Dunia perbukuan kembali dibuat hiruk-pikuk. Jika beberapa waktu yang
lalu diramaikan kasus lembar kerja siswa (LKS) dengan muatan yang tak
layak untuk anak-anak, sekarang diramaikan dengan aneka buku ”porno”
yang didistribusikan ke perpustakaan SD. Tujuh buku dituding sebagai
buku sarat muatan seksual yang tak cocok untuk siswa SD. Tujuh buku
”porno” itu ternyata diterbitkan PT Era Adicitra Intermedia Solo.
Dari tujuh buku tersebut, empat di antaranya ditulis oleh anggota Forum Lingkar Pena, yakni Tidak Hilang Sebuah Nama (Galang Lutifyanto), Ada Duka di Wibeng (Jazimah Al Muhyi), Syahid Samurai (Afifah Afra, nama pena saya sendiri) dan Festival Syahadah (Izzatul Jannah). FLP adalah organisasi pengaderan penulis dengan karya-karya mencerahkan.
Koran Pikiran Rakyat, Bandung, misalnya, dalam terbitan edisi Selasa (12/6) menuliskan: Menurut Guru kelas VI SD Cempaka Arum, Basin, pada bab 9 (Buku Ada Duka di Wibeng—pen) berjudul Asal Mau Sama Mau
ada pemaparan cerita yang sangat vulgar. Misalnya, disebutkan bagaimana
berhubungan badan tetapi tidak sampai hamil dan terkena penyakit. Hal
itu sangat tidak pantas dibaca anak usia SD karena mereka dapat
menyalahartikan.
jika politik adalah sesuatu yang abu-abu
yang menjadi senjata para penguasa
yang menjadi sindikat pengejar harta dunia
maka aku bukanlah itu
Namun jika politik adalah pembelaan & perjuangan
yang membangunkan keberanian retorika
dan lantang meneriakkan keadilan
maka aku adalah politikus itu
Jika demokrasi adalah belenggu penjajahan
diramaikan oleh tangan-tangan gila jabatan
disetir untuk mengubur kepribadian anak bangsa
maka itu bukan tempatnya
Namun jika demokrasi adalah sebuah peluru pembebas
yang pengusungnya adalah teladan sejati
dan ideologinya menembus keangkuhan parlemen
maka itu adalah kendaraannya..
Tampilkan postingan dengan label Yeni Mulati (Afifah Afra). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yeni Mulati (Afifah Afra). Tampilkan semua postingan
Jumat, 15 Juni 2012
Langganan:
Postingan (Atom)
