Jakarta. Kemenangan Anas Urbaningrum (AU) menjadi ketua umum Partai Demokrat (PD), mengejutkan banyak pihak. Hal ini disebabkan karena berdasar klaim data dan iklan, seolah-olah hanya Andi Mallarangeng (AM) yang paling kuat dan berpeluang menjadi ketua umum. Yang lain seolah tidak layak dan diperkirakan kalah.
Bahkan saking percaya dirinya, dengan bangga AM dan tim menawarkan sistem aklamasi dalam penentuan Ketum PD di Kongres II PD di Bandung. Namun akhirnya, AM dan timnya baru tahu kalau kekuatan mereka hanya semu. Faktanya, AM bahkan tidak mampu lolos ke babak II pemilihan Ketum PD. Suaranya jauh di bawah Anas dan Marzuki Alie yang sepertinya kurang diunggulkan.
Tapi apalah daya, AM hanya besar di media dan poster serta spanduk. Bahkan arena kongres di Kota Baru Bumi Parahyangan, Bandung bertaburan gambar AM. Sementara lawannya, Anas lebih memilih membesarkan dirinya di hati para pengurus DPC dan DPD yang pada akhirnya membawakan dirinya menjadi ketua umum PD periode 2010-2014.


