jika politik adalah sesuatu yang abu-abu
yang menjadi senjata para penguasa
yang menjadi sindikat pengejar harta dunia
maka aku bukanlah itu
Namun jika politik adalah pembelaan & perjuangan
yang membangunkan keberanian retorika
dan lantang meneriakkan keadilan
maka aku adalah politikus itu

Jika demokrasi adalah belenggu penjajahan
diramaikan oleh tangan-tangan gila jabatan
disetir untuk mengubur kepribadian anak bangsa
maka itu bukan tempatnya
Namun jika demokrasi adalah sebuah peluru pembebas
yang pengusungnya adalah teladan sejati
dan ideologinya menembus keangkuhan parlemen
maka itu adalah kendaraannya..

Tampilkan postingan dengan label Peringatan Kemerdekaan RI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Peringatan Kemerdekaan RI. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Agustus 2010

Selamat Ulang Tahun Bung Hatta! (Bahan Refleksi Menjelang HUT Proklamasi)

Subuh dini hari, Kampung Aur Tajungkang, Bukittinggi, 12 Agustus 1902

Matahari masih malu-malu. Bumi masih basah oleh jejak embun sisa tadi malam. Seorang laki-laki dengan surban dan jubah tergopoh-gopoh keluar dari surau. Yang ditujunya sebuah rumah gadang berlantai dua. Semakin dekat rumah itu, semakin jelas suara tangisan bayi membelah keheningan dan kegelapan malam yang masih enggan beranjak.

Muhammad Jamil, laki-laki itu, akhirnya sampai di sebuah kamar kecil nan sederhana. Ada ranjang besi tergeletak disana. Seorang wanita cantik, Siti Saleha namanya, dengan peluh masih mengalir menunggunya dengan senyuman bahagia dan seorang bayi laki-laki ditimangannya. Muhammad Jamil mengecup mesra dikeningnya, dan mengambil alih bayi dari tangan Siti Saleha.

Dipandanginya bayi mungil itu dengan takzim. Tak sedetikpun matanya berkedip. Engkau seperti aku. Kau benar-benar aku. Laki-laki itu berdesis. Mulutnya kemudian berkumat-kamit, menyenandungkan doa dan Shalawat Nabi dalam hati.