Matahari masih malu-malu. Bumi masih basah oleh jejak embun sisa tadi malam. Seorang laki-laki dengan surban dan jubah tergopoh-gopoh keluar dari surau. Yang ditujunya sebuah rumah gadang berlantai dua. Semakin dekat rumah itu, semakin jelas suara tangisan bayi membelah keheningan dan kegelapan malam yang masih enggan beranjak.
Muhammad Jamil, laki-laki itu, akhirnya sampai di sebuah kamar kecil nan sederhana. Ada ranjang besi tergeletak disana. Seorang wanita cantik, Siti Saleha namanya, dengan peluh masih mengalir menunggunya dengan senyuman bahagia dan seorang bayi laki-laki ditimangannya. Muhammad Jamil mengecup mesra dikeningnya, dan mengambil alih bayi dari tangan Siti Saleha.
Dipandanginya bayi mungil itu dengan takzim. Tak sedetikpun matanya berkedip. Engkau seperti aku. Kau benar-benar aku. Laki-laki itu berdesis. Mulutnya kemudian berkumat-kamit, menyenandungkan doa dan Shalawat Nabi dalam hati.
