antara partai PDIP dan PKS, rupanya sudah tidak diragukan lagi, hal tersebut terlihat ketika acara launching pemimpin muda oleh PKS, yang juga menghadirkan kader PDIP, Maruarar Sirait.
Di mana kader PDIP tersebut, terlihat akrab ketika didaulat berpidato dihadapan sekitar 5000 kader PKS di auditorium Sabuga ITB, Kamis malam Kamis (21/11/2008).

Maruarar yang berpidato sekitar 18 menit, menyatakan bahwa koalisi yang nantinya dijalin akan lebih harmonis jika diimbangi dengan penyamaan visi misi kader kedepan yang lebih baik.

"Saya kira ketika Platform partainya beda, ideologinya beda, maka jika ada koalisi kadernya harus disamakan visi misinya," ungkap Maruarar Sirait yang disambut tepuk tangan ribuan kader PKS.

PDIP juga mengklaim, dari 25 kabupaten/kota di Jabar, sekitar 15 kota/kab dipimpin oleh kepala daerah yang berasal dari PDIP, sehingga jika koalisi ini terjadi maka raihan suara akan sangat luar biasa

Bahkan Ara, sapaan Maruarar sempat bergurau, kader PKS, katanya, harus banyak belajar menyanyikan lagu Indonesia Raya, bila ingin berkoalisi dengan PDIP.

"Hal itu ungkapnya, jika Indonesia Raya dinyanyikan tiap hari oleh kader partai, maka rasa nasionalis itu akan tetap tumbuh," ungkapnya sambil menutup pidatonya dengan pantun Bendera Merah Putih, Bendera Indonesia, Merah PDIP, Putih PKS.

Sumber: http://www.pemilu-online.com/
Ditulis Oleh okezone
Jumat, 21 November 2008
Dibaca oleh : 75 Orang

Perspektif dan Prospek Partai Islam



Partai-partai yang berasas Islam sejak pemilihan umum (pemilu) pertama di Indonesia tahun 1955 telah menjadi salah satu kelompok kekuatan politik utama di samping partai-partai yang berasas Pancasila dan berideologi lainnya, seperti sosialis. Prospek partai-partai Islam dalam tulisan ini adalah partai yang berasas Islam dan mencantumkan asas Pancasila, tetapi konstituennya berbasis pada anggota/massa organisasi Islam, seperti Muhammadiyah untuk Partai Amanat Nasional (PAN) dan Nahdlatul Ulama untuk Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Adapun Partai-partai yang berasas Islam adalah Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Bintang Reformasi (PBR), Partai Matahari Bangsa (PMB), dan Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU). Dalam platform politik, partai-partai Islam itu dapat dikategorikan sebagai partai tengah kanan, yaitu sebagian partai dalam perjuangan politiknya menjadikan ajaran Islam sebagai sumber inspirasi dan etika serta sebagian lagi dengan berpedoman pada prinsip-prinsip Islam memperjuangkan terwujudnya nilai-nilai Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Perjuangan partai Islam
Perjuangan partai-partai Islam pada pemilu pertama tahun 1955 begitu gigih terutama yang dilakukan oleh Partai Masyumi. Hasilnya Masyumi menang di 10 daerah pemilihan (dapil) termasuk Jakarta Raya dari 15 dapil yang ada dan menguasai 20,92 persen suara pemilih. Masyumi bersama dengan Partai NU, PSII, Partai Perti, dan partai-partai kecil lainnya yang berbasis Islam berhasil mencapai 43,71 persen pemilih.

Kelompok lainnya mendapatkan 46,86 persen terdiri dari PNI dan IPKI yang berhaluan nasionalis, berideologi sosialis seperti PSI dan berhaluan komunis seperti PKI serta partai-partai kecil lainnya yang pluralis. Keberhasilan partai-partai Islam pada pemilu pertama itu dimungkinkan oleh beberapa faktor.

Pemerintah RI pada waktu itu memberikan kebebasan sepenuhnya kepada setiap partai mengusung suatu ideologi yang selanjutnya diperjuangkan untuk menjadi dasar negara dalam perdebatan dan perumusan Undang-Undang Dasar yang permanen pada lembaga Konstituante yang dibentuk setelah pemilu. Kondisi itu dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh para pemimpin/tokoh Islam dalam menarik pemilih-pemilih yang ber agama Islam terutama di luar Jawa.

Sejarah mencatat perjuangan partai-partai Islam di Konstituante untuk menjadikan Islam sebagai dasar negara dalam UUD yang akan dibuat tidak berhasil. Perjuangan ideologis partai -partai Islam selanjutnya meredup, dalam artian tidak lagi berusaha menjadikan Islam sebagai dasar negara, tapi sebaliknya telah menerima Pancasila sebagai dasar negara.

Perjuangan selanjutnya mengawal agar undang-undang yang dibuat di DPR, seperti UU No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan/atau peraturan-peraturan yang dikeluarkan eksekutif agar tidak bertentangan dengan syariat Islam. Pada pemilu 1971 pengaruh Masyumi sudah hilang karena dibubarkan oleh Presiden Soekarno melalui Keppres No 128 Tahun 1960 dan begitu kuatnya mesin politik Orde Baru yang terwujud dalam Golkar. Partai-partai Islam yang terdiri dari empat partai, yakni NU, PARMUSI (sebagai partai baru yang menampung mantan anggota/pengikut Masyumi) PSII dan Perti hanya mendapatkan 27,12 persen suara pemilih.

Pada pemilu berikutnya, tahun 1977 dan1982, keempat partai Islam itu pada 1973 bergabung menjadi satu dengan nama Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Perolehan partai Islam (PPP) sebesar 29,29 persen, selanjutnya turun ke titik terendah yaitu 15,98 persen pada pemilu 1987. Namun, pada pemilu-pemilu selanjutnya mengalami kenaikan, yakni pada 1992 sebesar 17,01 persen, 1997 22,43 persen, 1999 37,54 persen, dan 2004 mencapai 38,33 persen.

Kenaikan yang signifikan (lebih dari 15 persen) pada 1999 karena beberapa faktor. Di antaranya muncul partai-partai Islam yang baru yaitu Partai Keadilan( PK), Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Bintang Reformasi(PBR), Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai kebangkitan Bangsa (PKB). Begitupun pada pemilu 2004, dua partai Islam yakni PKB dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mendapatkan suara pemilih yang signifikan dengan menguasai masing-masing dapil Jawa Timur dan Jakarta Raya.

Peningkatan perolehan suara pemilih itu disebabkan antara lain sebagai hasil dari perubahan tema-tema kampanye yang disuarakan oleh partai-partai Islam, seperti PKS dengan temanya bersih dan peduli dan tidak lagi semata-mata bernuansa ideologis seperti menuntut diberlakukannya Piagam Jakarta, tapi sudah mencakup (malahan dominan) isu-isu aktual, seperti masalah pemberantasan korupsi, penyediaan lapangan kerja, dan penegakan hukum.

Prospek partai Islam
Pada pemilu yang akan dilaksanakan April 2009 untuk memilih calon-calon anggota legislatif (caleg), partai-partai Islam masih mempunyai prospek meningkatkan perolehan suara pemilih walaupun peserta pemilu ada 38 partai. Prospek itu didukung oleh kenyataan bahwa hampir semua partai Islam mempunyai konstituen yang setia dan solid, tidak banyak terpengaruh oleh munculnya partai-partai baru yang bernuansa nasionalis sekuler.

PPP mempunyai pemilih yang tradisional, seperti masyarakat Betawi di Jakarta dan masyarakat Muslim di kota-kota kecil dan perdesaan yang melihat gambar Ka'bah sebagai lambang PPP mempunyai tarikan/perasaan tersendiri bagi mereka. PKS dengan kader-kadernya berpendidikan menengah tinggi di perkotaan terkenal dengan kesetiaan/soliditas terhadap partai disertai vitalitas kegiatan/perjuangan mereka mengibarkan panji-panji partai dengan tema-temanya yang menarik, yakni bersih, peduli, dan profesional.

Citra PKS sebagai partai yang bersih dengan kader/calegnya sampai sekarang belum terdengar/terbaca/terlihat melakukan praktik korupsi, menerima sogok, dan sejenisnya disertai tema kampanye yang menarik diperkirakan akan menarik pemilih yang mengambang (swing voters). PKB akan tetap mendapatkan suara pemilih dari warga pesantren yang tersebar di Jawa, terutama di Jawa Timur, sebagaimana juga diharapkan oleh PKNU.

Begitupun PMB yang mengharapkan suara pemilih datang dari anggota/simpatisan Muhammadiyah terutama kaum mudanya yang tersebar di seluruh Indonesia, sebagaimana juga harapan PAN. Mengenai PBB dan PBR perolehan suaranya tidak begitu berubah secara signifikan dari perolehan pada pemilu 2004.

Selain menyandarkan dan mengharapkan dari pemilih-pemilih tradisional, prospek penambahan perolehan suara partai-partai Islam pada pemilu nanti akan dipengaruhi/ditentukan juga oleh figur-figur yang akan diusung sebagai capres dan cawapres untuk pemilihan presiden nanti. Kesepakatan partai-partai Islam untuk bersatu memunculkan capres/cawapres sebagai calon alternatif dari calon-calon yang telah ada perlu dipertimbangkan secara serius, terutama untuk menarik swing voters.


Penulis: Aiyub Mohsin, Pengamat Politik/Dosen FISIP Unas

PKS Nggak Ada Matinya



INILAH.COM, Jakarta. Bukan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) jika kehabisan akal. Ada-ada saja manuver politik partai Islam kota ini. Soal kreativitas, nyaris tak ada yang menandingi PKS. PKS nggak ada matinya.

Teranyar, PKS mengadakan rekonsiliasi simbolik dengan keluarga pahlawan, figur yang mereka usung untuk iklan politiknya. Kemudian, PKS pun mengumpulkan 100 tokoh muda masa depan.

Dalam kancah politik, aksi itu perlu. Tapi, dia bukan segalanya. Aksi saja belumlah cukup. “That is necessary, but not sufficient,” ujar Blake Respini, dosen ilmu politik Universitas Negeri San Francisco, AS. Respini sempat melakukan penelitian terhadap PKS dan syariat Islam di Nusa Tenggara Barat.

Pekan ini, partai yang berlambang padi yang diapit dua sabit ini meluncurkan penghargaan kepada 106 pemimpin muda Indonesia. Penghargaan itu diberikan kepada mereka yang dianggap memiliki integritas di bidangnya.

Tak semua sosok-sosok muda itu yang menghadiri acara PKS. Sebagian ada yang tak sempat. Sebagian menolak dengan alasan tersendiri. Tapi, gebrakan-gebrakan PKS itu mestinya mendorong partai-partai politik lain tak kalah akal dan tak ketinggalan berolah kecerdikan.

Maka, pertanyaan seperti ini layak diajukan: kemana para aktor dan kreator dari PDI Perjuangan, Partai Golkar, PAN, PPP, dan PKB? Mereka terbukti kalah ‘set’ dalam memainkan manuver politik untuk mencuri perhatian publik.

Sudah tentu, aksi-aksi PKS itu menimbulkan sikap pro-kontra. Namun dari sisi komunikasi politik, taktik dan strategi PKS boleh dikatakan menyalib parpol-parpol pesaingnya.

Sebagian analis politik menyerukan parpol-parpol lain mestinya membuat inovasi politik menjelang Pemilu 2009. Tentu, inovasi yang bisa bermanfaat bagi rakyat banyak. Misalnya, memberikan bantuan pupuk, bibit unggul dan sarana lain yang dibutuhkan kaum tani.

Atau, membantu memberdayakan nelayan atau para pelajar tak mampu. Bisa pula mengadakan lomba menulis karya sastra, lomba kreasi seni dan sebagainya. Ada banyak cara untuk menolong kaum ‘tertindas’ di negeri ini.

Selama ini, kata Ray Rangkuti, pengamat politik, parpol-parpol lebih banyak membuang dana milyaran rupiah untuk iklan politik tebar pesona. “Sementara rakyat kecil butuh uluran tangan yang nyata. PDI-P, Partai Golkar, Partai Demokrat, dan bahkan PKS sekalipun, lebih suka tebar pesona ketimbang bekerja nyata untuk rakyat,’’ kata Ray, Direktur Lingkar Madani (LIMA).

Jika parpol-parpol lain untuk sementara ketinggalan kereta oleh permainan PKS, maka sesungguhnya masih banyak peluang dan ruang bagi mereka untuk membuat aksi-aksi partai menarik simpati publik. Persoalannya: mau atau tidak parpol-parpol di luar PKS itu?

Di mata publik, masih belum jelas adakah target perolehan kursi PKS bakal terdongkrak atau tidak, dengan berbagai manuver dan gebrakan PKS itu. Publik sendiri nampak sudah kelelahan dijejali politik yang tak berfaedah dan bermanfaat bagi rakyat karena demokrasi liberal selama 10 tahun ini tidak mampu mensejahterakan rakyat, malah menyesakkan dan menghimpit dada rakyat sebagai para demosnya. [I4]

PKS Tak Butuh Duit Cendana



INILAH.COM, Jakarta. PKS tidak hanya diplesetin 'Partai Kagumi Soeharto' karena iklannya yang kontroversial. Karena itu, PKS juga dituding hanya mau duit dari Cendana. Namun hal tersebut dibantah tegas PKS.

"Tidak benar itu. Alhamdulillah, kami baru kenal keluarga Cendana baru kemarin dalam acara silahturahmi itu," ujar Ketua Bapilu DPP PKS, Anis Mata, kepada INILAH.COM, Jakarta, Jumat (21/11).

Anis mengatakan dana yang diperoleh PKS untuk berkampanye selama ini berasal kader-kadernya. PKS, tambahnya, sama sekali tidak pernah meminta-minta uang kepada pihak mana pun.

"Kita kolekan, makanya iklannya sebentar durasinya dan hanya tiga hari," ujarnya.

Anis juga membantah bahwa iklan itu telah membuat PKS kehilangan suara pemilih. Meskipun menuai berbagai kritik, kata Anis, justru meningkatkan jumlah suara PKS dalam Pemilu 2009 ini.

"Terbalik, di grass root sangat positif," tegasnya.[rok/ana]

PKS Bantu Calhaj Terlantar



Terlantarnya calon jamaah haji asal Indonesia di Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA), menarik simpati warga negara Indonesia yang tinggal di Malaysia. Bantuan untuk para calon jamaah haji (calhaj) itupun mengalir.

Bantuan yang diberikan kepada para calon jamaah haji beragam mulai dari bantuan logistik berupa makanan dan minuman hingga bantuan kesehatan dan pengobatan.

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) perwakilan Malaysia merupakan salah satu pemberi bantuan kepada para calhaj yang terlantar tersebut.

Perwakilan Pusat Informasi dan Pelayanan (PIP) PKS Malaysia, Ikhwan Bangun Rambe, mengatakan, bantuan yang diberikan sebagai bentuk kepedulian kader dan simpatisan PKS yang ada di Malaysia.

"Kami terkejut mendengar ada saudara-saudara kami yang mau haji, tapi malah terlantar di sini. Kami lalu mengumpulkan bantuan dari masyarakat, terutama dari kader-kader kami yang ada di sini," ujar Ikhwan usai memberi bantuan di KLIA, Kuala Lumpur, Malaysia, Rabu (19/11).

Ikhwan mengatakan, terlantarnya para calon jamaah haji tersebut sebetulnya sangat memalukan bangsa Indonesia. Sebab mereka dibiarkan saja oleh biro penyelenggara haji di negara lain tanpa ada kejelasan keberangkatan.

"Ini sungguh memalukan. Semoga ini tidak terulang lagi di masa mendatang. Kami minta pemerintah bisa menindak tegas biro perjalanan haji yang tidak amanah," ujarnya.

Bantuan yang diberikan kepada para calhaj berupa roti, buah-buahan, dan soft drink. Kondisi kesehatan sebagian besar calhaj sangat memprihatinkan. Kebanyakan dari mereka telah terlunta-lunta selama 2-3 hari di KLIA tanpa ada makanan mencukupi dan alas tidur yang layak.

Bahkan seorang dokter dari Dharma Wanita KBRI, Dewi yang membantu pemeriksaan dan pengobatan terhadap para jamaah menyebutkan kondisi psikologi dan kesehatan sebagian besar jamaah menurun dan stres. Karena usia mereka yang sudah lanjut.

Dari 250 calhaj itu, 90 di antaranya berada di ruang kedatangan KLIA sedangkan sisanya di ruang keberangkatan. Dubes RI Dai Bachtiar sebelumnya menegaskan keseluruhan jamaah dapat diberangkatkan selambat-lambatnya 1x24 jam.


http://smsplus.blogspot.com/2008/11/pks-bantu-calhaj-terlantar.html

Komik Nabi Muhammad Bentuk Terorisme



JAKARTA-MI. Ketua MPR Hidayat Nurwahid menilai penistaan terhadap agama Islam melalui pembuatan komik yang melecehkan Nabi Muhammad SAW merupakan bentuk terorisme yang harus diusut tuntas aparat kepolisian.

"Penistaan terhadap Nabi Muhammad itu merupakan bentuk terorisme terhadap umat Islam dan karenanya polisi harus mengusut tuntas kasus tersebut hingga ke akar-akarnya," kata Hidayat menjawab pers di Gedung MPR/DPR Jakarta, Jumat (21/11).

Menurut dia, tidak ada alasan bagi penegak hukum untuk tidak menjalankan tugas-tugasnya menjaga ketertiban di masyarakat karena penistaan terhadap agama Islam itu sudah sangat jelas.

Dikatakannya pula bahwa untuk menemukan para pelaku aksi terorisme pemboman saja polisi bisa melakukannya, apalagi untuk menindak mereka-mereka yang harus bertanggungjawab atas kasus komik itu.

Kalaupun para pelakunya berada di luar negeri, aparat kepolisian Indonesia bisa meminta bantuan atau bekerjasama dengan interpol karena kasus tersebut tidak saja menyinggung masyarakat muslim di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia.

Pada bagian lain, Ketua MPR itu mengatakan bahwa bangsa ini membutuhkan keberadaan UU tentang penistaan agama mengingat hal-hal yang terkait dengan masalah tersebut sangat sensitif bagi masyarakat Indonesia.

Hidayat mengingatkan masyarakat Indonesia agar tidak terpancing dengan provokasi pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab itu, apalagi saat ini suasana politik semakin memanas menjelang dilaksanakannya pemilu 2009.

Dia juga menyatakan bahwa kebebasan berekspresi masyarakat yang dijamin oleh undang-undang itu harusnya digunakan secara bertanggungjawab dan penegakkan hukum tidak berarti memberangus kebebasan.

Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri telah menyatakan bahwa pembuatan komik yang menista Nabi Muhammad SAW di salah satu blog di internet itu merupakan upaya memecah belah umat beragama di Indonesia.

Dia menyatakan bahwa pihaknya sedang melacak pelakunya dan siap menindak tegas sesuai hukum yang berlaku.

Kapolri juga mengingatkan masyarakat Indonesia agar tidak terpancing dengan provokasi tersebut. (Ant/OL-02)

Masyarakat sudah Cerdas Nilai Iklan Politik



JAKARTA--MI. Ketua MPR Hidayat Nurwahid menilai masyarakat Indonesia saat ini sudah semakin cerdas dalam menilai berbagai iklan politik yang mulai ramai menghias layar kaca televisi dan substansi iklan-iklan tersebut nantinya akan ditagih masyarakat.

"Masyarakat akan menilai apakah prilaku mereka yang beriklan itu benar-benar sesuai dengan apa yang diiklankan di media massa tersebut," katanya kepada pers di Gedung MPR/DPR Jakarta, Jumat (21/11).

Apabila ternyata yang diiklankan tersebut tidak sesuai dengan fakta-fakta di lapangan, menurut Hidayat, hal tersebut justru akan menjadi bumerang. "Percayalah masyarakat tidak akan memilih orang-orang itu jika faktanya tidak sesuai dengan isi iklan. Itu justru merugikan mereka sendiri yang telah mengeluarkan ratusan juta rupiah untuk beriklan," katanya.

Ketua MPR yang kini kembali mencalonkan diri sebagai caleg PKS dari Dapil Jateng V itu mengakui bahwa iklan merupakan sarana yang cukup efektif dalam meraih dukungan masyarakat. Namun dia juga menyatakan saat ini belum merasa perlu untuk beriklan dan masih banyak strategi lainnya yang bisa dilakukan.

Di tempat terpisah Direktur Eksekutif Lembaga Riset Indonesia Johan Silalahi mengatakan bahwa pihaknya menyayangkan sudah gencarnya sejumlah capres, seperti Megawati dan Yudhoyono, beriklan pada saat ini dengan intensitas yang tinggi.

Menurut dia, saat ini masih terlalu dini untuk memulai sebuah pertarungan dengan memasang iklan di berbagai televisi karena kompetisi yang sesungguhnya baru dimulai setelah pemilu legislatif pada April 2009.

Ditegaskannya pula bahwa dana-dana yang sangat besar untuk beriklan itu biasanya berasal dari kantong pengusaha yang memberikan sumbangan kepada para kandidat presiden dan mereka akan meminta imbalan yang besarnya berlipat-lipat dari modal yang telah dikeluarkan saat capres yang didukungnya menang.

"Dalam kondisi seperti itu, kita tentunya prihatin karena uang yang digunakan untuk kampanye secara jor-joran itu pada dasarnya adalah uang rakyat juga," katanya.(Ant/OL-02)