jika politik adalah sesuatu yang abu-abu
yang menjadi senjata para penguasa
yang menjadi sindikat pengejar harta dunia
maka aku bukanlah itu
Namun jika politik adalah pembelaan & perjuangan
yang membangunkan keberanian retorika
dan lantang meneriakkan keadilan
maka aku adalah politikus itu

Jika demokrasi adalah belenggu penjajahan
diramaikan oleh tangan-tangan gila jabatan
disetir untuk mengubur kepribadian anak bangsa
maka itu bukan tempatnya
Namun jika demokrasi adalah sebuah peluru pembebas
yang pengusungnya adalah teladan sejati
dan ideologinya menembus keangkuhan parlemen
maka itu adalah kendaraannya..

Tampilkan postingan dengan label Iklan PKS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Iklan PKS. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Januari 2009

Semiotika Iklan Politik PKS


Saya akan coba menafsir iklan politik PKS yang menempatkan Soeharto sebagai pahlawan dan guru bangsa. Tafsir ini dalam sudut pandang kajian komunikasi dimana saya akan menggunakan semiotika (ilmu tanda) untuk membedahnya, agar punya ruh akademis. Seperti kita ketahui bersama, iklan itu mendapat kritik tajam dari berbagai kalangan. Kritikan cukup beragam, mulai dari kalangan yang mengatakan PKS terlalu berani serta terkesan oportunis (mengambil simpati keluarga dan pendukung Soeharto). Sampai paling keras, dilontarkan oleh Fazlul Rahman, calon Presiden 2009 jalur independen, yang mengatakan PKS sebagai pengkhianat reformasi. Atas reaksi kontra yang cukup heboh itulah, saya tergoda untuk menafsirkannya.

Kalau kita cermati, setelah iklan muncul dan mendapat beragam kritikan, beberapa petinggi PKS begitu sibuk dan tergopoh-gopoh menjelaskan maksud sebenarnya dari iklan tersebut. Mulai dari Anis Matta dan Fahri Hamzah yang mengatakan bahwa maksud iklan adalah pesan rekonsiliasi, pesan mengakhiri dendam masa lalu. Lantas, tak tanggung-tanggung, Tifatul Sembiring, Presiden PKS juga angkat bicara lewat opini di Republika (06/12/08), walau agak berbeda, dengan mengatakan adanya kesalahan teknis dalam tayangan iklan tersebut. Dengan penjelasan itu, malah tambah membuat publik bingung dan meraba-raba sendiri. Disatu sisi, beberapa petinggi PKS menjelaskan maksudnya bahwa iklan tersebut mengandung pesan rekonsiliasi, sementara orang nomor satunya (Presiden PKS) mengatakan ada kesalahan teknis. Sebenarnya, bagaimana fenomena ini dibaca?.

Mengikuti konsep ahli semiotika bernama Roland Barthes dalam “The Death of Authornya”, jelas iklan telah gagal. Dalam konsep tersebut, kita bisa memahami bahwa ketika teks (iklan) telah terlahir dan tertayangkan maka “pengarang telah mati”. Dalam arti tidak ada kuasa iklan (orang dibalik iklan). Kuasa berada di publik. Masyarakat bebas menafsirkan sendiri maksud dari iklan yang muncul. Beragam penjelasan dari para petinggi PKS pada dasarnya justru memperlihatkan kegagalan nyata dari iklan. Ini kalau kita melihat dari sudut pandang kajian iklan secara akademis. Inti kegagalannya, bukan iklan yang berbicara, tapi malah orang dibalik iklan yang berbicara.

Selanjutnya, kita perlu memahami modus produksi makna iklan itu. Saya akan meminjam konsep dari John Fiske dalam “Television Culture”. Produksi makna terjadi melalui berbagai tahap. Pertama, tahap “Reality”, sebagai partai yang cukup profesional memang iklan tersebut tidak datang tiba-tiba dan spontan. Soeharto menurut PKS dinilai sebagai tokoh yang berpengaruh. Iklan tersebut juga berdasar pertimbangan survey. Seperti hasil survey LP3ES yang menyebutkan 34% responden memilih Soeharto sebagai presiden paling berpengaruh. Sementara, Soekarno 24% dan SBY hanya 12 %. Alasan cukup realistis walau mengandung resiko. Dengan bacaan ini, alasan kesalahan teknis menjadi argumen yang rapuh. Kedua, tahap “Representation” Dalam hal ini Soeharto direpresentasikan sebagai sosok pahlawan dan guru bangsa. Inilah “judi” besar PKS dalam urusan politik, terobosan yang cukup paling berani. Harapannya, tentu untuk meraih simpati pada keluarga dan pendukung Soeharto. Hasilnya, bisa jadi memuaskan namun bisa pula pasca penayangan iklan tersebut banyak kader dan simpatisan yang tidak memilik PKS lagi pada pemilu selanjutnya, kecuali kader-kader yang loyal saja. Namun, prediksi ini memang spekulatif. Kenyataan yang akan berbicara pada pemilu nanti. Ketiga, tahap ideologi. Ideologi (nilai) yang ingin disampaikan adalah rekonsiliasi. Sebuah pesan untuk mengakhiri dendam masa lalu. Terlihat mulia memang. Tapi, kenapa mesti Soeharto? Ini yang masih menjadi pertanyaan besar. Lagi pula, sebenarnya ideologi ini justru disampaikan diluar iklan tersebut. Publik tidak menangkap pesan ini dalam iklan. Yang publik tahu PKS menempatkan Soeharto sebagai pahlawan dan guru bangsa. Lantas publik (selain pendukung setia Soeharto dan kroni-kroninya) mengecam keras. Tahap ideologisasipun gagal.

Kemudian, mari kita baca iklan tersebut dengan semiotika teks. Semiotika teks sendiri menurut Yasraf Amir Piliang adalah cabang dari semiotika, yang secara khusus mengkaji teks dalam berbagai bentuk dan tingkatannya. Disebut sebagai semiotika teks karena unit analisis terkecilnya adalah teks itu sendiri, sementara unit analisis terkecil semiotika umum adalah tanda. Dalam pengertian yang luas, teks didefinisikan sebagai pesan-pesan baik yang menggunakan tanda verbal maupun visual.

Dalam kasus iklan politik PKS ini, kita akan mengalisis teks visual (visual text). Teks visual sendiri adalah teks yang melibatkan di dalamnya unsur-unsur visual seperti gambar, ilustrasi, foto, lukisan atau citraan komputer. Diantara yang termasuk ke dalam teks visual ini antara lain, advertising teks, teks fashion, teks televisi, teks seni (patung, lukisan, tari, teater, teks obyek (komoditas) serta teks arsitekstur.

Kalau menyaksikan iklan PKS, sebenarnya tak begitu rumit karena unsur-unsur yang digunakan nampak sederhana. Walaupun begitu, iklan sesederhana apapun tetap bermain dalam pengelolaan tanda. Bermain tanda dengan ramuan yang apik sehingga menghasilkan pesan (citra) tertentu. Dalam pandangan ahli semiotika, khususnya semiotika periklanan, ada dimensi-dimensi khusus pada sebuah iklan. Dimensi tersebut saling terkait dan mendukung untuk memperoleh sebuah citraan tertentu. Iklan, biasanya berisikan unsur-unsur tanda berupa objek (object) yang diiklankan, konteks (context) berupa lingkungan, orang atau makluk lainnya yang memberikan makna pada objek, serta teks (berupa tulisan) yang memperkuat makna (anchoring).

Disini kita bisa melihat objek (object) yang diiklankan berupa iklan politik PKS. Dalam buku karya Budiman Hakim berjudul “Yuk Ngobrolin Iklan” pada hakikatnya sebuah iklan itu jualan, baik iklan komersial, tokoh, maupun layanan masyarakat. Dalam hal ini tentu PKS juga melakukannya, bukan sebuah iklan cuma-cuma, tapi iklan meraup suara (dan bisa jadi dana dari cendana). Dalam kajian iklan murni hal ini tak jadi soal, iklan adalah jualan. Yang menjadi masalah adalah penempatan sosok Soeharto. Saya kira kurang tepat, justru berpotensi menjadi bumerang. Alih-alih mendapatkan dukungan, justru bisa jadi sebaliknya.

Konteksnya (context) disesuaikan dengan semangat sumpah pemuda (kebangkitan nasional) yang menjadikan iklan tersebut terkesan punya ruh dan tepat waktunya sebab orang-orang juga sedang membicarakan hari bersejarah tersebut, jadi tidak out of konteks. Saya kira dalam studi iklan, strategi ini sudah tepat. Kemudian teks (text) “Mereka adalah pahlawan dan guru bangsa”. Saya kira dalam level inilah sebuah kesalahan fatal dari iklan tersebut. Muatan teks ini sangat sensitif. Karena sudah terlanjur digunakan, maka resiko politik akan sendirinya terasakan.

Kesimpulan saya, iklan tersebut telah gagal dalam dua level. Baik muatan maupun strategi pengemasannya. Ditambah lagi apologi dari sang pengiklan (PKS). Lengkaplah sudah. Kalau boleh memberi saran, saya kira kedepan, partai ini harus belajar banyak lagi dalam soal strategi pencitraan. Mengoreksi tim media serta membereskan “oknum” yang bermain mata dengan keluarga cendana itu perlu demi memperbaiki citra partai kembali. Lantas bagi publik, mari kita mentertawakan iklan-iklan politik di berbagai media yang semakin tidak waras itu. Sudah saatnya kita berjuang, mengembalikan daulat. Dari kuasa media, menjadi kuasa publik,


Oleh:
Sudaryono Achmad
Kolumnis.Tinggal di Jakarta.
http://jurnalkomunikasi.com/?p=510

Senin, 24 November 2008

PKS Tak Butuh Duit Cendana



INILAH.COM, Jakarta. PKS tidak hanya diplesetin 'Partai Kagumi Soeharto' karena iklannya yang kontroversial. Karena itu, PKS juga dituding hanya mau duit dari Cendana. Namun hal tersebut dibantah tegas PKS.

"Tidak benar itu. Alhamdulillah, kami baru kenal keluarga Cendana baru kemarin dalam acara silahturahmi itu," ujar Ketua Bapilu DPP PKS, Anis Mata, kepada INILAH.COM, Jakarta, Jumat (21/11).

Anis mengatakan dana yang diperoleh PKS untuk berkampanye selama ini berasal kader-kadernya. PKS, tambahnya, sama sekali tidak pernah meminta-minta uang kepada pihak mana pun.

"Kita kolekan, makanya iklannya sebentar durasinya dan hanya tiga hari," ujarnya.

Anis juga membantah bahwa iklan itu telah membuat PKS kehilangan suara pemilih. Meskipun menuai berbagai kritik, kata Anis, justru meningkatkan jumlah suara PKS dalam Pemilu 2009 ini.

"Terbalik, di grass root sangat positif," tegasnya.[rok/ana]

Masyarakat sudah Cerdas Nilai Iklan Politik



JAKARTA--MI. Ketua MPR Hidayat Nurwahid menilai masyarakat Indonesia saat ini sudah semakin cerdas dalam menilai berbagai iklan politik yang mulai ramai menghias layar kaca televisi dan substansi iklan-iklan tersebut nantinya akan ditagih masyarakat.

"Masyarakat akan menilai apakah prilaku mereka yang beriklan itu benar-benar sesuai dengan apa yang diiklankan di media massa tersebut," katanya kepada pers di Gedung MPR/DPR Jakarta, Jumat (21/11).

Apabila ternyata yang diiklankan tersebut tidak sesuai dengan fakta-fakta di lapangan, menurut Hidayat, hal tersebut justru akan menjadi bumerang. "Percayalah masyarakat tidak akan memilih orang-orang itu jika faktanya tidak sesuai dengan isi iklan. Itu justru merugikan mereka sendiri yang telah mengeluarkan ratusan juta rupiah untuk beriklan," katanya.

Ketua MPR yang kini kembali mencalonkan diri sebagai caleg PKS dari Dapil Jateng V itu mengakui bahwa iklan merupakan sarana yang cukup efektif dalam meraih dukungan masyarakat. Namun dia juga menyatakan saat ini belum merasa perlu untuk beriklan dan masih banyak strategi lainnya yang bisa dilakukan.

Di tempat terpisah Direktur Eksekutif Lembaga Riset Indonesia Johan Silalahi mengatakan bahwa pihaknya menyayangkan sudah gencarnya sejumlah capres, seperti Megawati dan Yudhoyono, beriklan pada saat ini dengan intensitas yang tinggi.

Menurut dia, saat ini masih terlalu dini untuk memulai sebuah pertarungan dengan memasang iklan di berbagai televisi karena kompetisi yang sesungguhnya baru dimulai setelah pemilu legislatif pada April 2009.

Ditegaskannya pula bahwa dana-dana yang sangat besar untuk beriklan itu biasanya berasal dari kantong pengusaha yang memberikan sumbangan kepada para kandidat presiden dan mereka akan meminta imbalan yang besarnya berlipat-lipat dari modal yang telah dikeluarkan saat capres yang didukungnya menang.

"Dalam kondisi seperti itu, kita tentunya prihatin karena uang yang digunakan untuk kampanye secara jor-joran itu pada dasarnya adalah uang rakyat juga," katanya.(Ant/OL-02)

Kamis, 20 November 2008

Atraksi Iklan PKS



Iklan Partai Keadilan Sejahtera memang moncer. Bagaimana tidak, hanya dalam waktu dua bulan, iklan itu berhasil menuai kontroversi, sehingga menarik perhatian publik. Padahal PKS hanya menurunkan iklan pada dua momen peringatan nasional. Pertama, pada Hari Sumpah Pemuda. Saat itu PKS menayangkan gambar sejumlah tokoh religius, seperti KH Hasyim Asy'ari, dan KH Ahmad Dahlan. Kedua, saat Pari Pahlawan, ketika PKS menampilan mantan pemimpin bangsa, seperti Soekarno dan Suharto.

Hanya dengan dua momen itu dan dengan waktu tayang yang tak terlalu lama, sekitar tiga atau empat hari, PKS kini menuai apa yang disebut "berkah iklan". Partai itu kembali dibicarakan publik, meski dalam kerangka pro dan kontra. Dari sisi dampak, iklan ini sukses. Bukankah bahasa sederhana periklanan adalah iklan dianggap sukses kalau ia berhasil menarik minat publik?

Dampak paling baru dari iklan itu, PKS berhasil mengumpulkan para ahli waris pempimpin bangsa. Rekonsiliasi nasional, begitu acara itu disebut, memang berhasil mengumpulkan anak-anak mantan pemipin bangsa dalam satu forum, meski sebenarnya orang tua mereka jelas banyak berseberangan satu sama lain kala masih hidup dulu.

Sepotong iklan dan rekonsialisi nasional, tampaknya terlalu ambius, utopis malah! Tapi untuk konsumsi politik, isu ini memang seksi dan menarik rasa penasaran. PKS tampaknya jeli melihat ini. Selain itu, berbeda dengan iklan lainnya yang menonjolkan sang tokoh atau malah menyinggung pihak lain (nyaris jadi kampanye hitam) iklan PKS justru bermain di ranah aman, dalam arti hanya PKS sendiri yang akan dituding tanpa kemudian menjadi kampanye negatif bagi pihak lain.

Tentu saja iklan ini tak lepas dari kritik. Apa yang didemonstrasikan PKS hanyalah salah satu bentuk pragmatisme politik, di mana partai dakwah itu hendak meluaskan rangkulannya. Dengan iklan tersebut, PKS tidak lagi terhenti di massa islam, tapi juga massa nasionalis dan abangan. Secara ideologi, begitu kata sebagian orang, PKS berusaha bergeser ke tengah! Selain itu, PKS juga dituding opportunistis, yakni hanya mengambil kesempatan dengan cara-cara tidak etis, memasukkan secara sepihak tokoh-tokoh yang selama ini di kenal sebagai ikon atau milik organisasi tertentu, demi kepentingan jangka pendek pemilu 2009 nanti.

Terlepas dari perdebatan pro kontra soal iklan PKS, satu hal yang dapat ditarik adalah, iklan politik kini seolah memainkan posisi sentral dalam jagat politik kita. Berbagai penelitian membuktikan, kepopuleran seorang tokoh atau partai sangat ditentukan oleh berapa kali iklan mereka dicetak atau ditayangkan televisi. Jujur saja, dalam kondisi ini juga timbul kekhawatiran, jangan-jangan politik kita ke depan akan terjebak pada popularitas di iklan. Para politisi hanya sibuk membuat iklan yang hebat dan menawan, namun lupa bagaimana melayani rakyat dalam kehidupan nyata mereka.


Zaenal Bhakti
Kepala Program Khusus Liputan 6

"The Last of the Mohicans" di Balik Iklan PKS


VIVAnews. Demi tujuan rekonsiliasi antargenerasi, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengusung tokoh-tokoh nasional yang dianggap sebagai guru bangsa dalam seri pertama iklan politiknya. Ada pendiri Nahdhatul Ulama KH Hasyim Asyari, pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan, Bung Tomo, Jenderal Sudirman, Soekarno dan terakhir, yang paling kontroversial, Soeharto. Berbagai pihak memprotes iklan itu. Kalangan Nahdhatul Ulama keberatan PKS yang identik dengan Islam modernis menggunakan ikon Islam tradisional itu. Para korban kekerasan Orde Baru mencela munculnya Soeharto dalam iklan berdurasi 15 detik itu. Iklan yang sangat kontroversial. Walau hanya diputar 3 hari bertepatan dengan hari pahlawan – tanggal 9, 10, dan 11 November, namun gaung dan kehebohannya menandingi iklan “Menagih Janji SBY”-nya Wiranto beberapa bulan silam.

Pilihan PKS memasukkan tokoh-tokoh itu dalam iklan politiknya disebabkan oleh beberapa faktor. Dari segi idealisme, PKS bertekad membangun jembatan antargenerasi – Orde Lama, Orde Baru dan Era Reformasi – demi tercapainya rekonsiliasi nasional di mana tiap generasi bisa menghilangkan dendam atas generasi pendahulunya. Terlepas dari berbagai kesalahan dan kelemahan para pendahulu tersebut, PKS beranggapan bahwa mereka sudah berbuat apa yang mereka bisa, sehingga PKS tidak ingin menjadi pihak yang mengadili sejarah. “Jangan sampai kita memutuskan hubungan antargenerasi karena dendam masa lalu. Hal itu tidak membawa kemajuan bagi bangsa,” imbau Presiden PKS, Tifatul Sembiring, dalam acara “Silaturahmi dan Dialog antar-Keluarga Pahlawan Nasional” yang berlangsung di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta, Rabu, 19 November 2008, kemarin.

The Last of the Mohicans

Rekonsiliasi yang digaungkan PKS rupanya terkait erat dengan misi politik jangka panjang PKS pada Pemilu 2014. Pada tahun 2014 nanti, PKS memasang target untuk merebut kepemimpinan nasional. 2014 adalah era kepemimpinan generasi baru. “PKS ingin memenangkan Pemilu 2014 melalui Pemilu 2009 ini,” ungkap Tifatul. Dengan demikian, strategi PKS bukanlah strategi jangka pendek untuk Pemilu 2009, melainkan strategi jangka panjang yang berkesinambungan untuk Pemilu 2014. Dan ketika saat itu tiba nanti, PKS sebagai partai yang mayoritas terdiri dari generasi muda menginginkan tidak lagi dibebani dendam masa lalu. “Kita tidak mau lagi terikat dengan image atau stigma dendam antargenerasi seperti generasi-generasi sebelumnya!” tegas Tifatul.

Tifatul mengibaratkan Indonesia di tahun 2009 sebagai pertarungan "The Last of the Mohicans". The Last Mohicans ialah sebuah novel sejarah Amerika karangan James Fenimore Cooper yang menceritakan suku Indian yang terakhir punah di AS. Novel yang kemudian difilmkan ini menceritakan tentang ksatria terakhir dari suku Mohicans yang bertarung membela sukunya. “Tahun 2009 adalah the Last of the Mohicans atau the last chance bagi sebagian politisi,” tutur Tifatul. Pemilu 2009 merupakan kesempatan terakhir bagi tokoh-tokoh generasi lama seperti Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono, Wiranto, Sutiyoso, bahkan mungkin Sri Sultan untuk berkiprah dalam perpolitikan nasional. Karena itulah mereka akan bertempur habis-habisan pada Pemilu 2009. “Begitu masuk Pemilu 2014, mereka semua ini sudah selesai,” ujar Tifatul. Tokoh-tokoh tersebut tidak mungkin memaksakan diri untuk bertahan lebih lama lagi di arena perpolitikan nasional, karena pada saat itu mereka sudah akan berumur 80-an. “Jangankan berpolitik, untuk jalan saja mungkin sudah susah,” tutur Tifatul.

Dengan demikian, Pemilu 2014 nanti tidak akan ada lagi politisi yang memiliki pengalaman politik tahun 1945-an, dan ini adalah momen bagus bagi PKS untuk mematok target kepemimpinan nasional. Oleh sebab itu, PKS mengusung wacana rekonsiliasi sejak sekarang. “Ini sebagai niat baik untuk pendatang baru lainnya. Kami ingin membangun Indonesia yang lebih baik bagi kepemimpinan generasi muda mendatang,” ujar Tifatul.

Menjangkau pemilih yang lebih luas ini mensyaratkan PKS harus keluar dari 'kepompong'-nya. Dari ceruk pemilih partai Islam yang diperkirakan hanya 30 persen, PKS bermanuver untuk merenggut suara pemilih partai nasionalis sekuler yang mayoritas. Itulah fungsi iklan politiknya yang diributkan banyak pihak itu. Menurut Tifatul, strategi melebarkan sayap mutlak diperlukan untuk mendulang suara pemilih baru. “Tentu arah melebarkan sayapnya ke tengah,” tutur Tifatul. Tak bisa dipungkiri, pangsa pasar terbesar memang ada di kalangan nasionalis yang berada di garis tengah. Selain itu, lanjut Tifatul, bila PKS hanya berkutat di segmen pemilih Islam tradisionalis, maka perebutan suaranya juga lumayan ketat bersama-sama dengan PPP, PKB, dan PBB.

Meski membidik segmen pemilih baru, namun PKS yakin tidak akan ditinggalkan oleh pemilih lamanya. Tifatul menerangkan, semua riset menunjukkan bahwa 80 persen pemilih PKS terdiri dari pemilih yang loyal, konsisten, dan rasional. Dengan demikian ia tidak terlalu khawatir PKS akan gembos hanya karena menambah pangsa pasar.

Dana Terbatas

Namun pilihan beriklan lewat 'udara' membutuhkan biaya besar. PKS yang menggandeng Fastcom sebagai konsultan komunikasinya mengakui ketiadaan modal besar membuat mereka harus ekstra kreatif dalam beriklan. Karena keterbatasan dana itu pula, PKS hanya menayangkan iklan bertema kepahlawanannya selama 3 hari. “Punya 1 miliar rupiah saja sudah bagus,” ujar Tifatul sambil terkekeh.

Tidak kapok dengan kontroversi berkepanjangan yang menghantam iklan pertamanya, PKS berencana untuk merilis iklan lagi – kali ini dengan tema baru dan jenis yang berbeda. Iklan ini direncanakan untuk ditayangkan bertepatan dengan Hari Ibu tanggal 22 Desember. Hingga saat ini, PKS belum mau memberi bocoran tentang materi iklan baru tersebut. “Kalau dikasih tahu, yang nggak surprise. Padahal salah satu unsur iklan kan harus mengandung unsur kejutan,” sahut Tifatul tergelak-gelak. Jadi, mari kita tunggu iklan PKS berikutnya.


Sumber: vivanews

Rabu, 19 November 2008

PKS Terus Promosikan Soeharto


JAKARTA. Setelah menyandingkan mantan presiden Soeharto bersama tujuh pahlawan nasional dalam sebuah iklan, Partai Keadilan Sejahtera kemarin menunjukkan keseriusannya mempromosikan pemimpin Orde Baru itu.

PKS mengundang putri kedua Soeharto, Siti Hediati Harijadi, menghadiri acara "Silaturahmi dan dialog Antar-Keluarga Nasional" di Jakarta Convention Center. Siti Hediati, yang biasa dipanggil Titiek Soeharto, diundang bersama ahli waris tokoh nasional lainnya yang jadi bintang iklan PKS.

Meski tak diundang sebagai pembicara, Titiek menyambut baik upaya PKS mempertemukan keluarga tokoh nasional. Dia pun menghargai iklan PKS yang memberikan gelar guru bangsa kepada Soeharto. "Kenapa selalu melihat kesalahan orang? Kita harus mikir ke depan," kata Titiek.

Selain Titiek, hadir dalam acara itu Sholahudin Wahid (cucu KH Hasyim Asy'ari), Bambang Sulastomo (putra Bung Tomo), Agustanzil Sahruzah (putra KH Agus Salim), Halida Hatta (putri Bung Hatta), Amelia Ahmad Yani (putri Jenderal Ahmad Yani), serta Anis Baswedan (putra H.R. Baswedan).

Presiden Partai Keadilan Sejahtera Tifatul Sembiring membantah anggapan bahwa langkah partainya itu merupakan bukti kedekatan dengan Keluarga Cendana. "PKS bukan kroni keluarga tertentu," kata Tifatul saat membuka acara.

Tifatul pun membantah tudingan bahwa PKS pernah mengangkat Soeharto sebagai pahlawan. Menurut dia, pemberian gelar pahlawan itu wewenang negara. "Kami hanya ingin menonjolkan apa yang sudah Soeharto lakukan," kata Tifatul.

Adapun kehadiran Soeharto dan para pahlawan dalam iklan 30 detik di lima stasiun televisi pada 9-11 November lalu itu, menurut Tifatul, untuk mendorong rekonsiliasi. "Agar tak ada dendam antargenerasi."

Pengamat politik dari Universitas Indonesia, Arbi Sanit, menilai PKS tengah berupaya mendulang tambahan suara pada Pemilihan Umum 2009. Dalam beberapa kali diskusi, kata Arbi, ada tokoh PKS yang mengatakan upaya itu, "Bisa mendongkrak suara hingga dua kali lipat."

Hasil survei Lembaga Survei Indonesia menunjukkan kecenderungan suara PKS pada Pemilu 2009 bakal turun jadi 4,9 persen dari 7,3 persen pada 2002. Suara PKS diprediksi jauh di bawah Partai Demokrat (16,8 persen), Golkar (15,9 persen), dan PDI Perjuangan (14,2 persen).

Menurut Arbi, upaya PKS memanfaatkan nama besar Soeharto tak akan efektif mendongkrak suara. Alasannya, pengikut Soeharto masih mencatat siapa saja yang ikut menjatuhkan rezim Orde Baru. "Ya, termasuk anak-anak masjid (aktivis PKS) itu. Mereka tak bakal lupa," kata Arbi.

Ketua Harian Badan Pemenangan Pemilu Partai Golkar Firman Soebagyo mengatakan tak gentar dengan langkah PKS. Upaya PKS mempromosikan Soeharto, kata dia, tak bakal otomatis menggerus suara pemilih potensial Golkar. "Masyarakat sekarang cenderung pragmatis."| Dwi Ryanto Agustiar | Fery Firmansyah


Sumber: Koran Tempo

Anis Matta : Rekonsiliasi Berhasil


Sekretaris Jenderal Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Anis Matta, mengatakan partainya berhasil mempertemukan putra-putri pemimpin Indonesia. “Saya kira rekonsiliasi bisa ditangkap semua keluarga pahlawan,” katanya di Jakarta Convention Center, Rabu, 19 November 2008.

Acara yang digagas PKS ini bertema rekonsiliasi. Acara itu dihadiri anggota keluarga mantan Presiden Soeharto, Titiek Hediyati Hariyadi. Anak-anak tokoh pemikir Indonesia lain yang hadir adalah putri Bung Hatta, Halida Hatta, Solahudin Wahid cucu Hasyim Asyari, Bambang Sulistomo dari keluarga Bung Tomo, Agustansil Sahruzah cucu Agus Salim, Amelia A. Yani putri Jenderal A Yani, Anies Baswedan cucu AR Baswedan. Rahmawati Soekarnoputri batal hadir karena jatuh sakit.

Kepada wartawan, Halida Hatta mengaku kurang setuju dengan istilah rekonsiliasi itu. Acara ini, katanya lebih cocok untuk pembelajaran. Tapi, pada prinspnya, Halida menyambut positif acara PKS ini.

Usai acara dialog itu, PKS menggelar acara lagi di Bandung, Kamis, 20 November 2008. Di Bandung mereka akan deklarasi kebangkitan pemuda Indonesia. Selain deklarasi, PKS akan memberi penghargaan kepada delapan pemuda beprestasi. Acara ini, katanya, merupakan rangkaian peringatan Sumpah Pemuda dan Hari Pahlawan.


Sumber: vivanews

Amelia Yani: Kami Tidak Mewarisi Konflik!


JAKARTA, Rabu. Putri pahlawan revolusi Jenderal Ahmad Yani, Amelia Yani, mengenang ayahnya yang mati ditembak saat peristiwa 30 September 1965. Dalam dialog antarkeluarga pahlawan, Selasa (19/11), di Jakarta, Amelia bercerita tentang warisan yang diterimanya dari sang ayah.

Warisan itu berupa nilai-nilai kekeluargaan dan prinsip teguh berjuang untuk bangsa. Ia mengatakan, sebagai anak dari korban revolusi, dirinya tak mewarisi konflik.

Amelia menuturkan, satu pertanyaan yang selalu diutarakan ibu dan selalu timbul dalam benaknya, mengapa Jenderal Ahmad Yani dibunuh? "Saat saya ke Pulau Buru, mereka yang di sana bertanya, mengapa saya ditahan? Saya katakan, pertanyaan itu juga merupakan pertanyaan yang diajukan ibu saya, 'Kenapa Bapakmu dibunuh, apa salah dia?'. Saya katakan di sini, sekarang banyak orang yang mencari popularitas. Kami, anak-anak korban, sudah berdamai. Kami tidak mewarisi konflik dan tidak membawa konflik," kata Amelia.

Ia berharap generasi muda saat ini bisa mewarisi nilai-nilai baik dari seorang pahlawan. Ahmad Yani, katanya, selalu bangga menjadi prajurit yang mati untuk negara. "Mati untuk negara adalah mati yang paling terhormat," tuturnya.

Dalam kesempatan yang sama, putra Bung Tomo, Bambang Sulistomo, mengatakan bahwa perbedaan garis politik yang dijalani orangtua, seharusnya tak diwarisi oleh anak-anaknya.

Ia mengatakan, Bung Tomo pernah ditahan pada masa pemerintahan Soekarno dan lebih lama menjalani penahanan pada masa Soeharto. Namun, sebagai anaknya, ia tetap berhubungan baik dengan putra-putri para pemimpin bangsa itu.

"Makanya, tadi saya katakan kepada Mbak Titiek (Titiek Soeharto), urusan orangtua-orangtua, anak sama anak tetap berteman. Bapak saya memang konsisten, kalau tidak sesuai dengan perjuangan 45 langsung dikritik. Mungkin sikap itu yang menimbulkan sikap tidak suka dari mereka yang dikritik," kata Bambang.


Sumber: Kompas Cyber Media

Tifatul: PKS Tidak Mau Mengadili Sejarah


JAKARTA. Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Tifatul Sembiring mengatakan, partainya tidak ingin memperpanjang masalah soal kontroversi iklah yang menampilkan sejumlah pahlawan nasional.

"PKS tidak ingin mengadili sejarah tetapi ingin belajar dari sejarah. Yang baik jadi teladan, dan yang buruk ditinggalkan," ujar Tifatul dalam sambutan acara silaturahmi dengan keluarga pahlawan nasional di Jakarta Convention Centre (JCC), Rabu (19/11/2008).

Selain itu, kata dia, PKS juga enggan memperkeruh suasana politik nasional dengan melakukan lempar batu sembunyi tangan, black campaign, provokasi, dan sebagainya.

"Permasalahan ini (iklan PKS) bukan bukan untuk mengungkit Orde Baru atau Orde Lama, tetapi ingin mendapatkan kehidupan yang lebih baik," tandasnya.

Dia juga menegaskan, PKS bukanlah kroni dari sebuah golongan. Karenanya, dia meminta agar semua pihak tidak lagi memperdebatkan sesuatu yang tidak bermanfaat. "Kalau terus seperti itu, sampai kapan pun kita tidak akan maju," pungkasnya. (teb)


Sumber: Okezone.Com

PKS Learns to Rock


detik.com (20/11/08). Menyandang predikat partai dakwah ternyata tidak selalu membuat PKS kaku dalam menentukan pilihan-pilihannya. Termasuk dalam pilihan selera musik.

Acara Silaturahim dan Dialog Antar Keluarga Pahlawan Nasional yang diadakan PKS di Jakarta, Rabu (19/11/2008) tidak menyuguhkan qasidah, pop Islami, nasyid, atau sejenisnya.

Partai Islam ini justru memilih rock. Musik yang sering diidentikkan dengan kebebasan dan perlawanan. Band pop rock asal Bandung, Cokelat, pun menjadi pilihan PKS sebagai pengisi acara.

Tidak tanggung-tanggung, lagu Indonesia Raya yang biasanya dinyanyikan dengan syahdu dalam setiap pembukaan acara nasional, seakan-akan terlalu konservatif untuk dibawakan secara hening. Tanpa mengurangi makna lagu kebangsaan itu, Cokelat membawakannya dengan beat ngerock, dan para hadirin pun seolah-olah mendapat warna baru dari lagu ciptaan WR Supratman itu.

Bahkan Cokelat berulang kali naik panggung membawakan lagu-lagu bernafaskan nasionalisme dan perjuangan, yang tentu saja tetap ngerock, sebagai selingan ketika berlangsungnya dialog.

"Selama saya membawakan acara, baru pertama kali acara diselingi musik seperti ini," ucap host acara sore itu, Rahma Sarita, sambil tertawa kecil.

Pelebaran Sayap

Presiden PKS Tifatul selalu mengatakan partainya akan terus bergerak ke tengah (nasionalis) meninggalkan citra partai Islam ekslusif (kanan) yang selama ini selalu disangkakan kepada PKS.

"Karena pangsa pasar (pemilih) terbesar itu nasionalis," cetus Tifatul di sela-sela acara.

Tifatul pun mengaku tidak takut partai yang dipimpinya itu akan ditinggalkan pemilihnya karena pergeseran ideologi ke tengah ini.

"Menurut riset pemilih PKS 80 persennya adalah pemilih loyal," ujar pria yang biasa dipanggil Ustad ini.

Iklan hari pahlawan (meski kontroversial) dan mungkin juga musik rock pada sore itu mempertegas partai dakwah ini akan meninggalkan citra eksklusifnya dan mendobrak tradisi lama yang kolot.

Lihat saja sikap Ketua FPKS Mahfudz Siddiq yang seperti menahan tubuhnya untuk bergoyang mendengar hentakan Indonesia Pusaka oleh Cokelat, dan hanya bisa mengangguk-anggukan kepala sambil sesekali bertepuk tangan.

Mahfudz dan beberapa kader lain memang masih malu-malu untuk terlalu berekspresi pada sore itu. Atau jangan-jangan mereka justru masih menyimpan energi agar ekspresi itu diluapkan pada saatnya nanti.

Energi yang bisa saja benar-benar meluap dan siap ngerock di waktu yang tepat di 2009. Yang jelas sore itu PKS sedang belajar ngerock.
------------
sumber: detik.com

Putra Bung Tomo Dukung Iklan PKS


INILAH.COM, Jakarta. Bambang Sulastomo, putra Bung Tomo menilai iklan kampanye PKS yang menampilkann ayahnya sebagai pahlawan nasional bukanlah suatu upaya politisasi terhadap keluarganya. Sebaliknya, iklan tersebut menguntungkan kehidupan bangsa dan negara.

Menurutnya, iklan kampanye PKS, memiliki niat baik. “PKS mencoba menampilkan sosok kepahlawanan nasional agar dapat diteladani generasi muda saat ini,” ujar Bambang di sela-sela acara ‘Silaturahim dan Dialog Antarkeluarga Pahlawan Nasional’, di Jakarta Convention Center, Jakarta, Rabu (19/11).

Ia juga tidak khawatir jika PKS akan mengambil momen menjelang pemilu ini dengan menampilkan sejumlah tokoh dan mengundang keluarga pahlawan nasional untuk menarik simpati massa dari kelompok tertentu.

“Itu hak parpol untuk mengambil momen politik. Kalau ini menguntungkan kehidupan bernegara, kenapa kita tidak mendukung?” ujarnya.

PKS Amputasi Dendam Sejarah


Jakarta, myRMnews. Silaturahmi antar keluarga pahlawan nasional yang digelar Partai Keadilan Sejahtera (PKS) adalah langkah untuk men-cut off dendam sejarah politik.

Hal itu dikatakan Presiden PKS Tifatul Sembiring kepada wartawan saat acara silaturahmi keluarga pahlawan nasional di Gedung JHCC, Senayan, Jakarta.

“Ini semangat rekonsiliasi. Jangan sampai ada dendam politik, karena elit politik punya massa masing-masing,” ujar dia.

Tifatul juga mengingatkan, bahwa pemilu 2009 mendatang adalah kesempatan terakhir bagi bangsa ini untuk membentuk sistem politik yang lebih bagus.

“Tahun 2009 mendatangakan akan banyak muncul new comer. Acara ini langkah awal PKS agar terjadi islah antar generasi hingga merubah sejarah kedepan,” tambah Tifatul.

Sementara itu, ketika ditanya soal undangan yang diberikan kepada anak sejumlah tokoh pahlawan nasional yang belum berkenderaan parpol, Tifatul mengatakan, undangan ini hanya mempertemukan saja.

“Tidak ada tujuan ke sana (mengundang masuk ke PKS). Mempertemukan mereka saja, itu sudah bagus.

Iklan Baru PKS: The Next Indonesia!


Jakarta, myRMnews. Tak peduli dengan kontroversi iklan politik seri Hari Pahlawan lalu, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) akan meluncurkan iklan terbarunya.

Jika di edisi lalu memunculkan wajah Soeharto sebagai “guru bangsa”, iklan politik PKS yang akan diluncurkan berikutnya tersebut dijanjikan akan lebih “sempurna”.

Masih dalam rangka peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional, PKS merancang seri iklan berikutnya dengan tema “The Next Indonesia”.

"Kami sudah mendisain seri iklan-iklan politik PKS lainnya sampai Pemilu 2009. Serial iklan itulah nantinya akan menjadi tema-tema kampanye PKS,” papar Sekjen PKS Anis Matta, di JCC Senayan, Rabu sore (19/11).

Yang disebutkan dia hanyalah tema yang akan diangkat dalam iklan politik PKS selanjutnya.

"Pokoknya tentang The Next Indonesia. Tunggu saja," katanya enteng.

Selasa, 18 November 2008

PKS Ajak Keluarga Soeharto Dialog Pahlawan


VIVAnews. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) hari ini, Rabu, 19 November 2008 mengadakan pertemuan dengan ahli waris keluarga Soeharto. Pertemuan dilakukan di Jakarta Convenstion Center (JCC) Senayan, Jakarta.

Adapun acara itu bertajuk Silaturahim dan Dialog Antar Keluarga Pahlawan Nasional. Kegiatan ini seiring dengan momentum 100 tahun Kebangkitan Nasional dan 80 Tahun Sumpah Pemuda serta Hari Pahlawan.

Ketua Fraksi PKS DPR RI Mahfudz Siddiq, yang juga bertindak ketua pelaksana acara. Menurut rencana akan hadir juga Mamiek Soeharto, Halida Hatta (putri Bung Hatta), K Hilmi Aminudin (Ketua Majelis Syura PKS) dan Anis Baswedan,

Serta beberapa putra mantan tokoh nasional perang kemerdekaan yakni, Bambang Sulistomo (putra Bung Tomo), KH Sholahuddin Wahid (cucu KH Hasyim Asy'ari), Agustanzil Sjahoezah (cucu KH Agus Salim), Cahyo (putra Jenderal Gatot Subroto), Rahmawati (putri Bung Karno)
Menurut agenda, acara dibuka Presiden PKS Tifatul Sembiring.

Acara berlangsung selama empat jam, dimulai pukul 12.30 hingga 16.30 WIB, dan akan dimeriahkan dengan penampilan grup band Cokelat dan Penyair Taufik Ismail yang akan membacakan puisi.

Gus Sholah Anggap Positif Undangan PKS


INILAH.COM, Jakarta. Meski PKS tanpa ijin menggunakan tokoh Nahdlatul Ulama KH Hasyim Asy'ari dalam iklannya, cucu pendiri NU, Sholahudin Wahid tetap menyatakan kesediaannya untuk memenuhi undangan PKS.

"Iya, apabila tidak ada halangan," kata Gus Sholah, pria ini akrab di sapa saat dihubungi INILAH.COM, Jakarta, Rabu (19/11) pagi.

Menurut pendamping capres Wiranto dalam pilpres 2004 ini, acara silaturahim dan dialog antar keluarga tokoh bangsa ini sangat positif, untuk menyambung tali persaudaraan. Selain itu, untuk merekatkan para generasi penerus para pahlawan. "Engga papa, ini positif engga ada yang salah, jadi wajar saja," tegasnya.

Gus Sholah juga menegaskan, pemasangan KH Hasyim Asy'ari dalam iklan PKS tidak melangar hukum dan etika dan sah-sah saja dilakukan. "Siapa saja boleh memanfaatkan, partai lain juga boleh nah sekarang PKS yang memanfaatkan," tegas adik kandung mantan Presiden Abdurrahman Wahid ini.

Berdasaran undangan yang diterima INILAH.COM dari Ketua FPKS Mahfudz Shiddiq, acara silaturahim PKS dengan keluarga tokoh pahlawan nasional ini akan dihadiri KH Hasyim Asy'ari, keluarga Bung Tomo yang diwakili oleh Bambang Sulistomo.

Sedangkan dari keluarga Agus Salim diwakili Agustanzil Sjahroezah, keluarga Jendral Gatot Subroto dengan Cahyo, keluarga Soekarno yakni Rachmawati, keluarga Mohammad Hatta yakni Halida Hatta, dan keluarga Soeharto yakni Mamiek Soeharto.

Silaturahim dan Dialog Antar Keluarga Pahlawan Nasional


Jakarta. PKS mewujudkan niatnya untuk melakukan 'rekonsiliasi' ahli waris pahlawan. Mamiek Soeharto juga diundang sebagai representasi keluarga Cendana.

Acara 'rekonsiliasi' itu bertajuk Silaturahim dan Dialog Antar Keluarga Pahlawan Nasional. Acara ini seiring dengan momentum 100 tahun Kebangkitan Nasional dan 80 Tahun Sumpah Pemuda serta Hari Pahlawan. Tema acara yang digelar Rabu (19/11/2008) pukul 12.30 WIB hingga 16.30 WIB di JCC Senayan adalah Membangkitkan Kembali Spirit Kepahlawanan pada Kaum Muda.

Ketua panitia acara ini adalah Mahfudz Siddiq, yang juga Ketua FPKS DPR RI. Dalam pesan singkatnya, Mahfudz menjelaskan, acara ini dihadiri oleh Bambang Sulistomo (putra Bung Tomo), KH Sholahuddin Wahid (cucu KH Hasyim Asy'ari), Agustanzil Sjahoezah (cucu KH Agus Salim), Cahyo (putra Jenderal Gatot Subroto), Rahmawati (putri Bung Karno) , Halida Hatta (putri Bung Hatta), Mamiek Soeharto, Anis Baswedan, K Hilmi Aminudin (Ketua Majelis Syura PKS).

Acara ini dibuka oleh Presiden PKS Tifatul Sembiring. Sebagai selingan adalah grup band Cokelat yang akan menyanyikan lagu-lagu perjuangan. Penyair Taufik Ismail juga akan membacakan puisinya.

'Rekonsiliasi' ini digelar menyusul kontroversi iklan Hari Pahlawan PKS yang menempatkan Soeharto sebagai 'pahlawan dan guru bangsa'.

'Kesadaran Sejarah PKS Luar Biasa!'


INILAH.COM, Jakarta. Di tengah kecaman yang diarahkan kepada PKS terkait dengan iklan politiknya, masih ada pengamat dan politisi yang mengacungi jempol pada kecerdikan partai itu dalam memperluas basis dukungan. Mereka adalah Effendi Ghazali dan Sri Sultan Hamengku Buwono X.

PKS dianggap memiliki kesadaran politik yang luar biasa dengan menampilkan tokoh-tokoh bangsa dalam iklan politiknya. Hal tersebut dilakukan PKS demi menaikkan raihan suara pemilihnya dalam Pemilu 2009 mendatang.

Pengamat komunikasi politik dari Universitas Indonesia, Effendi Ghazali, misalnya, dengan terus terang memuji kesadaran sejarah para elit PKS yang dinilainya luar biasa. “PKS yang semula sangat relegius dan terkesan ekskluisif, ternyata sadar betul harus mencoba menampilkan tokoh-tokoh yang nasionalis, jika ingin menaikkan porsi suaranya," tutur Effendi.

Iklan politik PKS, dipandang Effendi sebagai cara yang cukup efektif bagi PKS untuk mencoba mengambil alih suara dari swing voter menjelang Pemilu 2009.

Sebelumnya Sri Sultan Hamengku Buwono X juga punya pandangan positif mengenai taktik PKS. Iklan yang menampilkan sejumlah pahlawan nasional itu, menurut Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, bukan sebuah pelanggaran terhadap undang-undang.

Sultan mengaku tidak mempermasalahkan jika ada partai politik yang melakukan kampanye politik di media massa dengan memanfaatkan sosok pahlawan. "Tidak ada aturan yang melarang pemanfaatkan pahlawan nasional untuk kampanye parpol di media massa. Termasuk dalam undang-undang pemilu," tegasnya.

Seperti diketahui, PKS telah memuat dua iklan yang menampilkan sejumlah tokoh nasional. Iklan ini mendapat reaksi dari sejumlah ormas yang meras tokohnya ditampilkan PKS tanpa izin terlebih dulu.

Bahkan, di iklan menyambut hari pahlawan, partai berlambang dua bulan sabit mengapit sebatang padi ini menampilkan delapan tokoh sekaligus. Yakni, Soekarno, M Hatta, Soeharto, Bung Tomo, KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy'ari, Mohamad Natsir, dan Jenderal Sudirman.

Iklan terakhir membuat PKS kembali mendapat kecaman karena menampilkan sosok Soeharto sebagai pahlawan dan guru bangsa. PKS kemudian berencana mengundang keluarga tokoh-tokoh yang ditampilkan dalam iklannya itu.

http://pemilu.inilah.com/berita/2008/11/18/62551/kesadaran-sejarah-pks-luar-biasa/

Senin, 17 November 2008

Din, Amien, PKS Harus Dialog


Sebulan terakhir ini, media memuat dengan meriah pro kontra perihal iklan PKS yang menampilkan 8 tokoh nasional (baca; guru bangsa dan pahlawan).
Karena saya merasa sebagai kader 'Ahmad Dahlan' maka saya kepanasan untuk mengomentari polemik yang tak mendidik masyarakat tersebut, khususnya umat Islam. Pada kesempatan ini, saya sebagai kader Muhammadiyah, tidak ingin terjebak dalam perdebatan yang tak jelas arahnya itu. Saya tidak berada pada posisi pro dan kontra. Tapi ingin mendudukkan perkara keislamanan (baca juga; dakwah) yang dipahami oleh Ahmad Dahlan.
Karena, jika ditelik secara dalam kita bisa melihatnya bahwa pro-kontra ini lebih politik daripada mencari kebenaran. Di sana-sini ada muatan politik, mencari popularitas, menjatuhkan, melecehkan dan hal-hal lain yang tak sesuai dengan prinsip dakwah Ahmad Dahlan sebagai pahlawan nasional yang bukan lagi milik satu kelompok tapi milik negeri ini.
Yang paling mengecewakan bagi saya dari komentar-komentar PMB, Din Syamsuddin, Amien Rais adalah 'membesar-besarkan' masalah ini secara keterlaluan. Saya tak tahu persis seperti apa yang diinginkan.
Tapi yang jelas, kenapa tokoh nasional yang ditempelkan dengan figur Ahmad Dahlan (baca;Muhammadiyah) mengeluarkan komentar tak mendidik. Banyak komentar soal PKS yang membuat kita semua, selaku pembaca bertanya, beginikah Ahmad Dahlan?.
"Ini terus terang meremehkan, melecehkan. Saya minta kepada PKS, nggak usahlah, kita tidak perlu tempuh cara-cara seperti itu," ujar Ketua Umum Muhammadiyah Din Syamsuddin di Kantor PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta, Senin (10/11) seperti diwartakan inilah.com. Dan banyak komentar miris dari PMB, Din Syamsuddin, dan Amien Rais.
Saya sebagai kader Muhammadiyah tidak memahami maksud stateman tersebut. Maaf kalau salah, sesuai kapasitas saya sebagai orang awam politik, Din Syamsuddin terlihat ada dorongan emosi politik dari salah satu partai yang ingin mengambil suara Muhammadiyah yang ada di PKS pada pemilu 2004 lalu.
Kalau ini salah, kenapa PMB, Amien Rais, Din Syamsuddin tak berdialog langsung dengan PKS. Toh, di PKS banyak kader Muhammadiyah. Sebagai contoh, Anis Matta (sekjen PKS).
Menurut saya, sangat disayangkan jika tokoh sekaliber Din Syamsuddin dan Amien Rais yang mengomentari iklan itu secara 'emosi'. Padahal bisa dengan cara yang lebih Islami seperti yang diajarkan oleh Ahmad Dahlan.
Sebagai contoh, mengundang tokoh PKS untuk berdialog dari maksud pemuatan iklan Ahmad Dahlan. Maksud saya, kita perlu berdialog dari hati ke hati, bukan melalui media.
Karena di media, biasanya, terkadang pemberitaan itu diplintir agar terlihat menarik dan tidak menyalahi etika jurnalistik.
Sepengetahuan saya Ahmad Dahlan tak begitu, apalagi antar saudara se-Islam. Bahkan, niat baik Menegpora Adhyaksa Dault menyeru kepada pemuda Indonesia untuk berjuang menyelamatkan bangsa ini. Lagi-lagi, dikritik oleh Pemuda Muhammadiyah. Tidak realistik ‘banget, gitu loh’.
Kita jangan saling menjatuhkan sesama warga Indonesia, umat lain ‘saja dilarang’, terus kenapa kita saling menyerang sesama Islam. Dan sangat wajar, kalau ada citra yang timbul kalau statmen kader-kader Muhammadiyah selama ini 'memusuhi' PKS.
Jujur saja, secara dakwah saya melihat PKS lebih melakukan pesan atau langkah dakwah Ahmad Dahlan di masyarakat. Kita jangan terlalu bangga dengan simbol-simbol Ahmad Dahlan jika kita tak pernah menjalankan gerakan dakwah beliau.
Sebagai contoh, saya melihat, kader PKS lebih militan berdakwah hingga ke gunung di kampung saya di Pangkep, Sulsel daripada kader Muhammadiyah, yang dulu lebih militan. Bahkan banyak kader Muhammadiyah yang menyeberang ke PKS, dengan alasan PKS lebih 'Muhammadiyah" daripada Muhammadiyah itu dulu.
Begitu pula di Jakarta, tempat saya bermukim, jarang atau berani saya katakan tak pernah saya temukan kader Muhammadiyah melakukan dakwah di masjid atau di rumah-rumah seperti Muhammadiyah jaman dulu. Ini yang harus kita pikirkan. Kenapa kita seperti ini? PKS hanya partai dakwah (baca juga; politik).
Yang kita harus takutkan adalah, kekeliruan yang ada ini dimanfaatkan oleh orang luar, yang sama sekali tak pernah memperjuangkan khittah perjuangan Ahmad Dahlan. Apalagi menjelang pemilu 2009. Tentu kalau sudah menjadi blunder di tengah pemberitaan media maka menjadi momok yang menakutkan bagi gerakan dakwah Muhammadiyah maupun PKS.

HMS Habibi Mahabbah, hms.mahabbah@gmail.com
Sumber: Inilah.Com

Soal Iklan Politik, Sultan Bela PKS


INILAH.COM, Yogyakarta. Di tengah kecaman terhadap iklan politik PKS, Sri Sultan Hamengku Buwono X punya pandangan lain. Iklan yang menampilkan sejumlah pahlawan nasional itu, menurut Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, bukan sebuah pelanggaran terhadap undang-undang.
Sultan mengaku tidak mempermasalahkan jika ada partai politik yang melakukan kampanye politik di media massa dengan memanfaatkan sosok pahlawan.

"Tidak ada aturan yang melarang pemanfaatkan pahlawan nasional untuk kampanye parpol di media massa. Termasuk dalam undang-undang pemilu," tegasnya.

Seperti diketahui, PKS telah memuat dua iklan yang menampilkan sejumlah tokoh nasional. Iklan ini mendapat reaksi dari sejumlah ormas yang meras tokohnya ditampilkan PKS tanpa izin terlebih dulu.

Bahkan, di iklan menyambut hari pahlawan, partai berlambang dua bulan sabit mengapit sebatang padi ini menampilkan delapan tokoh sekaligus. Yakni, Soekarno, M Hatta, Soeharto, Bung Tomo, KH Ahmad Dah